PONTIANAK, AKCAYA – Pengawasan kesehatan dan layanan kekarantinaan bagi jamaah haji asal Kalbar diperketat menjelang kepulangan mereka dari Arab Saudi. Langkah ini dilakukan untuk mencegah masuk dan penyebaran penyakit menular dari luar negeri.
Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Pontianak, Mokhamad Zainul Mukhorobin, mengatakan upaya tersebut telah dibahas dalam rapat koordinasi yang melibatkan berbagai instansi terkait.
Menurutnya, pengawasan kesehatan menjadi penting karena ibadah haji mempertemukan jutaan orang dari berbagai negara sehingga meningkatkan risiko paparan penyakit.
“Pengawasan kesehatan terhadap jamaah haji harus dilakukan secara maksimal untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit ke daerah,” katanya, Sabtu (13/6/2026).
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Kalbar, Kamaludin, menyebut jumlah jamaah haji Kalbar tahun 2026 mencapai 1.857 orang.
Dari jumlah tersebut, tiga orang batal berangkat dan tiga orang meninggal dunia selama penyelenggaraan ibadah haji.
Kamaludin menekankan pentingnya penguatan istithaah kesehatan atau kemampuan kesehatan calon jamaah sebelum keberangkatan guna meminimalkan risiko selama menjalankan ibadah.
“Kita harus memberikan perhatian serius terhadap kesehatan jamaah. Satu jiwa sangat berharga,” ujarnya.
Ia juga meminta dinas kesehatan kabupaten dan kota di Kalbar meningkatkan kualitas pemeriksaan kesehatan calon jamaah agar mereka benar-benar siap secara fisik sebelum berangkat.
Selain pengawasan saat kepulangan, BKK Pontianak turut mendukung penyelenggaraan haji melalui pemeriksaan lingkungan Asrama Haji Pontianak, pemasangan jerat hama, penyemprotan disinfektan, dan fogging.
Rapat koordinasi tersebut diikuti perwakilan instansi kesehatan, pengelola transportasi, Asrama Haji Kalbar, serta pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan proses debarkasi berjalan aman dan pengawasan kesehatan jamaah berlangsung optimal. (elp)










