PONTIANAK, AKCAYA – RSUD dr Soedarso Pontianak mencatat sejarah baru dalam layanan kesehatan di Kalimantan Barat. Untuk pertama kalinya, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kalbar itu melakukan tindakan intervensi penyakit jantung bawaan berupa PDA Device Closure dan ASD Device Closure bersama tim dokter dari RSJPD Harapan Kita.

Langkah tersebut menjadi bagian dari percepatan layanan prioritas nasional di bidang kesehatan jantung sekaligus membuka akses pengobatan yang lebih dekat bagi masyarakat Kalbar yang selama ini harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah.

Direktur RSUD dr Soedarso, drg. Hary Agung Tjahyadi, mengatakan tindakan ini merupakan momentum penting dalam pengembangan layanan jantung di rumah sakit tersebut.

“Kegiatan yang kita lakukan ini satu tindakan yang pertama kali kita lakukan di RSUD dr Soedarso termasuk pertama kali di wilayah Kalbar. Ini bagian dari upaya percepatan program layanan prioritas nasional terkait layanan jantung,” ujarnya.

Menurut Hary Agung, selama ini pasien dengan penyakit jantung bawaan harus dirujuk ke rumah sakit vertikal yang memiliki layanan khusus. Padahal, kasus jantung bawaan di Kalbar tergolong cukup tinggi.

Ia menyebutkan, sejak Agustus 2025 hingga Mei 2026 jumlah kunjungan pasien jantung bawaan ke poli RSUD dr Soedarso mencapai sekitar 800 kunjungan, dengan rata-rata tujuh kasus per minggu yang harus dirujuk keluar daerah.

“Dengan adanya layanan ini, masyarakat Kalbar akan lebih mudah mendapatkan akses pengobatan tanpa harus keluar daerah. Apalagi tindakan ini juga ditanggung BPJS,” jelasnya.

Hary Agung berharap layanan tersebut menjadi awal pengembangan tindakan-tindakan jantung bawaan lainnya di RSUD dr Soedarso, sehingga masyarakat tidak lagi terkendala biaya maupun akses layanan kesehatan.

Sementara itu, Tim Dokter RSJPD Harapan Kita, dr. Radityo Prakoso, SpJP(K), menjelaskan bahwa penanganan penyakit jantung bawaan kini berkembang pesat dengan metode tanpa operasi.

“Dalam metode klasik dulu dilakukan pembedahan, tetapi sejak tahun 2000 mulai dilakukan penutupan tanpa operasi melalui cathlab menggunakan sinar X,” katanya.

Namun sejak 2018, tim RSJPD Harapan Kita mulai mengembangkan metode baru berupa penutupan defek tanpa radiasi yang saat ini masih terbatas dilakukan di dunia.

“Indonesia menjadi pelopor di Asia Tenggara dalam penggunaan metode penutupan defek tanpa radiasi sejak 2018. Sampai hari ini kami sudah melakukan sekitar 1.000 prosedur,” ungkapnya.

Ia memastikan RSUD dr Soedarso sudah memiliki fasilitas dan tim yang siap menjalankan tindakan tersebut secara mandiri.

“Hardware dan software sudah tersedia di RSUD dr Soedarso. Timnya juga sudah mampu mengerjakan secara mandiri,” tambahnya.

Tim Dokter RSUD dr Soedarso, dr. Anindia Wardani, Sp.JP(K), menjelaskan tindakan tersebut dilakukan untuk menutup sekat jantung yang bocor pada pasien bayi maupun dewasa tanpa operasi terbuka.

“Sekarang tidak perlu operasi besar. Kita menggunakan metode minimal invasif melalui pembuluh darah paha untuk memasukkan alat penutup,” jelasnya.

Menurutnya, tindakan tersebut relatif aman dengan waktu pengerjaan sekitar satu hingga dua jam menggunakan bius total. Pasien juga dapat pulih lebih cepat dibandingkan operasi konvensional.

“Pasien masuk hari ini, besok tindakan, lalu bisa pulang. Dari enam pasien yang sudah dilakukan tindakan, hasil evaluasi ekokardiografi aman dan seluruh pasien bisa pulang,” katanya.

Ia menegaskan layanan intervensi jantung bawaan tersebut akan terus dikembangkan di RSUD dr Soedarso sebagai bagian dari peningkatan layanan kesehatan spesialistik di Kalimantan Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *