“Kesombongan adalah selendang-Ku, dan keperkasaan adalah pakaian-Ku. Siapa yang mau menandingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, pasti akan Aku masukkan ke dalam neraka.” (Hadis Qudsi, HR Abu Dawud)
Kalimat itu bukan sekadar ancaman teologis. Ia adalah diagnosis paling tua tentang penyakit yang telah menaklukkan makhluk paling cerdas sekaligus paling rapuh: keangkuhan.
Dosa pertama yang diperbuat makhluk bukanlah pembunuhan, bukan pencurian, melainkan kesombongan. Aktornya adalah Iblis, yang menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena merasa zat api lebih mulia daripada tanah.
Sejak saat itu, keangkuhan menjadi pintu masuk bagi segala kerusakan: iri, dengki, merasa paling benar, hingga menolak kebenaran itu sendiri.
Hari ini, dua puluh lima abad setelah narasi itu dituliskan, keangkuhan belum juga pergi. Ia hanya berganti kostum. Dari jubah iblis menjadi algoritma media sosial, dari takhta raja menjadi dashboard ekonomi, dari debat teologis menjadi perang opini politik
Dan seperti yang akan kita lihat, sensasi keangkuhan itu tidak pernah benar-benar memuaskan. Ia hanya menaklukkan, lalu meninggalkan kehampaan.
Ketika Otak Membohongi Dirinya Sendiri
Psikologi modern memberi nama pada fenomena ini. Gangguan Kepribadian Narsistik (Narcissistic Personality Disorder/NPD) ditandai oleh perasaan superioritas, kebutuhan akan pujian berlebihan, serta kurangnya empati terhadap orang lain.
Tetapi keangkuhan tidak selalu hadir dalam bentuk klinis. Ia sering menyamar sebagai kepercayaan diri, sebagai keyakinan yang teguh, sebagai “saya hanya menyampaikan fakta.”
Sejak 25 tahun lalu, psikolog Amerika mengidentifikasi fenomena yang membingungkan: mereka yang berkinerja rendah justru secara signifikan melebih-lebihkan kompetensi mereka sendiri.
Efek Dunning-Kruger ini bukan sekadar anekdot. Sebuah studi tahun 2018 terhadap lebih dari 2.500 peserta mengungkapkan pola yang jelas: peserta dengan skor pengetahuan politik yang lebih rendah secara signifikan melebih-lebihkan kompetensi mereka, baik secara absolut maupun relatif terhadap orang lain.
Dan selama 15 tahun terakhir, perluasan internet dan media sosial telah mengubah lanskap media secara mendasar, dengan perbandingan survei 2008 dan 2020 menemukan bahwa efeknya justru meningkat.
Penelitian yang lebih baru menegaskan: semua faset narsisme berbagi keyakinan inti akan superioritas perspektif dan pengetahuan diri sendiri. Narsisme antagonis dan neurotik berkorelasi negatif dengan independensi intelek dan ego, serta dengan kerendahan hati intelektual.
Artinya, semakin angkuh seseorang, semakin tertutup pula ia terhadap kemungkinan bahwa dirinya salah. Keangkuhan bukan hanya soal merasa lebih baik. Ia adalah penolakan sistematis terhadap koreksi.
Namun keangkuhan tidak berhenti pada individu. Ia menskala. Ia menjadi kolektif. Ia menjadi peradaban.
Di tengah krisis ekologis global, muncul kesadaran bahwa kesombongan manusia dalam memperlakukan alam telah membawa dampak yang merusak bagi kehidupan.
Christine Webb, penulis The Arrogant Ape, menyatakannya dengan tajam: “Human exceptionalism is at the root of the ecological crisis”. Antroposentrisme, atau apa yang ia sebut sebagai “kompleks superioritas manusia,” telah mendorong planet ini ke krisis lingkungan seperti kepunahan massal, kenaikan permukaan laut, dan kebakaran hutan.
“Saya mulai memikirkan kera yang angkuh bukan sebagai spesies, atau budaya, atau bahkan individu, tetapi sebagai protagonis tragis dalam drama Yunani, yang dibutakan oleh hubris-nya sendiri,” tulis Webb.
Data iklim terbaru memperkuat gambaran itu. Laporan State of the Global Climate 2025 dari World Meteorological Organization (WMO) menyatakan bahwa 2015–2025 adalah sebelas tahun terpanas yang pernah tercatat. Suhu global pada 2025 berada sekitar 1,43°C di atas level pra-industri.
Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer mencapai 423,9 ppm pada 2024—level tertinggi dalam 2 juta tahun terakhir. Lebih dari 91% kelebihan panas disimpan di lautan, dan laju pemanasan laut lebih dari dua kali lipat dari periode 1960–2005 ke 2005–2025. Bumi, dalam bahasa WMO, berada dalam ketidakseimbangan energi tertinggi dalam 65 tahun pencatatan.
Tetapi siapa yang bertanggung jawab? Data menunjukkan bahwa ketimpangan konsumsi adalah cermin dari ketimpangan ego. Sepuluh persen konsumen teratas menyumbang 36% jejak material rumah tangga global, sementara 50% terbawah hanya menyumbang 18%.
Sepuluh persen teratas bertanggung jawab atas 57% dari total overshoot penggunaan material rumah tangga. Untuk logam saja, 10% teratas mengonsumsi 113 kali lebih banyak daripada 10% terbawah.
Keangkuhan, pada akhirnya, adalah soal distribusi. Ia adalah keyakinan bahwa bumi ini ada untuk melayani sebagian kecil manusia, dan bahwa sebagian besar lainnya—manusia maupun spesies lain—adalah instrumen untuk kepuasan itu.
Kerendahan Hati sebagai Reformasi Eksistensial
Lalu apa alternatifnya? Jawabannya bukan sekadar “rendah hati” dalam arti pasif. Kerendahan hati yang dimaksud adalah reformasi eksistensial: pengakuan bahwa manusia bukan tuan atas makhluk-makhluk, melainkan gembala dari Keberadaan. Manusia tidak diciptakan untuk menguasai bumi, tetapi untuk merawatnya.
Menteri Agama Nasaruddin Umar, dalam Pesamuhan Agung 2025, menekankan bahwa hilangnya kesadaran akan kesakralan alam adalah akar krisis spiritual dan sosial umat manusia.
“Dunia modern mengalami desakralisasi alam semesta,” katanya. “Tidak ada lagi tempat yang dianggap suci, padahal tempat-tempat sakral itu adalah pusat energi spiritual yang mampu menundukkan ego manusia”.
Ia menyebut pemikiran Karen Armstrong dalam The Sacred Nature, yang menyoroti bahwa pemulihan spiritual umat manusia harus dimulai dengan menghormati kembali bumi sebagai ciptaan Tuhan.
Ini bukan romantisme ekologis. Ini adalah pengakuan bahwa keangkuhan—baik pada Iblis yang menolak sujud, pada politisi yang melebih-lebihkan pengetahuannya, pada konsumen yang mengambil jauh lebih banyak dari yang ia butuhkan—berakar pada ilusi yang sama: bahwa “aku” lebih penting daripada yang lain. Dan ilusi itu, ketika diperbesar hingga skala peradaban, menghasilkan planet yang tidak seimbang.
Cinta pada Semesta sebagai Jalan Pulang
Dalam filsafat Rumi, cinta bukan sekadar emosi. Ia adalah daya yang menghubungkan cinta dengan ekologi integral: segala sesuatu di alam semesta saling terhubung dan membutuhkan satu sama lain.
Ini bukan metafora. Ini adalah fakta ekologis yang telah lama diketahui sains, tetapi baru sekarang mulai diakui kembali oleh tradisi spiritual.
Keangkuhan menawarkan sensasi: rasa unggul, rasa benar, rasa aman di atas yang lain. Tetapi sensasi itu, seperti semua sensasi, cepat pudar. Ia menuntut pengulangan, eskalasi, dan pada akhirnya kehancuran—entah pada diri sendiri, pada orang lain, atau pada planet yang kita tinggali.
Cinta pada semesta menawarkan sesuatu yang berbeda. Bukan sensasi, melainkan relasi. Bukan superioritas, melainkan keterhubungan. Dan jika guna abadi dari keberadaan manusia—sebagaimana yang dimaksudkan oleh frasa dalam judul ini—adalah untuk berpaling dari keangkuhan menuju cinta, maka mungkin inilah saatnya.
Bukan karena kita takut pada neraka, tetapi karena kita akhirnya memahami:
Surga pun tidak bisa dibangun di atas kehancuran orang lain, spesies lain, atau bumi yang telah memberi kita segalanya.
Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media











