PONTIANAK, AKCAYA – Sekretaris DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Kalimantan Barat (Kalbar), Zulfydar Zaidar Mochtar, menyayangkan terjadinya insiden kekerasan di tengah penyampaian aspirasi masyarakat di kawasan Kantor Gubernur Kalbar dan Bundaran Tugu Digulis, Pontianak.
Ia menegaskan, penyampaian pendapat di muka umum merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Namun, pelaksanaannya diharapkan tetap tertib dan tidak diwarnai tindakan anarkis.
Menanggapi pemberitaan yang mengaitkan sosok berinisial HN dengan PAN, Zulfydar menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan yang diterimanya, HN mengikuti aksi tersebut dalam kapasitasnya sebagai anggota masyarakat, bukan sebagai perwakilan partai.
Zulfydar mengatakan, dirinya belum mengetahui secara utuh kronologi kejadian karena saat insiden berlangsung ia sedang berada di Medan untuk membuka Kejuaraan Nasional Bola Tangan Indonesia.
“Saya hanya membaca dan melihat perkembangan di media sosial berkaitan dengan kejadian, baik di Kantor Gubernur maupun di Digulis. Ada beberapa nama yang disebut dalam pemberitaan. Karena itu, saya ingin mengklarifikasi posisi yang bersangkutan,” ujarnya.
Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan HN untuk meminta penjelasan mengenai peristiwa tersebut. Berdasarkan penuturan HN kepadanya, yang bersangkutan mengaku justru menjadi korban pemukulan saat berada di kawasan Bundaran Tugu Digulis.
Zulfydar membenarkan bahwa HN turut bergabung dalam aliansi masyarakat yang mengikuti aksi. Namun, ia menegaskan keikutsertaan tersebut tidak dilakukan atas nama PAN.
“Jadi bukan dalam kapasitasnya sebagai anggota partai,” ungkapnya.
Berdasarkan penjelasan HN kepada Zulfydar, keterlibatannya dalam aksi dilatarbelakangi keresahan terhadap informasi mengenai kemungkinan terjadinya kerusuhan di Kalimantan Barat. HN disebut berupaya mencegah situasi berkembang menjadi kekacauan karena dinilai dapat memperburuk kondisi masyarakat.
HN juga mengaku mengalami pemukulan ketika sedang berbicara dengan orator aksi di Bundaran Tugu Digulis. Menurut penuturan tersebut, ia kemudian terpancing emosi dan berusaha mencari orang yang diduga melakukan pemukulan.
Zulfydar menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan HN, yang bersangkutan membantah melakukan kekerasan terhadap mahasiswa. HN mengaku tidak ingin aksi penyampaian aspirasi berujung anarkis maupun mengakibatkan kerusakan fasilitas umum.
Meski demikian, Zulfydar menegaskan bahwa penjelasan tersebut merupakan keterangan sepihak yang disampaikan HN kepadanya. Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, diperlukan penelusuran lebih lanjut terhadap kronologi, bukti, dan keterangan dari pihak-pihak yang terlibat.
Ia juga menyampaikan bahwa HN merasa dirugikan apabila keterlibatannya dalam peristiwa tersebut dikaitkan dengan statusnya sebagai kader PAN. Menurut Zulfydar, HN menyatakan tidak membawa nama maupun atribut partai saat mengikuti aksi.
Bahkan, kata Zulfydar, HN menyatakan bersedia mengundurkan diri dari organisasi apabila keberadaannya dinilai merusak citra partai akibat pengaitan peristiwa tersebut dengan status keanggotaannya.
“Dia menyampaikan siap mundur jika dianggap merusak citra organisasi. Namun, yang perlu saya luruskan, berdasarkan penjelasannya, saat kejadian dia hadir sebagai anggota masyarakat, bukan mewakili partai,” ujarnya.
Zulfydar menambahkan, HN sedang berupaya mencari informasi lebih lanjut mengenai kejadian tersebut, termasuk kemungkinan memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV milik pemerintah untuk membantu memperjelas kronologi.
Menurutnya, penelusuran berdasarkan bukti penting agar tidak muncul kesimpulan yang keliru mengenai pihak yang melakukan maupun mengalami kekerasan.
Zulfydar menyatakan akan terus memantau perkembangan persoalan tersebut, baik dari sisi mahasiswa maupun masyarakat yang terlibat. Ia berharap seluruh pihak dapat menyampaikan informasi berdasarkan fakta sehingga persoalan dapat dipahami secara utuh.
“Saya akan terus memantau perkembangan situasi ini, baik dari hulu maupun hilirnya,” pungkasnya.











