PONTIANAK, AKCAYA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso Pontianak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan penyakit menular, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD), menyusul tingginya kasus suspek dengue yang ditangani sepanjang awal tahun 2026.

Direktur RSUD dr. Soedarso, drg. Hary Agung Tjahyadi mengatakan, berdasarkan data Minggu Epidemiologi ke-18 Tahun 2026, sejumlah penyakit menular masih mendominasi pelayanan rumah sakit.

“Pada Minggu Epidemiologi ke-18 Tahun 2026, penyakit berpotensi wabah yang mendapat perhatian di RSUD dr. Soedarso adalah Suspek Dengue, Diare Akut, Pneumonia, ISPA, Suspek Campak, GHPR, dan Suspek Meningitis/Ensefalitis,” ujarnya.

Berdasarkan data rumah sakit, jumlah pasien dengan DHF atau Demam Berdarah Dengue yang ditangani sejak Januari hingga Mei 2026 mencapai 67 pasien. Kasus tertinggi tercatat pada Januari 2026 sebanyak 22 pasien, kemudian Februari 15 pasien, Maret sembilan pasien, April 13 pasien dan Mei delapan pasien.

Menurut Hary Agung, tingginya kasus DBD harus menjadi perhatian serius karena penyakit tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi, terutama bagi pasien yang memiliki penyakit penyerta.

Karena itu, RSUD dr. Soedarso terus memperkuat sistem pencegahan dan pengendalian infeksi di lingkungan rumah sakit melalui pendekatan IPC (Infection Prevention and Control) secara komprehensif.

“Pencegahan penularan di rumah sakit harus dilakukan melalui pendekatan IPC yang komprehensif, didukung kesiapan logistik, SDM, ruang isolasi, dan sistem surveilans aktif,” katanya.

Ia menegaskan kesiapan rumah sakit menjadi faktor penting dalam menghadapi peningkatan kasus penyakit menular guna menjaga keselamatan pasien, tenaga kesehatan, maupun masyarakat secara luas.

“Kesiapan rumah sakit dalam menghadapi peningkatan kasus penyakit menular merupakan komponen penting dalam menjaga keselamatan pasien, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas,” tegasnya.

Sebagai langkah kesiapsiagaan, RSUD dr. Soedarso juga terus melakukan penguatan layanan mulai dari kesiapan tenaga medis, ruang observasi, kapasitas tempat tidur pasien hingga penguatan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung penanganan dini kasus dengue.

Selain itu, pengendalian vektor dan edukasi kepada tenaga kesehatan terkait tata laksana dini serta pencegahan komplikasi terus dilakukan agar penanganan pasien lebih optimal.

Hary Agung menambahkan, pengendalian penyakit menular tidak dapat dilakukan sendiri oleh rumah sakit, melainkan membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.

“Pendekatan multidisiplin dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan pengendalian penyakit menular,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *