Di balik hiruk-pikuk anak-anak kota yang berteriak “Let it rip!” sambil menarik pelatuk pelontar plastik berwarna-warni, tersembunyi sebuah kisah panjang tentang peradaban yang berputar.

Gasing—mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali hingga kini—telah melampaui fungsi awalnya sebagai hiburan sederhana, bertransformasi menjadi industri global yang digandrungi lebih dari 55 negara.

Inilah kisah tentang warisan budaya yang tak lekang oleh waktu, melainkan terus berputar mencari bentuk baru.

Falsafah di Balik Putaran: Gasing sebagai Cermin Nusantara

Gasing bukan sekadar mainan. Di tengah pusarannya yang stabil pada poros, ia menyimpan metafora tentang keseimbangan hidup, harmoni dengan alam, dan bahkan relasi spiritual dengan Sang Pencipta.

Di Aceh, gasing konon menjadi alat penentu calon penerus Sultan Iskandar Muda. Di tanah Melayu, ia menjadi bagian sakral dalam perayaan musim tanam dan panen, sekaligus media peramalan masa depan. Sementara di Sumatera Barat, gasing dipercaya sebagai senjata magis.

Kekayaan makna ini tercermin dari keberagaman nama yang melekat di setiap wilayah. Masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta menyebutnya gangsing atau panggal.

Di Lampung, ia bergelar pukang. Warga Kalimantan Timur memanggilnya begasing, sementara di Maluku ia dikenal sebagai apiong. Nusa Tenggara Barat mengenalnya dengan maggasing, dan di Sulawesi Utara, tepatnya Bolaang Mongondow, gasing bernama paki.

Masyarakat Jawa Timur menyebutnya kekehan, sedangkan di Yogyakarta, ia memiliki dua nama berbeda: gangsingan jika terbuat dari bambu, dan pathon jika dari kayu.

Keanekaragaman ini bukan sekadar perbedaan pelafalan, melainkan bukti betapa dalamnya akar budaya gasing membenam dalam setiap lapisan masyarakat Nusantara.

Dari Kayu Ulin hingga Logam: Evolusi Material dan Teknik

Di tangan Norsyamdani—pegiat gasing asli Kutai yang berjuang nyaris sendirian melestarikan warisan leluhurnya—sebuah bilah kayu ulin atau benggeris (kayu endemik Kalimantan) berputar di bawah mesin bubut. Hanya butuh sekitar sepuluh menit bagi pria yang akrab disapa Dani ini untuk melahirkan sebuah gasing tradisional. Namun di balik kesederhanaan prosesnya, terdapat kerumitan filosofi.

Di Tanah Kutai setidaknya terdapat enam jenis gasing dengan fungsi berbeda: buah pelele untuk adu tumbuk, tungkul yang agak tinggi dan menjadi favorit kerajaan, pendada dengan dua kepala yang hanya ada di Kutai, serta buong, perangat, dan bengor yang masing-masing memiliki karakter unik.

Sementara di Kalimantan Utara, suku Dayak Sa’ban masih setia menggunakan kayu keras atau bahkan tanduk binatang, dengan tali dari kulit kayu atau daun fak yang dianyam kuat.

Perbedaan teknik memutar juga mencerminkan kearifan lokal. Gasing tradisional menggunakan tali sepanjang lengan pemain yang dililitkan dari pangkal hingga ujung kaki gasing, membutuhkan keahlian dan kekuatan lengan untuk melemparkannya dengan presisi.

Sebaliknya, Beyblade menggunakan launcher bergerigi sepanjang 20-25 cm yang membuat permainan menjadi lebih mudah diakses oleh anak-anak tanpa perlu latihan intensif.

Transformasi paling dramatis dari gasing tradisional menjadi Beyblade tidak hanya terjadi pada bentuk, tetapi juga pada skala ekonominya.

TAKARA (kini TAKARA TOMY) meluncurkan Beyblade pertama kali pada Juli 1999, mengemas ulang prinsip dasar gasing dengan material plastik dan logam modern.

Kesuksesan tidak datang instan. Awalnya, popularitas Beyblade terbatas karena konstruksinya yang terlalu sederhana. Namun segalanya berubah ketika serial anime Bakuten Shoot Beyblade mulai ditayangkan pada 2001.

Ledakan popularitas yang terjadi begitu dahsyat—toys di Jepang habis di mana-mana, bahkan toko serba ada yang biasanya tidak menjual mainan pun terpaksa menyediakan Beyblade di rak mereka.

Pada puncak kejayaannya di tahun yang sama, Beyblade terjual lebih dari 15 juta unit hanya dalam setengah tahun.

Sejarah kemudian mencatat tiga era kejayaan Beyblade. Generasi pertama (1999-2004) berhasil menjual sekitar 160 juta unit di seluruh dunia dengan nilai penjualan melampaui 165 miliar yen.

Setelah vakum empat tahun, generasi kedua, Metal Fight Beyblade (2008-2012), melesat lebih tinggi dengan penjualan mencapai 190 juta unit (nilai lebih dari 200 miliar yen) dan meraih penghargaan Japan Toy Award.

Generasi ketiga, Beyblade Burst (2015-sekarang), membawa inovasi radikal dengan mekanisme burst yang memungkinkan gasing “meledak” saat terkena benturan keras, serta teknologi NFC yang memungkinkan setiap Beyblade menyimpan data digital pemiliknya.

Bahkan, kompetisi global rutin digelar, termasuk Kejuaraan Dunia 2012 di Toronto yang mempertemukan 25 negara.

Fenomena menarik terjadi ketika dua dunia—tradisional dan modern—saling berhadapan. Alih-alih saling meniadakan, keduanya justru menemukan titik temu yang dinamis.

Di Universitas Negeri Surabaya, misalnya, gasing tradisional digunakan sebagai media pembelajaran energi kinetik. Penelitian Dwi Puri Rahayu membuktikan bahwa penggunaan gasing secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan minat belajar siswa sekolah dasar.

Di tengah krisis pelestarian—di mana dari sekitar 2.600 permainan tradisional Indonesia, banyak yang terancam punah —tokoh seperti Agus MD dari Bangka Belitung berjuang memperkenalkan gasing tradisional hingga ke Prancis, Amerika, dan Lithuania.

Sementara Dani di Kutai membentuk Komunitas Keroan Begasing Kutai yang kini tersebar di 30 wilayah.

Bahkan Beyblade sendiri, yang lahir dari modernisasi gasing, mulai menghadapi tantangan baru dari gempuran game online dan gawai.

Ironisnya, putaran sejarah terus berulang: seperti gasing tradisional yang pernah tergeser oleh Beyblade, Beyblade kini harus berbagi ruang dengan Free Fire, Mobile Legends, dan PUBG Mobile.

Gasing yang Tak Pernah Berhenti Berputar

Dari tangan mungil anak Kutai yang memegang gasing kayu ulin peninggalan Kerajaan Mulawarman, hingga jari-jari lincah anak metropolitan yang menyentak pelatuk launcher Beyblade-nya—hakikat permainan ini tak berubah.

Gasing tetaplah tentang keseimbangan, ketangkasan, dan kebersamaan. Ia mengajarkan bahwa untuk bertahan, sebuah tradisi harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Seperti sabda Johnson, Ketua Lembaga Adat Dayak Sa’ban: “Lewat permainan seperti ini, anak-anak belajar sportivitas, kesabaran, dan menghargai lawan. Itu yang membuat tradisi ini tetap dijaga”.

Maka, ketika sebuah Beyblade logam beradu gesit dalam stadium plastik dan seorang anak meneriakkan “Three, two, one, let it rip!”, sebenarnya ia sedang meneruskan sebuah waraban yang telah berputar selama berabad-abad.

Gasing—dalam bentuknya yang apa pun—tak pernah benar-benar asing bagi budaya kita. Ia hanya terus bertransformasi, setia berputar mengikuti zaman, menemani setiap generasi belajar tentang keseimbangan kehidupan.

Sharing Ide: Hery Arianto
(Pemerhati Sosial & Media)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *