Belakangan ini, publik dihebohkan dengan sebuah narasi yang hampir terdengar seperti lelucon absurd: “Gubernur Kalbar dikejar anjing gila”. Di media sosial, kalimat itu sempat bergulir bak meme—lucu, menggelitik, bahkan nyaris terasa seperti sindiran politik yang puitis.
Karena bagi ribuan warga Kalimantan Barat, dikejar anjing gila bukanlah humor. Itu adalah teror malam hari, luka menganga di tangan anak-anak, dan nyawa yang melayang sia-sia.
Data terbaru yang terverifikasi berbicara lain. Update epidemiologi hingga September 2025 menunjukkan bahwa wabah Rabies di Bumi Khatulistiwa ini bukan sekadar isapan jempol, melainkan kegawatdaruratan yang senyap.
Mari kita bedah fakta-fakta dingin di balik gemparnya “kejar-kejaran” tersebut.
1. Angka Gigitan: Bukan Lagi “Insiden”, tapi “Epidemi”
Bayangkan, sepanjang tahun 2025 (periode Januari-September), Dinas Kesehatan Kalbar mencatat ada 6.961 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR). Itu rata-rata hampir 25 orang digigit setiap harinya!
Jika dirinci lebih spesifik, di Kabupaten Bengkayang saja hingga Juli 2025, ditemukan 544 kasus gigitan yang didominasi oleh anjing.
Angka paling mencengangkan datang dari total kasus GHPR di seluruh Kalbar sepanjang tahun 2025 yang mencapai 1.147 kasus (catatan dari dinas terkait), dengan 32% di antaranya menimpa anak-anak di bawah usia 10 tahun.
Bayangkan anak-anak usia balita dan SD—yang secara naluri ingin membelai binatang—justru menjadi incaran paling empuk bagi virus mematikan ini.
2. Anjing Sebagai “Kendaraan Maut”
Kenapa kasusnya tak kunjung surut? Karena “musuh” kita sangat mobile.
Data menyebutkan bahwa anjing adalah kontributor utama, menyumbang 97% dari total kasus gigitan. Populasi anjing di Kalbar tercatat sangat masif: 162.544 ekor. Jumlah ini belum termasuk kucing (49 ribu ekor) dan kera.
Yang mengerikan adalah masih banyak anjing-anjing ini yang tidak divaksin. Data vaksinasi hewan hingga September 2025 baru mencapai sekitar 7.031 ekor. Jika dibandingkan dengan populasinya, itu ibarat “menutup atap bocor dengan kain perca” di tengah hujan lebat.
3. Kematian yang Sebenarnya Bisa Dicegah
Inilah fakta paling pilu. Rabies memiliki tingkat kematian 100% jika gejala sudah muncul. Di Kalbar, hingga September 2025, tercatat 12 orang meninggal dunia akibat Rabies.
Satu contoh konkret terjadi di Kabupaten Bengkayang. Seorang warga meninggal karena rabies setelah digigit anjing. Tragisnya, korban tidak pergi ke fasilitas kesehatan karena menganggap gigitan anjing adalah hal biasa. Padahal, “keterlambatan” hanya beberapa jam saja seringkali membedakan antara hidup dan mati.
Kejadian serupa juga mengguncang Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau di awal Februari 2026. Dua warga, seorang ibu (44 tahun) dan seorang anak (12 tahun), digigit anjing agresif di permukiman. Anjing tersebut menunjukkan ciri klasik rabies: agresif dan menyerang tanpa sebab.
4. Ironi “Dikejar” vs “Mengurus”
Kembali ke judul besar kita. Sindiran tentang Gubernur yang “dikejar” sebenarnya adalah metafora sosial yang sangat kuat. Ini menggambarkan bahwa virus ini sudah berada di ambang pintu rumah kita, bahkan mungkin “mengejar” para pemimpin dan aparatur.
Namun ironinya, respons penanganan masih terseok-seok. Anggaran untuk pengendalian populasi dan vaksinasi masih minim. Kesadaran masyarakat untuk membawa hewan peliharaannya ke puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) juga masih rendah.
Jika Gubernur atau pejabat benar-benar “dikejar” anjing gila di jalan, apakah sistem kesehatan kita sudah siap memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) yang cukup? Jawabannya: Masih perjuangan.
5. Pertolongan Pertama yang Sederhana
Menghadapi “kegilaan” ini, sebenarnya kita tidak butuh obat ajaib. Rabies bisa 100% dicegah dengan tindakan cepat. Jika Anda atau siapa pun digigit anjing, kucing, atau kera di Kalbar saat ini:
1. Cuci luka dengan sabun di air mengalir selama 15 menit (Ini paling penting untuk “mematikan” virus di permukaan).
2. Segera ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR). Jangan tunggu lukanya sembuh.
3. Laporkan hewan tersebut ke petugas kesehatan hewan.
Jadi, ketika kita mendengar guyonan “dikejar anjing gila” untuk para pemimpin, ingatlah bahwa itu adalah cermin pahit. Di balik tawa, ada ribuan laporan gigitan, ada puluhan petugas kesehatan yang kewalahan, ada keluarga yang kehilangan orang tua atau anak semata wayang karena satu gigitan kecil yang diabaikan.
Wabah di Kalbar masih belum terkendali. Dan itu bukan urusan Gubernur semata; itu urusan kita semua.
Hentikan penyebaran dengan vaksinasi hewan peliharaanmu. Karena jika tidak, kita semua sedang “dikejar kematian”.
Sharing Ide: Hery Arianto
(Pemerhati Sosial & Media)










