PONTIANAK, AKCAYA – Pembelajaran matematika di sekolah dasar dinilai perlu mengalami perubahan paradigma. Matematika tidak lagi cukup diajarkan sebatas kemampuan berhitung, menghafal rumus, maupun mengikuti prosedur penyelesaian soal.
Pembelajaran matematika perlu diarahkan untuk membangun kemampuan memahami konsep, bernalar, memecahkan masalah, serta menggunakan pengetahuan dalam berbagai situasi kehidupan nyata.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Transformasi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar: Inovasi, Literasi Numerasi, dan Penguatan Perspektif Multikultural” yang digelar Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Pontianak, Kamis (10/9/2026).
Seminar yang digelar secara daring melalui Zoom dan kanal YouTube tersebut diikuti 396 peserta dari 19 provinsi, 59 kabupaten/kota, serta 63 institusi di Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi akademik antara Program Studi PGSD Universitas PGRI Pontianak, Universitas Hamzanwadi, dan Universitas Bengkulu.
Dalam seminar tersebut, pembelajaran matematika didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan peserta didik memperoleh jawaban. Lebih dari itu, peserta didik perlu diberikan ruang untuk menjelaskan proses berpikir, memilih strategi penyelesaian, serta menghubungkan konsep matematika dengan persoalan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membuat literasi numerasi menjadi lebih fungsional. Kemampuan numerasi tidak hanya berkaitan dengan operasi hitung, tetapi juga kemampuan menggunakan pengetahuan matematika untuk memahami dan mengambil keputusan dalam berbagai konteks.
Tiga narasumber kemudian mengelaborasi gagasan tersebut dari perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.
Hodiyanto, M.Pd. dari Universitas PGRI Pontianak membawakan materi “Transformasi dan Inovasi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar di Era Digital”.
Ia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran matematika. Teknologi tidak semata-mata ditempatkan sebagai alat bantu, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar yang aktif, adaptif, dan interaktif sesuai karakteristik peserta didik saat ini.
Perspektif berikutnya disampaikan Iwan Usma Wardani dari Universitas Hamzanwadi melalui materi “Reorientasi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar untuk Penguatan Literasi Numerasi”.
Ia menyoroti pentingnya menghadirkan pembelajaran matematika yang bermakna. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk mengetahui jawaban, tetapi juga memahami alasan, proses, serta konteks penggunaan konsep matematika dalam kehidupan.
Sementara itu, Bambang Parmadi dari Universitas Bengkulu membahas “Pengembangan Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar Berbasis Perspektif Multikultural”.
Menurut perspektif ini, keberagaman latar belakang budaya dan konteks sosial peserta didik dapat menjadi kekuatan dalam merancang pembelajaran yang lebih inklusif dan relevan.
Ketiga perspektif tersebut bermuara pada pentingnya transformasi pembelajaran matematika di sekolah dasar.
Inovasi digital, penguatan literasi numerasi yang bermakna, serta pemahaman terhadap keberagaman peserta didik menjadi tiga aspek yang saling berkaitan dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Melalui seminar tersebut, Program Studi PGSD Universitas PGRI Pontianak berharap berbagai gagasan yang disampaikan tidak berhenti sebagai wacana akademik.
Gagasan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran di ruang kelas sehingga matematika tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang menakutkan atau sekadar deretan angka dan rumus.
Sebaliknya, matematika diharapkan dapat menjadi sarana membangun kemampuan berpikir peserta didik sekaligus membekali mereka untuk menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan nyata.











