Di peta energi dunia yang terus bergeser, Kalimantan Barat mungkin saja menyimpan kunci kejutan.

Saat dunia berlomba menuju transisi energi, narasi selama ini didominasi oleh dominasi China yang menguasai 85% produksi silikon metal dunia dan 97% wafer silikon surya kelas dunia.

Namun, di bawah tanah Kalbar, tersimpan potensi yang mulai mengubah peta persaingan—bukan untuk meniru, melainkan untuk menawarkan jalan baru yang lebih mandiri dan berdaulat.

Advertisement

Warisan Bumi yang Tak Terduga

Kalbar menyimpan cadangan pasir silika mencapai 2,06 miliar ton, tersebar di Ketapang, Sanggau, Sambas, hingga Bengkayang. Dengan 149 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah terbit dan 18 perusahaan yang telah memasuki tahap produksi, provinsi ini bukan sekadar pemilik cadangan—ia adalah aktor strategis yang mulai bergerak.

Namun yang membuat Kalbar istimewa bukanlah angka semata, melainkan ekosistem yang melengkapinya. Aluminium, komponen vital untuk rangka panel surya, diproduksi oleh PT Inalum dengan kapasitas 280.082 ton pada 2025.

Di sisi lain, Indonesia menargetkan peningkatan produksi aluminium hingga 400.000 ton pada 2030. Keberadaan dua bahan baku utama dalam satu ekosistem adalah keunggulan komparatif yang nyaris sempurna.

Mengapa Keunggulan Ini Begitu Strategis?

Dominasi China atas rantai pasok surya global memang mengesankan—namun memiliki kerapuhan tersembunyi.

China sangat bergantung pada pasokan kuarsa kemurnian tinggi dari Amerika Serikat untuk memproduksi wadah peleburan silikon, dengan satu tambang AS memasok 70% kebutuhan global. Ketergantungan ini menciptakan celah strategis yang bisa dimanfaatkan oleh negara-negara dengan cadangan bahan baku sendiri.

Indonesia, melalui Kalbar, memiliki posisi unik: bukan hanya memiliki pasir silika, tetapi juga aluminium, serta komitmen politik yang kuat untuk hilirisasi.

Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar meningkatkan nilai tambah—melainkan strategi untuk mengelola biaya energi hijau agar lebih kompetitif.

Tantangan terbesar yang dihadapi industri panel surya domestik adalah soal harga. Panel surya China masuk ke Indonesia dengan harga sekitar US$0,114–0,120 per watt, sementara panel produksi lokal dengan TKDN 40% dibanderol US$0,150 per watt. Selisih sekitar 21% ini menjadi penghalang signifikan dalam proyek-proyek komersial.

Namun celah tetap terbuka. Untuk proyek pemerintah dan PLN yang mewajibkan kandungan lokal, panel produksi lokal tetap memiliki pasar yang terproteksi.

Dan disinilah keunggulan Kalbar bisa dioptimalkan—dengan ekosistem bahan baku yang terintegrasi, rantai pasok yang lebih pendek, biaya logistik yang lebih efisien, dan kepastian pasokan yang lebih terjamin.

Mewujudkan keunggulan Kalbar bukan tanpa hambatan. Masih ada konflik penggunaan lahan, minimnya kawasan industri pengolahan, keterbatasan sarana prasarana, dan rendahnya penyerapan tenaga kerja lokal.

Ketua Umum PERTAMISI, Raden Sukhyar, menyoroti perlunya patokan harga dasar silika dan spesifikasi nasional—langkah awal yang krusial agar Kalbar tidak terus menjadi “price taker” di pasar global.

Hilirisasi panel surya di Kalbar bukanlah mimpi untuk menggantikan China secara instan. Tapi ini adalah mimpi yang masuk akal, didukung oleh data dan arah kebijakan nasional.

Dengan cadangan silika yang melimpah, ekosistem aluminium yang berkembang, dan komitmen politik yang jelas, Kalbar berpotensi menjadi pusat industri panel surya yang kompetitif di Asia Tenggara.

Seperti yang disampaikan Presiden Prabowo, Indonesia harus melangkah naik ke rantai nilai yang lebih tinggi. Kalbar, dengan kekayaan bawah tanahnya, bukan hanya menjadi saksi—tapi pelaku utama dalam transformasi energi Indonesia.

Keunggulan Kalbar bukanlah tentang menjadi China baru, tapi menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri: mandiri, berdaulat, dan berdampak.

Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *