Di sudut kota tua Fez, Maroko, berdirilah sebuah bangunan yang menyimpan lebih dari seribu tahun sejarah peradaban manusia. Temboknya yang kokoh telah menyaksikan pergantian dinasti, lahirnya ratusan ribu pemikir, dan perjalanan intelektual yang membentuk dunia sebagaimana kita kenal kini.
Bangunan itu adalah Universitas Al-Qarawiyyin—dan di balik kemegahannya, tersimpan kisah tentang seorang perempuan yang menolak membiarkan kekayaannya berakhir sebagai warisan yang membusuk.
Tahun 800 Masehi di Kairouan, Tunisia—sebuah kota yang pada masa itu menjadi pusat keilmuan dan peradaban Dinasti Aghlabid. Di sanalah Fatimah binti Muhammad al-Fihri al-Qurashiyah dilahirkan.
Ia bukan sekadar anak saudagar kaya; ia adalah pewaris tradisi keilmuan yang ditanamkan sang ayah sejak dini. Muhammad al-Fihri, sang ayah, memastikan bahwa kedua putrinya—Fatimah dan Mariam—mempelajari fikih Islam dan hadis secara mendalam. Ini adalah pengajaran penting: bahwa peradaban tidak dibangun oleh kekayaan semata, tetapi oleh keberanian untuk mendidik perempuan.
Ketika pemberontakan melanda Kairouan sekitar awal abad ke-9, sekitar 2.000 keluarga memilih hijrah ke Fez, Maroko—dan keluarga al-Fihri adalah salah satunya.
Di kota baru ini, sang ayah terus mengembangkan usaha dagangnya hingga sukses besar. Namun takdir berkata lain: satu per satu, ayah, suami, dan saudara laki-laki Fatimah wafat, meninggalkan ia dan Mariam sebagai pewaris tunggal kekayaan yang fantastis.
Pada titik inilah kebesaran Fatimah mulai terukir. Ia dan Mariam dihadapkan pada pilihan sederhana: menikmati harta untuk kesenangan pribadi, atau mengubahnya menjadi sesuatu yang melampaui kematian.
Mariam memutuskan mendirikan Masjid Al-Andalus di Fez. Fatimah, dengan tekad yang tak kalah besar, memulai proyek monumental: Masjid Al-Qarawiyyin.
Ia membeli tanah wakaf dari seorang pria suku Hawara, kemudian memulai pembangunan pada awal Ramadan tahun 245 Hijriah (859 Masehi). Di bulan yang paling suci bagi umat Islam, Fatimah meletakkan batu pertama sebuah bangunan yang kelak akan mengguncang dunia.
Apa yang membuatnya istimewa? Bukan sekadar arsitekturnya yang megah. Bukan pula ukurannya yang luas dengan aula salat beratap yang terdiri dari empat baris tiang sepanjang 30 meter. Yang luar biasa adalah prinsip yang menjiwai setiap bata yang disusun.
Para sejarawan mencatat: selama delapan belas tahun proses pembangunan, Fatimah al-Fihri berpuasa setiap hari.
Ia mengawasi langsung konstruksi dengan ketelitian yang mencengangkan. Ketika material bangunan dibutuhkan, ia bersikeras menggali tanah sendiri—mengambil pasir kuning, plester, dan batu dari lahannya—dengan satu prinsip tegas: “Agar tidak mencuri dari orang lain”.
Inilah yang membedakan seorang arsitek peradaban dari sekadar pembangun bangunan. Fatimah tidak sekadar membangun masjid; ia mendirikan sebuah monumen integritas.
Fatimah al-Fihri tidak pernah berhenti di masjid. Ia memiliki visi yang melampaui zamannya. Setelah bangunan utama selesai, ia menyumbangkan perpustakaan pribadi keluarganya—salah satu yang termegah di Afrika Utara pada masa itu—untuk kepentingan publik. Di sekeliling masjid, ia mendirikan madrasah (sekolah) yang menjadi ruang baginya berbagi ilmu.
Secara perlahan namun pasti, aktivitas keilmuan di Al-Qarawiyyin berkembang dari halakah tradisional (seorang guru duduk menerangkan materi dalam lingkaran murid) menjadi institusi pendidikan terlembagakan yang terstruktur.
Dan di sinilah letak terobosan revolusioner Fatimah: ia menciptakan sistem. Universitas Al-Qarawiyyin menjadi institusi pertama yang mengenalkan konsep “fellow” (rekan sejawat), “chair” (kursi keilmuan), “reading” (pembacaan mata kuliah), serta ujian lisan, kuliah perdana, dan bahkan—toga wisuda.
Ya, toga persegi panjang berwarna hitam yang kita kenal sebagai simbol kelulusan hingga hari ini, diyakini dirancang oleh Fatimah al-Fihri. Warna hitam dan bentuk kotak itu memiliki filosofi mendalam: melambangkan Ka’bah, sebagai pengingat bahwa setiap pencari ilmu hendaknya menautkan hatinya pada kiblat—baik secara harfiah maupun metaforis.
Apa yang diajarkan di universitas pertama di dunia ini? Pikiran jernih Fatimah tidak membatasi pendidikan pada agama semata. Al-Qarawiyyin menjadi pusat studi yang mencakup:
· Ilmu keislaman (fikih, tafsir, hadis)
· Astronomi—yang kelak membantu navigasi dan penanggalan
· Matematika—termasuk penyebaran angka Arab ke Eropa
· Kedokteran—yang menjadi rujukan para dokter Eropa abad pertengahan
· Kimia—cikal bakal sains modern
· Tata bahasa, geografi, dan sejarah
Kurikulum ini tidak hanya melahirkan ulama, tetapi juga filsuf, ilmuwan, dan pemikir lintas iman. Universitas ini terbuka bagi Muslim, Kristen, dan Yahudi—sebuah praksis toleransi yang pada masa itu nyaris tak terdengar.
Alumni-alumninya? Dengarlah nama-nama yang mengguncang dunia: Ibnu Khaldun (bapak sosiologi modern), Ibnu Rusyd (filsuf yang komentarnya atas Aristoteles diterjemahkan ke bahasa Latin dan menginspirasi Eropa), serta Maimonides (filsuf Yahudi terbesar abad pertengahan). Paus Sylvester II—yang membawa angka Arab ke Eropa—juga dilaporkan belajar di Al-Qarawiyyin.
Pengakuan Dunia dan Warisan yang Tak Terbantahkan
Fakta sejarah berbicara dengan gamblang. Universitas Al-Qarawiyyin berdiri pada 859 Masehi—setidaknya 100 tahun sebelum Universitas Al-Azhar di Mesir (970 M), 200 tahun sebelum Universitas Bologna di Italia (1088 M), dan lebih dari 200 tahun sebelum Universitas Oxford di Inggris (1096 M).
UNESCO dan Guinness World Records secara resmi mengakui Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi. Dan siapa pendirinya? Seorang perempuan bernama Fatimah al-Fihri.
Ini bukan sekadar rekor. Ini adalah bantahan telak terhadap narasi yang selama ini keliru: bahwa perempuan tak mampu menjadi pemimpin peradaban.
Apa yang mendorong Fatimah melakukan semua ini? Jawabannya terletak pada pemahamannya yang mendalam tentang konsep sedekah jariyah.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Ketika seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
Fatimah al-Fihri meyakini bahwa harta akan habis, jabatan akan berakhir, dan nyawa pun akan hilang—yang tersisa hanyalah amal yang mengalir terus. Maka ia tidak membangun rumah megah untuk dirinya. Ia tidak membeli permadani Persia atau perhiasan dari emas. Ia membangun sebuah universitas.
Hingga saat ini, setiap kali seorang mahasiswa duduk di bangku kuliah, setiap kali seorang profesor menyampaikan kuliah, setiap kali sebuah karya ilmiah lahir dari alumni Al-Qarawiyyin—maka pahala mengalir kepada Fatimah al-Fihri. Sudah lebih dari 1.160 tahun.
Ia menjadi bukti bahwa strategi keabadian yang paling cerdas bukanlah meninggalkan monumen bagi diri sendiri, melainkan institusi yang melahirkan peradaban bagi umat manusia.
Mengapa Namanya Hampir Terlupakan?
Ada ironi pahit dalam sejarah dunia. Selama berabad-abad, narasi arus utama tentang universitas pertama di dunia sering dikaitkan dengan Bologna, Oxford, atau Paris. Nama Fatimah al-Fihri nyaris tenggelam dalam pusaran sejarah yang didominasi perspektif Barat dan laki-laki.
Sejarawan George Makdisi dalam bukunya The Rise of Colleges mengakui bahwa banyak praktik universitas modern—mulai dari “fellow”, “chair”, ujian lisan, hingga toga wisuda—dapat ditelusuri kembali ke praktik madrasah di dunia Islam. Dan Al-Qarawiyyin adalah madrasah tertua di antara yang tertua.
Fatimah al-Fihri adalah arsitek peradaban yang karyanya masih kita huni hingga detik ini. Ia adalah perempuan yang mengubah warisan menjadi wakaf, masjid menjadi universitas, dan mimpi menjadi sejarah.
Fatimah al-Fihri wafat sekitar tahun 880 Masehi. Selama hidupnya, ia dijuluki “Umm al-Banayn” —Ibu dari para putra. Julukan ini bukan sekadar karena ia memiliki anak kandung, melainkan karena ia membawa ribuan pemuda di bawah “sayapnya” melalui pendidikan.
Ia tidak meninggalkan catatan perang, kemenangan politik, atau istana megah. Ia meninggalkan perpustakaan dengan lebih dari 4.000 manuskrip, termasuk mushaf Al-Qur’an abad ke-9 dan koleksi hadis tertua di dunia. Ia meninggalkan institusi yang hingga kini meluluskan ribuan sarjana setiap tahun.
Di dunia yang masih sibuk memperdebatkan apakah perempuan boleh memimpin, Fatimah al-Fihri sudah membuktikannya lebih dari 12 abad lalu. Ia memimpin bukan dengan pidato atau kekuasaan—ia memimpin dengan membangun.
Ka’bah adalah batu yang menjadi kiblat. Fatimah al-Fihri adalah perempuan yang menginspirasi kita semua untuk bertanya: jika ia bisa membangun peradaban, apa yang bisa kita bangun?
“Fatimah al-Fihri mengajarkan bahwa satu-satunya cara melampaui kematian adalah menciptakan sesuatu yang terus hidup setelah kita tiada. Ia memilih peradaban. Dan kita adalah warisannya.”
Sharing Ide: Hery Arianto
(Pemerhati Sosial & Media)










