Di sebuah sudut Pontianak yang sunyi di sore hari, ada seorang gadis muda yang baru genap 19 tahun melintasi batas. Namanya Anisa Maharani Arianto, akrab disapa Rani. Mahasiswa Universitas Tanjungpura (FKIP Jurusan Bahasa Indonesia) itu baru saja meluncurkan mimpi dalam wujud Novel: Dandani.
Bukan sekadar novel. Dandani adalah surat cinta dari seorang anak muda pada tanah kelahirannya.
“Dandani ini adalah seorang gadis yang tumbuh di desa Sungai Kakap, Kubu Raya. Saya mengamati dan rupanya desa tersebut memiliki potensi sumber daya alamnya yang besar.”
— Anisa Maharani Arianto, penulis novel Dandani
Dalam usianya yang masih belia, Rani memilih tidak menulis tentang pahlawan super atau cinta remaja yang klise. Ia menulis tentang pulang. Tentang seorang perempuan desa bernama Dandani Restu Semesta, yang lahir sederhana dan membawa impian besar untuk menginspirasi generasi mudanya agar tak meninggalkan kampung, justru membangunkannya.
Dan desa itu—Sungai Kakap, Kubu Raya—bukanlah desa biasa
Kabupaten Kubu Raya, yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak, menyimpan kekayaan yang luput dari sorotan. BPS mencatat wilayah ini memiliki potensi desa yang luar biasa dalam sektor agraria, kelautan, hingga pariwisata.
Data Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar mengonfirmasi: Kubu Raya adalah lumbung yang sedang bangkit.
Pada peluncuran program prioritas “Gema Membangun Desa” 25 November 2025, di Kantor Camat Sungai Kakap, Gubernur Kalbar Ria Norsan secara resmi mencanangkan ekonomi berbasis potensi lokal. Di acara itu, Dinas Perkebunan memamerkan komoditas unggulan seperti kopi liberika, lada bubuk Lada Batu Layar, serta bibit ayam petelur untuk skala rumah tangga.
Konsepnya dari hulu ke hilir. Petani tak hanya disuruh menanam, tetapi juga didampingi mengolah hingga memasarkan. Biji kopi petani Kubu Raya tak lagi dijual mentahan, tapi di-roasting sehingga nilainya berlipat.
Kekayaan lain yang lebih memesona terbentang di sepanjang garis pantai Kecamatan Sungai Kakap. Data terbaru menunjukkan Kabupaten Kubu Raya memiliki 129.604 hektare hutan bakau—yang terluas di Kalimantan Barat dari total 177.023 hektare.
Yang paling mencengangkan: dari 40 jenis bakau di Indonesia, 33 jenis ada di Kubu Raya. Bahkan terdapat spesies langka dunia: Kandelia candel atau “Lenggadai Betina”, yang hanya tumbuh di sini.
Agrowisata bakau di Desa Sungai Kupah (Kecamatan Sungai Kakap) seluas 15 hektare itu langsung berhadapan dengan Laut Natuna. Saat matahari terbenam, langit menyerap warna jingga ke perak, menciptakan lukisan alam yang tak kalah dari Danau Toba atau Raja Ampat.
Kubu Raya bukan lagi sekadar “daerah penyangga” Pontianak. Potensinya mulai diakui dunia.
23 destinasi wisata telah terdaftar di OSS, dan 10 desa wisata resmi memiliki Surat Keputusan. Pada Oktober 2024, Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kubu Raya memberikan penghargaan kepada enam desa terbaik: Desa Medan Mas, Batu Ampar, Kubu, Sungai Kakap, Lingga, dan Sungai Deras.
Penghargaan ini bukan sekadar plakat. Keenam desa menerima uang pembinaan, bantuan sarana-prasarana, dan paket homestay.
Sementara itu, status Bandara Internasional Supadio yang berlokasi di wilayah Kubu Raya telah di-reaktivasi per 4 Juni 2025. Wakil Bupati Sukiryanto menyambut haru: ini adalah pintu masuk wisatawan mancanegara ke desa-desa.
Bayangkan: wisatawan dari Singapura atau Kuala Lumpur turun dari pesawat, satu jam kemudian tangannya basah oleh embun pagi sambil memanen padi atau menyusuri kanal bakau yang sunyi. Inilah agroeduwisata, gagasan yang mulai dirintis Pemkab Kubu Raya.
Desa Sungai Kakap, yang menjadi latar novel Dandani, kini memiliki desa wisata dan stan pameran produk unggulan.
Dandani: Bibit yang Tumbuh di Antara Akar Bakau
Di tengah semua gemuruh pembangunan fisik itu, Anisa—si penulis cilik—memilih senjata yang lain. Kata-kata.
Rani mulai menulis Dandani pada 2023, saat ia masih duduk di kelas 3 SMA. Ia selesai tepat saat ijazahnya di tangan. Ia mengaku sempat ragu, kehilangan ide, dan malu untuk menerbitkan.
Tapi pada 18 Agustus 2024, di Lembaga Gemawan Pontianak, novel itu akhirnya diluncurkan. Dan Rani—si gadis 19 tahun—menjadi bukti hidup bahwa anak muda Kubu Raya tidak hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Ada paradoks yang indah di sini.
Di satu sisi, para petani dan nelayan Sungai Kakap sedang disiapkan menjadi tuan rumah bagi wisatawan dunia.
Hutan bakau mereka yang 33 spesies itu sedang dirawat untuk menjadi kawasan ekowisata kelas internasional. Bandara Supadio kini melayani penerbangan langsung dari luar negeri.
Namun di sisi lain, Rani memilih untuk merekam semua itu dalam huruf.
Ia sadar: potensi desa tak cukup hanya dengan infrastruktur atau investor. Desa perlu narasi. Perlu cerita yang membuat orang rindu. Perlu tokoh fiksi bernama Dandani yang mengingatkan generasi mudanya: Jangan pergi. Bangunlah dari sini.
Tulisan Rani mikrofon bagi desa yang selama ini bisu di peta nasional.
Ketika media sosial ramai oleh konten instan dan hiburan semu, Rani memilih medium yang paling tua, paling lambat, tetapi paling abadi: novel. Ia percaya bahwa sebuah buku bisa menjadi jembatan.
Bahwa seseorang di Jakarta yang membaca Dandani akan bertanya, “Di mana Sungai Kakap itu?” Lalu mencari tahu, lalu datang, lalu membeli kopi liberika petani setempat, lalu berfoto di bawah matahari terbenam Laut Natuna Utara.
Penghargaan untuk enam desa wisata Kubu Raya pada 2024 menjadi bukti: langkah ini tidak salah. Pemerintah mulai serius. Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dibentuk. Homestay dibangun. Konten digital desa di-update rutin.
Bupati Kubu Raya, Sujiwo, pernah berkata dalam pidato panen raya, “Sejarah itu harus kita torehkan lagi” . Maka Rani, dengan novelnya, sedang menorehkan sejarah itu dengan cara yang berbeda: dengan tinta, bukan palu; dengan imajinasi, bukan beton.
Anisa Maharani Arianto kini berusia 20 tahun. Masih panjang jalannya. Namun dengan novel itu, ia sudah melakukan sesuatu yang revolusioner: mengangkat desa ke panggung sastra.
Sementara agrowisata bakau Kubu Raya bersiap menerima turis asing, sementara Bandara Supadio membuka gerbang internasionalnya, sementara petani-petani di Sungai Kakap belajar memasarkan produk secara global, Rani tetap menulis. Halaman demi halaman. Mimpi demi mimpi.
Karena pada akhirnya, membangun desa tidak selalu tentang menggali sumur atau mengaspal jalan.
Terkadang, membangun desa dimulai dari seorang gadis 19 tahun yang duduk di kamar sempit, mengetikkan satu kata yang paling berat dan paling indah: Pulang.
Desa Sungai Kakap tidak akan pernah sama setelah Dandani ditulis. Dan mungkin, suatu hari nanti, seorang anak di pesisir Kubu Raya akan membaca novel itu, lalu menatap laut Natuna, dan berkata pada dirinya sendiri: “Aku juga bisa menulis. Aku juga bisa bermimpi.”
Sharing Ide: Hery Arianto
(Pemerhati Sosial & Media)








