Ada kota yang tumbuh dari beton dan ambisi. Pontianak tumbuh dari sungai, doa, dan keberanian. Pada 23 Oktober 1771, di pertemuan tiga aliran—Sungai Landak, Kapuas Kecil, dan Kapuas Besar—Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan, mendirikan surau yang kelak menjadi Masjid Jamik, dan menancapkan benih peradaban yang kini berusia 255 tahun. Sebuah permulaan yang sederhana, tetapi mengandung takdir besar: kota yang lahir tepat di garis khatulistiwa, di titik nol derajat lintang bumi, tempat matahari melintas dua kali setahun dan bayangan manusia sejenak menghilang di bawah kaki.
Di usia seperempat milenium ini, Pontianak merayakan dirinya dengan tema “Tangguh Bersahabat” —sebuah frasa yang bukan sekadar slogan, melainkan cermin dari karakter kota yang telah lama dibentuk oleh sungai, perdagangan, dan keberagaman. Tema ini mengingatkan bahwa kemajuan sebuah kota tidak semata bergantung pada pemerintah, tetapi pada kesadaran warganya untuk merawat lingkungan, menjaga kebersamaan, dan memastikan pembangunan berjalan berkelanjutan.
Kota yang Didefinisikan oleh Air
Pontianak adalah kota delta. Luasnya 107,82 kilometer persegi, terbagi dalam enam kecamatan dan 29 kelurahan, dengan 61 sungai dan parit yang mengalir seperti urat nadi kehidupan. Secara astronomis, kota ini terletak antara 0°02’24” Lintang Utara dan 0°05’37” Lintang Selatan—wilayah yang dilalui garis khatulistiwa, menjadikannya salah satu dari sedikit kota di dunia yang benar-benar “berdiri di tengah bumi”. Iklimnya tropis, hangat dan lembap, dengan suhu berkisar 24–32°C dan kelembapan di atas 80 persen; hujan turun hampir sepanjang tahun, membasahi tanah gambut yang menjadi fondasi kota.
Namun, air bukan hanya kondisi geografis. Ia adalah identitas. Sejak masa Kesultanan Kadriah hingga era modern, Sungai Kapuas dan Landak menjadi pusat kehidupan ekonomi dan sosial. Pedagang dari Bugis, Banjar, Tambelan, Kamboja, hingga Saigon membangun perkampungan di sepanjang tepian sungai, meninggalkan jejak multikultural yang masih terasa hingga hari ini. Menjaga sungai berarti menjaga Pontianak itu sendiri.
Wajah Manusia Pontianak: Majemuk, Harmonis, dan Terus Bertumbuh
Per Juli 2025, penduduk Kota Pontianak mencapai 687.440 jiwa. Angka ini tidak hanya statistik; ia adalah potret keberagaman yang hidup. Sekitar 77 persen penduduk memeluk Islam, diikuti oleh Buddha (76.150 jiwa), Katolik (40.949 jiwa), Kristen (33.384 jiwa), dan Hindu (33 jiwa). Di balik angka-angka ini, terdapat suku-suku besar—Melayu, Tionghoa, Dayak, Jawa, Madura, dan lainnya—yang hidup berdampingan dalam bingkai kebhinekaan. Wali Kota Edi Rusdi Kamtono menyebut Pontianak sebagai “rumah besar bagi kita semua,” sebuah frasa yang bukan retorika, melainkan pengalaman sehari-hari.
Keberagaman ini memiliki akar historis. Tiga suku besar—Dayak, Tionghoa, dan Melayu—telah lama hidup berdampingan dengan cara yang unik dan harmonis: Dayak dengan tradisi leluhur dan nilai kebersamaan, Tionghoa dengan warisan dagang dan budaya leluhur, Melayu dengan adat dan religiusitasnya. Dalam menghadapi perbedaan, kota ini memilih jalan akulturasi, bukan segregasi; bahasa Melayu menjadi jembatan komunikasi antar etnis, sementara tradisi Tidayu—Tionghoa, Dayak, Melayu—terus dirawat sebagai simbol kebersamaan.
Ekonomi yang Berdenyut di Tepi Sungai.
Di balik pesona kulturalnya, Pontianak bergerak dengan ritme ekonomi yang tak bisa diabaikan. Pada triwulan kedua 2025, pertumbuhan ekonomi kota ini mencapai 5,03 persen, naik dari 4,7 persen pada periode sebelumnya. Sektor perdagangan menjadi lokomotif utama—meliputi jasa konstruksi, industri pengolahan, reparasi kendaraan, serta perdagangan besar dan eceran. Pemerintah kota tidak berhenti di situ. Digitalisasi UMKM, pengembangan wisata berbasis budaya dan kuliner, ekowisata sungai, hingga penguatan infrastruktur digital dan dukungan bagi konten kreator serta startup menjadi agenda yang terus didorong.
Kuliner adalah salah satu wajah ekonomi yang paling menggugah. Pontianak tidak pernah kehabisan cerita rasa. Chai Kwe, camilan berbungkus tepung beras dengan isian bengkuang, talas, atau kucai, adalah hasil akulturasi Tionghoa yang telah menjadi bagian dari identitas kota. Sotong Pangkong—sotong kering yang dipukul hingga tipis dan disajikan dengan sambal pedas—adalah ikon lain yang tak tergantikan. Belum lagi es durian yang telah lama mendunia, memadukan durian asli, cita rasa autentik, dan inovasi penyajian yang berkontribusi nyata bagi pariwisata dan ekonomi lokal . Bahkan kue sagu bakar, warisan keluarga sejak 1982, kini menembus pasar Malaysia dan Brunei, dikenal dengan sebutan kue bangkit.
Pada Mei 2026, Kota Pontianak mencatat sejarah baru: 12.000 porsi lontong Sukadana tersaji serentak di Kalbar Food Festival ke-7, memecahkan rekor dunia dan menghadirkan kembali nilai gotong royong yang kian langka. Aroma santan, bawang, dan rempah memenuhi udara; tangan-tangan masyarakat bergerak serempak—bukan sekadar memasak, tetapi merayakan kebersamaan.
Ikon-ikon yang Menjaga Ingatan
Pontianak memiliki cara unik untuk mengingat dirinya. Tugu Khatulistiwa berdiri tepat di garis nol derajat lintang bumi, menjadi saksi fenomena kulminasi matahari yang terjadi dua kali setahun. Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, masjid tertua di kota ini, masih berdiri di tepian Sungai Kapuas dengan arsitektur klasik yang memberi suasana spiritual menenangkan. Tidak jauh dari sana, Keraton Kadariah menyimpan sejarah panjang Kesultanan Pontianak, sementara Klenteng Thian Hou Keng menjadi salah satu klenteng tertua yang masih aktif, terbuka bagi pengunjung dari berbagai latar belakang. Waterfront Pontianak dan Alun-Alun Kapuas menjadi ruang publik tempat warga bersantai, menikmati senja, dan merayakan kehidupan kota.
Membangun Tanpa Berhenti
Di usia 255 tahun, Pontianak tidak berhenti membangun. Infrastruktur sanitasi menjadi prioritas: proyek Citywide Inclusive Sanitation Program (CWIP) Paket 03 Nipah Kuning B, yang dikerjakan WIKA, akan membangun jaringan perpipaan air limbah domestik untuk mencegah pencemaran Sungai Kapuas dan menjaga kualitas air baku. Proyek ini menghadapi tantangan khas Pontianak—tanah gambut dengan daya dukung rendah, muka air tanah tinggi, dan risiko banjir rob—namun dijawab dengan teknologi pipe jacking dan open cut yang disesuaikan dengan karakteristik lahan basah.
Di sisi lain, pemerintah kota merencanakan pembangunan trotoar di Jalan Sultan Hamid II, pelebaran Jalan Tekam, pembangunan Rusunawa di Gang Semut, serta outer ring road yang menghubungkan Tanjung Raya hingga Ampera untuk mengurangi beban lalu lintas. Proyek-proyek strategis seperti Jembatan Kapuas III dan jalan tol yang menghubungkan Bandara Supadio dengan Pelabuhan Kijing juga tengah diusulkan, menjanjikan konektivitas yang lebih kuat dan wajah baru bagi Pontianak di masa depan.
Mengapa Pontianak Tak Pernah Kehabisan Alasan untuk Dikagumi
Ada kota yang dikagumi karena gemerlapnya. Pontianak dikagumi karena kedalamannya—kedalaman sejarah yang mengalir bersama sungai, kedalaman budaya yang tumbuh dari perjumpaan, dan kedalaman semangat yang tak pernah surut meski air pasang datang dan pergi. Di usia 255 tahun, Pontianak adalah bukti bahwa kota yang lahir dari doa dan keberanian tidak akan pernah kehabisan alasan untuk dicintai. Ia tangguh, karena telah melalui 255 tahun tanpa kehilangan jati diri. Ia bersahabat, karena telah belajar bahwa keberagaman bukan beban, melainkan kekayaan. Dan ia khatulistiwa, karena di sinilah bumi seolah berhenti sejenak untuk mengagumi salah satu karya terbaiknya.
Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media











