PONTIANAK, AKCAYA – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pontianak Amirullah menegaskan keberhasilan program kesehatan tidak dapat diukur hanya dari besarnya anggaran yang diterima maupun tingkat realisasi belanja. Menurutnya, indikator utama keberhasilan adalah perubahan nyata yang dirasakan masyarakat melalui meningkatnya kualitas layanan kesehatan dan derajat kesehatan warga.

Hal itu disampaikan Amirullah saat membuka kegiatan Pendampingan Performance Improvement Plan (PIP) DAU-Specific Grant Bidang Kesehatan Tahap II Tahun 2026–2027 di Aula A Muis Amin Bapperida Pontianak, kemarin.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Pontianak terus memperkuat kualitas perencanaan pembangunan kesehatan melalui pendampingan yang melibatkan Kementerian Keuangan, Kementerian Kesehatan, hingga World Bank. Pendampingan tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mendorong tata kelola program kesehatan yang lebih efektif dan berbasis kinerja.

Menurut Amirullah, sejak pelaksanaan pendampingan tahap pertama, berbagai persoalan prioritas di sektor kesehatan telah dipetakan melalui sejumlah metode analisis, seperti gap analysis, fishbone analysis, dan root cause analysis.

“Hasilnya bukan hanya daftar permasalahan, tetapi sebuah peta jalan atau roadmap yang menjelaskan akar persoalan, faktor penyebab, peluang perbaikan, serta strategi intervensi yang paling efektif,” ujarnya.

Ia menerangkan, pada tahap kedua pendampingan, pemerintah daerah difokuskan pada penyempurnaan Rencana Peningkatan Kinerja (RPK), menyelaraskannya dengan dokumen perencanaan dan penganggaran daerah, serta memastikan implementasinya berjalan secara terukur dan berkelanjutan.

Amirullah menegaskan, skema DAU-Specific Grant menerapkan prinsip performance-based financing atau pembiayaan berbasis kinerja. Karena itu, daerah tidak hanya dituntut mampu menyerap anggaran, tetapi juga menghasilkan manfaat yang terukur.

“Ukuran keberhasilan bukanlah besarnya anggaran yang diterima daerah, melainkan besarnya perubahan yang mampu diwujudkan melalui penggunaan anggaran tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, tingginya realisasi anggaran tidak otomatis mencerminkan keberhasilan apabila tidak diikuti peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maupun perubahan indikator kesehatan masyarakat.

“Bukan karena realisasi anggarannya semakin besar, tetapi dampaknya, outcome-nya, yang kita harapkan dari kegiatan ini,” jelasnya.

Amirullah juga mengingatkan bahwa indikator keberhasilan pembangunan terus berkembang. Jika sebelumnya lebih banyak diukur dari pertumbuhan ekonomi, kini penilaian semakin komprehensif dengan mempertimbangkan kualitas hidup masyarakat, termasuk melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Di sektor kesehatan, kata dia, indikator yang digunakan pun mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih berfokus pada angka kematian ibu dan bayi, kini salah satu indikator penting adalah usia harapan hidup masyarakat.

“Artinya, semakin ke sini, mengukur keberhasilan pembangunan itu semakin komprehensif dan mencakup semua aspek. Tidak hanya fisik, tetapi juga nonfisik,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, Kota Pontianak saat ini memiliki IPM yang telah mencapai kisaran 82 dengan usia harapan hidup sekitar 76 tahun.

“Artinya, seseorang yang lahir sekarang di Kota Pontianak memiliki harapan hidup hingga sekitar 76 tahun ke depan,” ujarnya.

Meski demikian, Amirullah berharap capaian tersebut terus ditingkatkan melalui perencanaan program kesehatan yang lebih tepat sasaran, berbasis data, dan disusun secara sistematis.

Ia meminta seluruh peserta memanfaatkan pendampingan untuk memperkuat kemampuan menyusun perencanaan, mulai dari mengidentifikasi persoalan, menganalisis penyebab, merumuskan solusi, menyusun rencana aksi, menghitung kebutuhan anggaran, hingga menentukan sumber pendanaan.

“Itu cara membuat perencanaan yang benar. Mulai dari identifikasi masalah, cari penyebabnya, siapkan alternatif pemecahan, buat rencana aksi, ukur biaya yang dibutuhkan, lalu tentukan sumber dananya,” tegasnya.

Amirullah menilai pendampingan dari berbagai pihak menjadi nilai tambah bagi pemerintah daerah karena dapat memperluas perspektif serta meningkatkan kualitas penyusunan program pembangunan.

“Dengan pendampingan, ada hal-hal yang tidak kita ketahui bisa dibantu oleh pendamping. Ilmu kita menjadi lebih luas,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *