PONTIANAK, AKCAYA – Tak ada sekat ketika warga duduk bersila di sepanjang seprah. Tokoh masyarakat, pejabat, ulama, aparat, ibu-ibu hingga warga biasa membaur dalam satu ruang kebersamaan.

Tangan-tangan mereka bergantian mengambil hidangan yang tersaji. Percakapan dan sapaan akrab mengalir di antara botol air minum, piring saji dan aneka lauk yang tersusun di atas kain kuning keemasan.

Ketupat colet menjadi salah satu hidangan yang menggugah selera. Bersama nasi putih, paceri, dalca, rendang, aneka lauk berkuah dan pelengkap lainnya, hidangan tersebut bukan sekadar jamuan.

Advertisement

Di balik sepiring makanan yang disantap bersama, tersimpan pesan tentang berbagi dan mempererat silaturahmi.

Robo’-Robo’ hidup bukan hanya sebagai tradisi, tetapi sebagai ruang perjumpaan masyarakat Pontianak.

Tradisi tersebut mempertemukan dimensi spiritual dan sosial. Masyarakat berkumpul, bersyukur, bermunajat serta memanjatkan doa agar Kota Pontianak senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, Robo’-Robo’ tidak semestinya dimaknai sekadar sebagai agenda tahunan atau perayaan budaya.

Menurutnya, tradisi tersebut memiliki nilai religius yang kuat, terutama sebagai momentum bagi masyarakat untuk bersama-sama memohon keselamatan dan ketenteraman.

“Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, ancaman kebakaran lahan, hingga penurunan kualitas air Sungai Kapuas akibat intrusi air laut, Robo’-Robo’ terasa makin relevan sebagai ikhtiar batin masyarakat untuk mengetuk langit bersama,” ujar Edi saat membuka Pesta Rakyat Robo’-Robo’ Kota Pontianak 2026 di Gedung Serbaguna Kelurahan Banjar Serasan, Jalan Tanjung Raya II, Rabu (12/8/2026).

Bagi Edi, Robo’-Robo’ juga menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.

Masyarakat dari berbagai latar belakang duduk bersama tanpa melihat status sosial. Tradisi tersebut menjadi gambaran bagaimana keberagaman dapat dirawat melalui kebersamaan.

Apalagi Pontianak merupakan kota yang dihuni masyarakat dengan latar belakang suku dan agama yang beragam.

“Kita tidak cuma melestarikan tradisi, tetapi juga mengisinya dengan ketertiban, kepedulian sosial, ketaatan pada aturan, serta komitmen menjaga kebersihan dan kedamaian kota,” katanya.

Semangat kebersamaan itu semakin terasa karena Robo’-Robo’ tahun ini berlangsung beriringan dengan momentum menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tradisi lama kemudian bertemu dengan semangat kebangsaan: duduk bersama, berbagi makanan, menjaga lingkungan dan merawat kedamaian kota.

Suasana serupa juga terlihat di Taman Teras Parit Nanas, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara.

Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengatakan, Robo’-Robo’ merupakan warisan budaya yang tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga harus dimaknai nilai-nilainya.

Menurutnya, Robo’-Robo’ menjadi momentum untuk bermunajat bersama, memanjatkan doa keselamatan dunia dan akhirat sekaligus mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT.

Namun, lebih dari itu, Bahasan melihat tradisi tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan masyarakat.

“Perbedaan kita jadikan kekuatan untuk saling menghormati,” katanya.

Menurut Bahasan, kondusivitas Kota Pontianak bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun aparat. Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga keamanan, ketertiban dan keharmonisan lingkungan.

Karena itu, semangat Robo’-Robo’ diharapkan tidak berhenti ketika seprah dilipat dan acara selesai.

Nilai saling membantu dan saling menjaga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasan juga mengaitkan semangat Robo’-Robo’ dengan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, kebersamaan yang tumbuh dalam tradisi tersebut harus menjadi energi untuk memperhatikan berbagai persoalan warga, termasuk ruang publik, penerangan lingkungan, pendidikan hingga rumah tidak layak huni.

“Ini harus jadi pengingat kita untuk saling membantu, saling menjaga, dan memastikan tak ada warga yang tertinggal,” sebutnya.

Pada akhirnya, Robo’-Robo’ memperlihatkan wajah Pontianak yang dibangun bukan hanya oleh gedung dan jalan, tetapi juga oleh tradisi dan hubungan antarmanusia.

Ketupat colet yang disantap bersama menjadi simbol sederhana tentang bagaimana makanan dapat mempertemukan siapa saja.

Tidak ada pejabat, ulama, aparat maupun warga biasa ketika semua duduk dalam satu seprah. Yang ada adalah kebersamaan.

Sebab, dalam tradisi Robo’-Robo’, keberkahan bukan hanya dicari melalui doa, tetapi juga dihidupkan melalui berbagi, bersilaturahmi dan menjaga persaudaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *