PONTIANAK, AKCAYA – Kemarau panjang yang melanda Kalimantan Barat (Kalbar) mendorong berbagai pihak melakukan beragam ikhtiar untuk menghadapi kekeringan sekaligus menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tak hanya melalui langkah teknis, ikhtiar juga dilakukan melalui pendekatan spiritual. Sivitas akademika Universitas PGRI Pontianak bersama Kepolisian Sektor Pontianak Kota dan Politeknik Aisyiyah Pontianak menggelar salat istisqa, Jumat (11/9/2026).
Salat meminta hujan tersebut dilaksanakan di halaman Universitas PGRI Pontianak dan berlangsung dengan khusyuk. Para jamaah bersama-sama memanjatkan doa agar Allah SWT segera menurunkan hujan di wilayah Kalimantan Barat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto. Dalam kesempatan itu, Endang juga menyampaikan khutbah salat istisqa di hadapan para jamaah.
Wakil Rektor Universitas PGRI Pontianak, Suherdiyanto, mengatakan salat istisqa merupakan bentuk ikhtiar bersama di tengah kemarau panjang yang mulai berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat di Kalbar.
Menurutnya, kondisi kemarau dan ancaman karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Upaya teknis yang dilakukan pemerintah dan petugas di lapangan perlu dibarengi kesadaran serta kepedulian masyarakat.
“Kita menyadari bahwa menghadapi kondisi kemarau panjang dan ancaman karhutla membutuhkan ikhtiar bersama. Selain berbagai upaya teknis yang dilakukan pemerintah dan pihak terkait, hari ini kita juga melakukan ikhtiar spiritual melalui salat istisqa, memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan di Kalimantan Barat,” ujar Suherdiyanto.
Ia berharap hujan segera turun sehingga dapat membantu mengatasi kekeringan sekaligus menekan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, hujan juga diharapkan mampu membantu memperbaiki kualitas lingkungan yang terdampak asap akibat karhutla.
“Kita berharap hujan segera turun, membawa manfaat bagi masyarakat, membantu mengatasi kekeringan dan bersama-sama mengurangi risiko karhutla. Yang tidak kalah penting, momentum ini juga mengingatkan kita untuk terus menjaga lingkungan dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran,” katanya.
Suherdiyanto menambahkan, keterlibatan sivitas akademika dalam salat istisqa menjadi bentuk kepedulian perguruan tinggi terhadap kondisi yang tengah dihadapi masyarakat Kalbar.
Ia menilai perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat berperan dalam membangun kepedulian sosial serta menjaga lingkungan.
Karena itu, salat istisqa diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi dampak kemarau panjang.
Di tengah kondisi cuaca yang kering dan meningkatnya risiko karhutla, hujan menjadi salah satu harapan masyarakat untuk membasahi lahan sekaligus mengurangi potensi munculnya titik api.
Ikhtiar spiritual tersebut pun berjalan beriringan dengan berbagai langkah pencegahan dan penanganan karhutla yang dilakukan pemerintah, aparat keamanan, relawan hingga masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas PGRI Pontianak bersama Polsek Pontianak Kota dan Politeknik Aisyiyah Pontianak berharap hujan segera mengguyur Kalimantan Barat.
Bersamaan dengan itu, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.











