Ombak di pesisir Khatulistiwa mungkin telah menghapus jejak kaki para penjajah, namun tanah Mandor tetap menyimpan bisikan duka yang tak pernah usai. Setiap 28 Juni, Kalimantan Barat larut dalam hening, bendera merah putih berkibar setengah tiang, dan sirene berbunyi panjang—sebuah pengakuan duka atas tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah meluluhlantakkan bumi Borneo.
Genosida yang Terlupakan
Peristiwa Mandor bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah genosida sistematis yang dilakukan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun) terhadap para pemimpin dan intelektual Kalbar pada 1943-1944.
Berbekal kecurigaan akan gerakan bawah tanah “Enam Sembilan”, Jepang melancarkan operasi pembersihan brutal yang dimulai sejak September 1943.
Tokoh-tokoh penting diciduk dari rumah mereka pada dini hari, kepala tertutup karung, dibawa menuju kapal tanpa sepengetahuan keluarga. Korban berasal dari berbagai latar—sultan, bangsawan, ulama, cendekiawan, dokter, wartawan, pedagang, hingga rakyat biasa. Tak ada diskriminasi etnis maupun agama dalam pembantaian ini.
Puncaknya terjadi pada 28 Juni 1944 di Mandor, sebuah kawasan 88 kilometer dari Pontianak yang kini menjadi Kabupaten Landak.
Di sana, tentara Jepang mengeksekusi massal para tahanan dengan pemenggalan kepala menggunakan pedang katana, setelah sebelumnya menyiksa mereka dengan “terapi air” dan penyungkupan wajib.
21.037 Nyawa dalam Senyap Sejarah
Pemerintah Kalbar mencatat angka resmi yang memilukan: 21.037 jiwa melayang dalam tragedi ini. Korban dimakamkan dalam sepuluh kuburan massal di kompleks Makam Juang Mandor.
Makam nomor sembilan menjadi tempat peristirahatan terakhir para sultan dan bangsawan, ditandai dengan ukiran khas Dayak yang berdiri di atas tanah yang telah menelan begitu banyak mimpi.
Di antara para korban tercatat nama-nama yang seharusnya menjadi penerang zamannya: Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak, 74 tahun), Sultan Muhammad Ibrahim Tsafioeddin (Sultan Sambas, 40 tahun), dr. R.M. Ahmad Diponegoro, dr. Roebini, wartawan Thji Boen Khe, dan puluhan tokoh berpengaruh lainnya.
Korban tak hanya dari kalangan elite. Istri-istri para tokoh seperti Amaliah Roebini dan Noerlela Panangian Harahap juga turut menjadi sasaran. Mereka semua dikubur dalam diam, tanpa proses hukum, tanpa pengakuan.
Propaganda dan Luka yang Tak Terobati
Koran Borneo Shinbun terbitan 1 Juli 1944 mengumumkan bahwa Jepang telah “membongkar konspirasi pemberontakan” dan menghukum mati pelakunya. Propaganda ini menjadi tameng bagi kekejaman yang sebenarnya, sekaligus luka bagi masyarakat Pontianak yang membaca berita duka tentang orang-orang tercinta mereka.
Sultan Hamid II, yang kehilangan 28 anggota keluarga termasuk ayahnya dalam peristiwa ini, menjadi salah satu tokoh yang gigih mengabadikan memori Mandor.
Ia menginisiasi pembangunan monumen untuk mengenang para korban. Pada 28 Juni 1977, Makam Juang Mandor diresmikan sebagai monumen daerah.
Baru pada tahun 2007, melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007, Pemerintah Provinsi Kalbar secara resmi menetapkan 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah. Ini adalah pengakuan resmi bahwa satu generasi terbaik Kalbar telah hilang dalam senyap sejarah.
Merawat Ingatan, Menempa Semangat
Hari Berkabung bukanlah sekadar seremoni tahunan. Ia adalah panggilan untuk merawat ingatan kolektif dan menghormati para syuhada yang gugur. Di Makam Juang Mandor, relief-relief di dinding beton masih menggambarkan kekejaman tentara Jepang—pengingat visual tentang apa yang terjadi ketika kebiadaban dibiarkan merajalela.
Tragedi Mandor meninggalkan kekosongan kepemimpinan dan trauma kolektif yang membentuk identitas Kalbar hingga hari ini. Namun dari luka itulah, masyarakat Kalbar belajar bahwa pengorbanan para pendahulu adalah fondasi bagi semangat kebangsaan dan perlawanan terhadap penindasan.
Ketika sirene berbunyi dan bendera berkibar setengah tiang di seluruh penjuru Kalbar, kita tidak sekadar mengenang kematian. Kita merayakan kehidupan mereka yang telah memberikan segalanya—dan berjanji bahwa generasi terbaik Kalbar tidak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan bangsa.
Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media










