PONTIANAK, AKCAYA – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Harisson, menyampaikan perkembangan terbaru terkait kondisi jemaah haji asal Kalbar tahun 2026. Berdasarkan laporan petugas haji, terdapat satu calon jemaah haji (CJH) asal Kalbar yang batal diberangkatkan ke Tanah Suci karena alasan kesehatan.
CJH tersebut berinisial MY, laki-laki berusia 67 tahun asal Kota Pontianak yang tergabung dalam BTH Kloter 15. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Batam, yang bersangkutan didiagnosis mengalami gagal ginjal kronik sehingga dinyatakan tidak layak terbang.
“Saat ini yang bersangkutan masih menjalani perawatan di BKK Batam,” ujar Harisson, kemarin.
Di sisi lain, Harisson memastikan jemaah haji Kalbar yang tergabung dalam BTH Kloter 14 telah tiba dengan selamat di Madinah, Arab Saudi.
Kloter 14 terdiri dari jemaah asal Kota Pontianak, Singkawang, Kabupaten Landak, Sambas, Sanggau, dan Bengkayang dengan total 444 orang termasuk petugas haji.
Namun demikian, mayoritas jemaah dalam kloter tersebut masuk kategori risiko tinggi (risti). Dari total 444 jemaah, sebanyak 339 orang atau sekitar 76 persen tercatat sebagai jemaah risiko tinggi.
Pesawat Saudi Arabian Airlines yang membawa rombongan berangkat dari Bandara Hang Nadim Batam pada 6 Mei 2026 pukul 21.05 WIB dan tiba di Bandara Pangeran Mohammad Bin Abdulaziz, Madinah, pada 7 Mei 2026 pukul 02.10 waktu Arab Saudi.
Dalam perjalanan menuju Madinah, satu jemaah dilaporkan mengalami gangguan kesehatan. Jemaah berinisial H, laki-laki berusia 62 tahun asal Kota Pontianak, mengalami sesak napas saat berada di dalam pesawat.
Setibanya di Madinah, jemaah tersebut langsung mendapatkan pemeriksaan medis dari dokter bandara sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah untuk menjalani perawatan lebih lanjut.
Meski ada beberapa kasus kesehatan, Harisson memastikan kondisi umum jemaah Kloter 14 tetap stabil dan berada dalam pemantauan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).
“Secara umum kondisi jemaah Kloter 14 sehat dan terus dalam pemantauan petugas kesehatan,” pungkasnya.









