Di ujung utara Kalimantan Barat, di mana debur ombak Laut Natuna berpadu dengan semburat jingga senja yang tak tertandingi, terbentang sebuah desa yang tengah bersiap menyambut takdirnya sebagai gerbang wisata perbatasan Republik Indonesia.

Temajuk—kawasan yang menyimpan kekayaan geologi langka, konservasi penyu yang mendunia, dan pesona pantai yang masih perawan—kini berada di ambang transformasi besar.

Namun, keindahan alam semata takkan cukup. Untuk menjadikan Temajuk sebagai destinasi lintas negara yang disegani, diperlukan sebuah simfoni. Sebuah kolaborasi utuh yang melibatkan seluruh elemen bangsa.

Inilah saatnya Pentahelix—sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media—bukan sekadar wacana, melainkan fondasi nyata pembangunan kepariwisataan berbasis keberlanjutan.

Gerbang Baru di Cakrawala: Momentum Sejarang

Tahun 2026 menjadi titik balik bagi Temajuk. Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI telah menargetkan peresmian Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk—yang direncanakan meningkat statusnya menjadi Pos Lintas Batas Negara (PLBN)—pada Agustus 2026, membuka kembali perlintasan Temajuk–Telok Melano, Sarawak, Malaysia.

Langkah ini bukan sekadar soal mobilitas, melainkan strategi besar untuk menjadikan Temajuk etalase Indonesia di beranda terdepan Kalimantan Barat.

“Konsep kami ingin PLBN ini menjadi miniatur Indonesia. Melihat Kalimantan Barat, melihat Kalimantan, melihat Indonesia, ada di sini,” ujar Septiza, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Sambas.

Bahkan, keunikan geografis Temajuk—yang mampu menyajikan panorama matahari terbenam yang tak dimiliki Malaysia—menjadi daya pikat tersendiri yang akan dikemas dalam paket wisata terpadu, memadukan wisata bahari, budaya, hingga sejarah.

Di atas momentum inilah, kolaborasi pentahelix memegang peran kunci.

Menyusun Simfoni Pentahelix

Konsep pentahelix yang digaungkan oleh Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menjadi jawaban atas kebutuhan pariwisata modern yang personal, lokal, dan berkelanjutan. Di Temajuk, konsep ini diterjemahkan dalam harmoni enam unsur:

1. Pemerintah: Penggerak Infrastruktur dan Kebijakan.

Pemerintah hadir sebagai katalisator. Mulai dari Pemerintah Pusat melalui BNPP dan Kementerian PUPR yang mendukung pembangunan jalan, pusat informasi geowisata, hingga fasilitas CIQS (Customs, Immigration, Quarantine, and Security).

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di bawah Gubernur Ria Norsan terus mendorong percepatan reaktivasi PLB dan penyediaan infrastruktur dasar—air bersih, listrik, jaringan telekomunikasi, dan akses jalan.

Pemerintah Kabupaten Sambas sendiri telah menyatakan dukungan penuh terhadap pengusulan Temajuk sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Perbatasan.

2. Akademisi: Pilar Pengetahuan dan Perencanaan.

Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Kalimantan Barat telah mengusulkan Temajuk sebagai destinasi geowisata unggulan.

Keberadaan tiga jenis batuan—beku, sedimen, dan metamorf—dengan rentang umur yang jauh, menjadikan kawasan ini laboratorium alam terbuka untuk pendidikan kebumian.

Dukungan akademisi juga hadir melalui penelitian dan pendampingan masyarakat, memastikan setiap langkah pembangunan berbasis kajian ilmiah dan memperhatikan kelestarian lingkungan.

Selain itu, Menurut Dr. Ita Nurcholifah, S.E.I., MM Akademisi IAIN Pontianak bahwa Penerapan konsep wisata halal juga sangat strategis diterapkan pada kawasan wisata di Temajuk Kabupaten Sambas.

3. Pelaku Usaha: Roda Penggerak Ekonomi.

Investasi dan usaha produktif menjadi nadi kehidupan Temajuk. Dengan target pembukaan perlintasan 2026, peluang usaha di sektor akomodasi, kuliner, transportasi, dan ekonomi kreatif terbuka lebar.

Pemerintah daerah mendorong pemberdayaan UMKM lokal sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton. Homestay, kerajinan tangan, dan produk olahan khas perbatasan akan menjadi suvenir berharga yang membawa pulang cerita Temajuk.

4. Komunitas dan Masyarakat: Garda Terdepan Pelestarian.

Kekuatan utama Temajuk adalah konservasi penyu yang dikelola Kelompok Masyarakat (Pokmas) Wahana Bahari. Sejak 2011, kelompok ini, bersama World Wildlife Fund (WWF), berhasil mengubah ancaman perburuan telur penyu menjadi wisata edukasi yang diminati.

Setiap tahun, ratusan ribu tukik dilepasliarkan ke laut. Ini bukti bahwa masyarakat bisa menjadi pelindung ekosistem sekaligus pelaku ekonomi.

“Kalau hanya wisata pantai bisa ke Singkawang, tapi untuk merasakan wisata edukasi atau ikut memantau penyu bertelur hanya ada di perairan Pantai Paloh,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalbar, Frans Zeno.

Konservasi penyu ini menjadi fondasi ekowisata yang harus dijaga dengan kesadaran kolektif.

5. Media: Jembatan Citra dan Kesadaran.

Peran media vital dalam membangun narasi Temajuk. Keindahan Pantai Teluk Atong Bahari yang dibanjiri pengunjung setiap akhir pekan, meski akses jalan masih berbatu, telah menjadi bukti daya tarik luar biasa desa ini.

Media berperan menyebarkan pesan bahwa Temajuk bukan sekadar destinasi, melainkan gerbang peradaban baru yang memadukan keindahan alam, konservasi, dan semangat kebangsaan.

6. TNI dan Keamanan: Penjaga Kedaulatan.

Sebagai kawasan perbatasan yang bersinggungan langsung dengan Malaysia, keterlibatan TNI memastikan keamanan dan kedaulatan. Mereka adalah bagian yang tak terpisahkan, membentengi sekaligus membuka pintu bagi arus wisatawan mancanegara.

Menjaga Kebersihan: Fondasi Pariwisata Bermartabat.

Di tengah gegap-gempita pembangunan, satu hal tak boleh terlupakan: kebersihan lingkungan. Pantai sepanjang 60 kilometer dengan ekosistem penyu yang rapuh ini adalah anugerah yang harus dijaga. Sampah plastik, limbah, dan polusi adalah musuh besar ekowisata.

Kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, melainkan cerminan peradaban.

Wisatawan, pelaku usaha, dan masyarakat harus bergandengan tangan: sediakan tempat sampah, kurangi plastik sekali pakai, dan edukasi setiap pengunjung tentang pentingnya menjaga habitat penyu. Karena, sekali ekosistem rusak, keindahan yang diperebutkan akan lenyap.

Temajuk adalah kanvas besar. Pemerintah telah menyiapkan kuas dan cat, akademisi menyediakan sketsa, pelaku usaha menebar warna, masyarakat menjadi tangan yang melukis, dan media memamerkan karya agung ini ke seluruh dunia.

Namun, kita semua adalah seniman yang bertanggung jawab. Mari jadikan Temajuk bukan hanya “gerbang wisata”, tetapi “gerbang kesadaran” bahwa kemajuan dan kelestarian bisa berjalan beriringan. Sebab, di ujung negeri, citra Indonesia dipertaruhkan.

Sharing Ide: Hery Arianto
(Pemerhati Sosial & Media)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *