PONTIANAK, AKCAYA – Suasana Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak tampak berbeda dari biasanya. Ratusan kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari enam kecamatan dan 29 kelurahan memenuhi ruangan dengan telepon pintar di tangan.
Di balik tema “Mewujudkan PKK Mandiri melalui Transformasi Digital untuk Menyinergikan Ekonomi dan Kesehatan Keluarga”, tersirat pesan bahwa organisasi PKK harus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie, menegaskan bahwa kader PKK tidak lagi cukup hanya menjalankan program-program rutin, tetapi harus mampu menjadi motor perubahan di tengah masyarakat.
“Menjadi kader PKK itu bukan sekadar menjalankan program saja. Tetapi kita juga harus menjadi agen dan penggerak perubahan di tengah keluarga dan di tengah lingkungan masyarakat,” tegasnya saat membuka kegiatan, kemarin.
Yanieta mengawali sambutannya dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader PKK di tingkat kecamatan dan kelurahan yang selama ini telah bekerja dengan penuh dedikasi.
Menurutnya, keberhasilan berbagai program PKK tidak lepas dari kerja keras para kader yang rela mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hati demi melayani masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks sehingga organisasi PKK juga harus ikut bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi.
Salah satu fokus utama yang didorong adalah digitalisasi sistem pendataan. Selama ini, berbagai data penting, mulai dari data dasawisma, stunting, kesehatan keluarga hingga UMKM binaan PKK masih banyak dikelola secara manual.
Padahal, kata Yanieta, data merupakan fondasi utama dalam menyusun program yang tepat sasaran.
“Saya berharap kecamatan dan kelurahan segera melakukan pembaharuan data pengurus secara lengkap dan tepat menggunakan teknologi digital mulai dari sekarang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem pendataan berbasis digital akan mempermudah proses pemantauan kondisi masyarakat secara lebih cepat dan akurat. Dengan data yang terintegrasi dari tingkat kelurahan hingga kota, berbagai persoalan seperti stunting, kesehatan ibu dan anak maupun potensi ekonomi keluarga dapat dipetakan secara lebih efektif.
“Data yang valid adalah kompas dalam menentukan arah program 10 Pokok PKK. Agar bantuan dan intervensi yang dilakukan di masyarakat tepat sasaran,” katanya.
Tak hanya mendorong pemanfaatan teknologi digital, Yanieta juga mengajak seluruh kader mulai mengenal perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam bekerja.
Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyimpan data, menyusun laporan hingga merangkum berbagai informasi dengan lebih cepat dan efisien.
“Jangan takut menggunakan teknologi. Teknologi akan membantu kita. Dulu data diolah manual, sekarang dengan AI proses menyimpan, memperbaiki, meringkas jadi mudah dan cepat,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa transformasi digital bukan berarti sekadar aktif menampilkan kegiatan di media sosial.
Ia justru mengapresiasi kader-kader PKK yang telah memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi dan dokumentasi kegiatan masyarakat.
“Saya selalu memperhatikan kegiatan PKK Kecamatan dan Kelurahan di media sosial. Semua sudah menggunakan teknologi digital. Bukan untuk pamer atau menonjolkan diri, tapi inilah bentuk kegiatan di masyarakat,” tuturnya.
Yanieta mencontohkan, berbagai perlombaan dalam rangka Hari Kesatuan Gerak PKK kini juga telah mengikuti perkembangan zaman.
Jika sebelumnya hanya menilai hasil kegiatan secara konvensional, kini peserta dituntut mampu menyajikan dokumentasi dalam bentuk vlog, video kreatif hingga desain grafis.
Hal itu, menurutnya, menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan kader dalam memanfaatkan teknologi digital.
Bagi kader yang masih belum terbiasa menggunakan aplikasi digital, Yanieta meminta agar tidak ragu belajar dan membangun kolaborasi dengan tenaga teknologi informasi di lingkungan kecamatan maupun kelurahan.
“Tim Penggerak PKK baik di kecamatan maupun kelurahan kerjasamakan dengan IT yang ada di kantor camat atau kelurahan. Buat pelatihan bagaimana cara membuat vlog, mengedit video, membuat konten. Ini perlu kreativitas,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa semangat gotong royong tetap menjadi ruh utama organisasi PKK. Karena itu, proses transformasi digital juga harus dilakukan secara bersama-sama agar tidak ada kader yang tertinggal.
“PKK ini organisasi yang tumbuh dari semangat gotong royong. Jadi PKK kecamatan atau kelurahan tidak bergerak sendiri. Kita merupakan bagian dari PKK Kota Pontianak sehingga semua harus berkolaborasi,” pungkasnya.
Melalui transformasi digital tersebut, TP PKK Kota Pontianak berharap lahir kader-kader yang tidak hanya mampu menjalankan administrasi organisasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu memberdayakan ekonomi keluarga, serta memperkuat program kesehatan masyarakat berbasis data yang akurat.










