Langit Kalimantan Barat sedang menahan rintiknya. Tanah-tanah gambut merekah, sungai-sungai menyusut, dan asap mulai mengepul dari serpihan hutan yang kering.

El Nino memasuki fase sangat kuat, dan bumi pun berbisik dalam dahaga. Namun dalam sunyi kemarau itu, dua suara menggemakan harapan: doa yang dipanjatkan dalam munajat, dan ikhtiar yang diterbangkan di awan.

Bumi Kalbar terbentang dalam cengkeraman panas yang tak biasa. Stasiun Klimatologi BMKG mencatat, intensitas El Nino periode Agustus-Oktober 2026 diprediksi mencapai level sangat kuat, memperpanjang hari-hari kering yang sudah berlangsung puluhan hari.

Advertisement

Dampaknya bukan sekadar rasa haus. Luas lahan terbakar di Kalbar diperkirakan mencapai 28.680 hektare—angka yang telah melampaui total kebakaran sepanjang tahun lalu.

Sebanyak 1.483 titik panas terdeteksi dalam pantauan 24 jam, dan kabut asap mulai mengaburkan pandangan. Curah hujan di sebagian besar wilayah hanya berkisar 0-20 mm per dasarian, dengan prediksi kondisi ini berlanjut hingga September, bahkan Oktober.

Dalam hening malam yang gerah, suara doa menggema di masjid-masjid dan mushola Kalbar. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau umat untuk memanjatkan munajat meminta hujan—sebuah tradisi spiritual yang mengingatkan manusia pada kuasa langit di atas segala ikhtiar.

Doa bukanlah pasrah pada takdir tanpa gerak. Ia adalah pengakuan bahwa ada Yang Maha Kuasa di balik setiap tetes air, sekaligus pengingat bahwa manusia adalah bagian dari alam yang harus menjaga keseimbangan.

Dalam setiap sujud, ada harapan; dalam setiap permohonan, ada kesadaran bahwa bumi bukanlah milik kita, melainkan titipan yang harus dirawat.

Namun seperti kata pepatah, “Tawakal tanpa ikhtiar adalah pasrah, ikhtiar tanpa do’a adalah sombong”. Maka, ketika lisan berdo’a, tangan pun harus bergerak.

Di sisi lain, pemerintah dan para ilmuwan bergerak dalam ikhtiar nyata. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)—yang akrab disebut hujan buatan—menjadi salah satu andalan.

Kalbar termasuk enam provinsi prioritas pelaksanaan OMC untuk menghadapi El Nino 2026, bersama Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.

Tujuannya bukan sekadar menurunkan hujan, tetapi membasahi lahan gambut yang mulai mengering agar lebih sulit terbakar.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa ketika curah hujan berkurang, cadangan air di kubah gambut ikut menurun, sehingga lahan sangat rentan terbakar.

Namun OMC bukanlah sulap. Ia sangat bergantung pada keberadaan awan potensial. Saat langit benar-benar cerah dan tak ada awan hujan, pesawat semai garam pun tak bisa bekerja.

BNPB mengakui, hingga pertengahan Agustus, pertumbuhan awan hujan di Kalbar masih minim, sehingga operasi udara lebih banyak diarahkan pada water bombing.

Do’a dan ikhtiar bagaikan dua sayap yang harus bekerja bersama. Do’a menguatkan jiwa, ikhtiar menggerakkan raga. OMC menjadi simbol bahwa manusia tidak tinggal diam, sementara munajat mengingatkan bahwa semua teknologi hanyalah wasilah—perantara—atas kuasa-Nya.

Dalam jangka panjang, para pakar mengingatkan bahwa modifikasi cuaca bukanlah solusi permanen. Ketergantungan pada OMC bisa menjadi “plester” yang menutupi luka struktural: deforestasi, alih fungsi lahan, dan degradasi gambut yang akut.

Tanpa perbaikan ekosistem dari hulu ke hilir, setiap musim kemarau akan selalu menghadirkan ancaman yang sama.

Di ujung kemarau yang diperkirakan baru berakhir 20-30 hari dari jadwal normal, Kalbar terus berdetak dalam nafas harap. Masyarakat petani dan nelayan, yang paling merasakan gigitan kekeringan, terus mengatur strategi adaptasi. BMKG mendorong literasi iklim agar mereka bisa menyesuaikan aktivitas dengan prediksi cuaca.

Mungkin hujan belum turun. Mungkin awan masih enggan berkumpul. Namun di setiap langkah ikhtiar dan setiap bait doa. Kalbar tetap bergerak. Sebab, seperti kata seorang penyair: “Kekeringan bukan akhir segalanya, ia adalah jeda sebelum rintik pertama mengingatkan kita pada syukur.”

Mari kita nantikan titik-titik air itu—bukan hanya di langit, tetapi juga di hati dan tindakan kita semua.

Di tengah prediksi El Nino yang menguat dan hamparan lahan yang mengering, do’a dan ikhtiar bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bersama.

Semoga langit Kalbar segera menitikkan rahmat-Nya, dan semoga tangan-tangan kita tak pernah lelah merawat bumi yang telah menopang kehidupan ini.

Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *