PONTIANAK, AKCAYA – Universitas Tanjungpura (Untan) resmi meluncurkan Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Ilmu Farmasi Program Magister Fakultas Kedokteran sebagai langkah strategis memperkuat pelayanan kesehatan dan pengembangan sumber daya manusia di Kalimantan Barat (Kalbar).
Peluncuran program studi tersebut dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Fauzan bersama Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, Harisson, kemarin.
Kegiatan itu turut dihadiri Rektor Universitas Tanjungpura, Garuda Wiko, jajaran Pemerintah Provinsi Kalbar, serta pimpinan rumah sakit di Kalimantan Barat.
Dalam sambutannya, Fauzan menilai kehadiran dua program studi baru tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat layanan kesehatan di daerah, khususnya untuk menjawab persoalan keterbatasan tenaga medis spesialis.
“Ini langkah besar dan strategis untuk daerah. Persoalan kesehatan kita bukan hanya kekurangan dokter, tetapi juga distribusi tenaga medis yang belum merata,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah pusat terus mendorong peningkatan jumlah tenaga kesehatan yang berasal dari daerah sendiri. Menurutnya, dokter yang lahir dan dididik di daerah cenderung lebih siap mengabdi dan bertahan di wilayah asalnya.
“Kalau dokter berasal dari daerah sendiri, pemerintah daerah tidak akan terus disibukkan dengan persoalan perpindahan tenaga kesehatan,” katanya.
Selain itu, Fauzan juga mendorong kolaborasi antarperguruan tinggi di Kalbar melalui pembentukan konsorsium pendidikan tinggi guna memperkuat riset dan pengabdian kepada masyarakat.
“Saya berharap program ini mampu melahirkan tenaga kesehatan yang berkualitas, memperkuat layanan kesehatan daerah, sekaligus menjadi pusat pengembangan riset dan inovasi di Kalbar,” jelasnya.
Sementara itu, Harisson mengatakan pembukaan Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif menjadi jawaban atas keterbatasan tenaga dokter spesialis di Kalimantan Barat, khususnya dokter anestesi.
“Kita semakin menyadari bahwa Kalbar harus bergerak maju dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan spesialis. Kita tidak boleh terus-menerus bergantung pada daerah lain,” ujarnya.
Ia mengungkapkan tantangan pelayanan kesehatan di Kalbar masih cukup besar, terutama terkait distribusi dokter spesialis yang belum merata hingga ke wilayah perbatasan, pesisir, dan pedalaman.
Berdasarkan data profil kesehatan Kalbar per Maret 2026, pemenuhan dokter spesialis anestesi baru mencapai 36,42 persen. Dari kebutuhan ideal sebanyak 115 dokter spesialis anestesi, saat ini baru tersedia 42 orang dokter spesialis anestesi.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif sangat dibutuhkan. Dokter anestesi merupakan garda terdepan keselamatan pasien dalam situasi kritis,” jelas Harisson.
Ia berharap program pendidikan spesialis tersebut mampu melahirkan lebih banyak dokter putra-putri daerah yang memahami kondisi Kalbar dan siap mengabdi di daerahnya sendiri.
“Kita membutuhkan lebih banyak dokter spesialis yang dididik di tanahnya sendiri, memahami kondisi daerahnya sendiri, dan siap mengabdi untuk masyarakatnya sendiri,” katanya.
Tak hanya itu, Harisson juga menilai Program Studi Magister Ilmu Farmasi memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan riset dan inovasi berbasis kekayaan alam Kalbar.
“Kalbar memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Sudah saatnya perguruan tinggi mengambil peran terdepan dalam membangun kemandirian riset, pengembangan obat berbahan alam, serta teknologi farmasi berbasis bukti ilmiah,” ungkapnya.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Kalbar mendukung penuh berbagai terobosan strategis yang dilakukan Untan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan daerah.
“Kami percaya investasi terbaik dalam pembangunan bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi membangun kualitas manusianya. Pendidikan dan kesehatan adalah pondasi utama pembangunan daerah,” tuturnya.










