Langit Kalimantan Barat pada penghujung 1941 terbelah oleh raungan 24 pesawat tempur Dai Nippon. Lapangan Terbang Singkawang II di Sanggau Ledo hancur dibombardir, memaksa Belanda menarik seluruh kekuatan udaranya ke Palembang.

Pada 22 Januari 1942, ribuan tentara Jepang mendarat di Tanjung Kodok, Pemangkat, nyaris tanpa perlawanan berarti. Pontianak jatuh, dan sejak itu sistem pemerintahan dikendalikan militer Jepang di Kalimantan Barat.

Delapan dekade lebih berlalu. Pada September 2026, kapal angkut Pasukan Bela Diri Maritim Jepang, JS Kunisaki, merapat di Terminal Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah.

Advertisement

Kali ini bukan membawa bom dan tentara penakluk, melainkan tiga helikopter angkut berat CH-47 Chinook dan misi kemanusiaan. Jepang kembali datang. Tapi sungguh, kali ini berbeda.

Pendudukan Jepang di Kalimantan Barat meninggalkan luka yang tak mudah sembuh. Pada masa 1941 hingga 1945, banyak tokoh Kalimantan Barat ditangkap, dibawa, dan dieksekusi.

Peristiwa Mandor menjadi salah satu tragedi paling kelam, ketika ribuan orang menjadi korban kekejaman pendudukan. Hingga kini, Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat menjadi momentum tahunan untuk mengenang para pahlawan dan korban tragedi tersebut.

Duka itu adalah bagian dari identitas kolektif warga Kalbar, sebuah memori yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Memasuki 2026, Kalimantan Barat menghadapi musuh yang tak kalah ganas. Karhutla melahap 11.258,61 hektare lahan sejak Januari hingga Agustus 2025, dengan 4.822,21 hektare di antaranya adalah lahan gambut yang sulit dipadamkan.

Kabupaten Kayong Utara menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Kabut Asap. Kubu Raya memperpanjang status tanggap darurat kemarau hingga pertengahan Oktober 2026.

Sungai Kapuas, urat nadi kehidupan masyarakat, menyusut drastis hingga berubah bak gurun pasir. Krisis air bersih melanda warga. Di Desa Serunai, Sambas, sawah-sawah mengering dan merekah, memaksa petani menunda masa tanam padi.

El Nino memperparah segalanya, dengan BMKG memprediksi kemarau berlangsung hingga awal November 2026. Warga Kalbar, sekali lagi, harus bertahan hidup di tengah derita.

Empati yang Tiba Tepat pada Waktunya

Di tengah kepungan asap dan kekeringan, sebuah kapal berbendera Jepang muncul di cakrawala Pelabuhan Kijing.

JS Kunisaki membawa tiga helikopter CH-47 Chinook milik Pasukan Bela Diri Darat Jepang — operasi pemadaman kebakaran pertama yang dilakukan Pasukan Bela Diri Jepang di luar negeri. Sekitar 180 personel dikerahkan, terdiri dari kru operasi dan unsur pendukung.

Setiap helikopter Chinook mampu mengangkut sekitar lima ton air dalam satu kali penerbangan, menjangkau titik-titik kebakaran di lahan gambut yang tak terjangkau tim darat. Operasi water bombing dijadwalkan berlangsung pada 12 hingga 19 September 2026, dengan Pontianak sebagai pangkalan utama.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menyampaikan apresiasi mendalam. Ia menyebut bantuan ini sebagai kepedulian Pemerintah Jepang terhadap penanganan bencana karhutla, khususnya di Kalimantan Barat.

Bantuan tersebut merupakan implementasi kerja sama pertahanan Indonesia–Jepang yang ditandatangani pada 4 Mei 2026, mencakup skema Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Letjen TNI Tri Budi Utomo, menegaskan bahwa Indonesia tetap memimpin operasi, dan bantuan Jepang diintegrasikan dengan seluruh kemampuan nasional.

Ada yang menarik dari cara Jepang datang kali ini. Mereka tidak datang sebagai penakluk yang mengubah tatanan. Mereka datang sebagai pelengkap.

“Bantuan Jepang hanya akan melengkapi kemampuan pemadaman udara yang sudah dimiliki Indonesia,” tegas Tri Budi Utomo.

TNI mengawasi operasional helikopter, termasuk keamanan, izin penerbangan, dan penempatan petugas keselamatan. Ini adalah wajah kerja sama yang setara, bukan dominasi.

Duka Lama, Harapan Baru

Mungkin tidak ada yang bisa sepenuhnya menghapus duka lama. Peristiwa Mandor, eksekusi para tokoh, dan penderitaan rakyat Kalbar di bawah pendudukan adalah luka sejarah yang harus terus dikenang

Namun, kedatangan Jepang pada September 2026 menawarkan sesuatu yang berbeda: sebuah kemungkinan bahwa hubungan antar bangsa bisa bertransformasi. Dari penjajah menjadi sahabat. Dari senjata menjadi sarana penyelamatan. Dari air mata menjadi air yang menyirami harapan.

Ketika tiga helikopter Chinook itu lepas landas dari Pontianak, membawa lima ton air menuju titik-titik api yang membara, mereka membawa lebih dari sekadar air.

Mereka membawa pesan bahwa di dunia yang semakin panas dan kering, empati masih punya tempat. Bahwa masa lalu yang kelam tidak selamanya menentukan masa depan. Dan bahwa Kalimantan Barat, tanah yang pernah dijajah dan kini dilanda bencana, tidak pernah benar-benar sendirian.

Semoga duka lama terobati. Semoga empati yang datang tepat pada waktunya menjadi awal dari babak baru yang lebih hangat — bukan hanya bagi Kalbar, tetapi bagi cara kita memandang satu sama lain sebagai manusia.

Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *