Di sudut-sudut kota Madinah, lebih dari 14 abad silam, sebuah bangunan sederhana berdiri. Atapnya dari pelepah kurma, tiangnya dari batang pohon, lantainya dari pasir dan kerikil. Namun dari bangunan itulah gelombang peradaban terbesar dalam sejarah manusia mengalir deras, menerangi tiga benua, membangunkan tidur panjang umat manusia dari kegelapan menuju cahaya ilmu.
Masjid Nabawi bukan sekadar tempat sujud. Ia adalah rahim peradaban — tempat lahirnya undang-undang, tempat dirumuskannya strategi perang, tempat dididiknya para pemimpin, tempat diputuskan nasib bangsa-bangsa.
Hari ini, ketika kita melangkah ke banyak masjid di negeri ini, kita mendapati keindahan yang memukau. Kubah-kubah menjulang megah, marmer mengkilap, karpet Turki terhampar, pendingin udara mendinginkan setiap sudut. Namun sayangnya, di balik gemerlap fisik itu, denyut nadi peradaban kerap tak lagi terdengar. Gerbang masjid terkunci rapat di luar jam salat. Jamaah datang, bersujud, lalu pergi — tanpa jejak transformasi, tanpa sentuhan pemberdayaan, tanpa gaung peradaban.
Inilah paradoks yang menuntut kita merenung: mengapa masjid yang begitu banyak dan begitu indah justru kerap gagal menjawab persoalan riil umat? Mengapa di tengah pertumbuhan fisik yang masif, kita masih mendengar tangis kemiskinan, kegelisahan generasi muda, dan ketimpangan yang tak terselesaikan? Jawabannya mungkin terletak pada satu hal: kita telah kehilangan marwah masjid sebagai pusat peradaban.
Untuk memahami betapa agungnya peran masjid, kita perlu menengok kembali ke masa Rasulullah ﷺ. Masjid Nabawi bukan sekadar ruang ibadah mahdhah — ia adalah kompleks multifungsi yang menampung seluruh denyut kehidupan umat. Dalam bidang tarbiyah, masjid berfungsi sebagai ruang pembinaan iman dan ilmu. Para sahabat menghadiri halaqah, belajar langsung dari Rasulullah, dan menyerap ajaran Islam melalui interaksi harian. Dalam aspek kesehatan, ketika terjadi peperangan, para pejuang yang terluka dirawat di Masjid Nabawi. Dalam bidang militer, masjid menjadi pusat konsolidasi dan perencanaan strategi — tempat Rasulullah mengumpulkan para sahabat, menyusun taktik, dan menguatkan mental umat. Pada aspek pemerintahan, masjid berfungsi sebagai balai musyawarah, forum diplomasi, ruang penyelesaian masalah publik, hingga kantor pelayanan masyarakat.
Keagungan peran ini berlanjut jauh setelah masa kenabian. Masjid Al-Azhar di Kairo, yang dibangun pada abad ke-4 Hijriah, tumbuh menjadi universitas terbuka jauh sebelum dunia mengenal konsep universitas modern. Selama seribu tahun lebih, Al-Azhar tetap menjadi mercusuar peradaban Islam, memancarkan cahaya ilmu ke seluruh penjuru dunia. Di Andalusia, masjid-masjid menjadi pusat persinggungan budaya, tempat lahirnya filsafat, kedokteran, matematika, dan arsitektur yang mengubah wajah Eropa.
Mantan Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin dengan tepat menggambarkan betapa Rasulullah berhasil mengubah Yatsrib — sebuah kampung kecil yang tidak dikenal dan tidak masuk dalam peta — menjadi Madinatul Munawaroh, pusat peradaban yang gemanya sampai ke seluruh dunia, termasuk ke negeri kita. Masjid menjadi saksi persinggungan berbagai kebudayaan, saksi pergantian pemerintahan, dan saksi perubahan zaman.
Namun sejarah tidak selalu berjalan lurus. Dalam lintasan sejarah modern, terjadi apa yang oleh para sosiolog disebut sebagai disfungsi sosiologis — masjid cenderung terjebak dalam seremonial formal yang terputus dari realitas problematik jamaahnya. Masjid mengalami penyempitan fungsi hanya sebagai tempat ibadah mahdhah, sementara gerbangnya sering kali terkunci rapat di luar jam-jam salat.
Data kontradiktif mengungkapkan realitas yang memilukan. Indonesia adalah negara dengan jumlah masjid terbanyak di dunia — sekitar 811.000 unit berdasarkan data 2025, jauh melampaui Republik Demokratik Kongo dengan 385.000 masjid dan Arab Saudi dengan 326.000 masjid. Pulau Jawa menjadi wilayah dengan konsentrasi masjid tertinggi, dengan Jawa Barat memimpin (63.330 masjid), disusul Jawa Timur (53.524 masjid), dan Jawa Tengah (52.792 masjid).
Namun, data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka kemiskinan di beberapa wilayah dengan jumlah masjid yang sangat padat masih berada di atas rata-rata nasional. Ini adalah indikasi kuat adanya gejala ritualisasi sempit — aktivitas sosial, ekonomi, dan edukasi terpisah sepenuhnya dari agenda takmir, sehingga masjid gagal merespons isu-isu krusial seperti ketimpangan ekonomi, degradasi lingkungan, dan alienasi generasi muda.
Kritik tajam dari pemikir Islam kontemporer seperti Azyumardi Azra menegaskan bahwa masjid yang ideal harus mampu “hidup di tengah masyarakat dan ikut membentuk peradaban,” bukan sekadar menjadi simbol fisik yang statis dan sepi dari dinamika intelektual-sosial. Disfungsi ini berakar pada manajemen takmir yang dikelola secara apa adanya, minim inovasi, bersifat eksklusif, serta tidak adaptif terhadap perubahan zaman. Pola pikir kepengurusan konvensional menganggap keberhasilan masjid hanya diukur dari besarnya saldo kas atau keindahan arsitektur, bukan dari seberapa besar dana tersebut mengalir untuk mengentaskan kelaparan atau membiayai pendidikan anak-anak miskin di sekitar masjid.
Namun, di tengah keprihatinan itu, fajar baru mulai menyingsing. Kesadaran akan urgensi mengembalikan marwah masjid sebagai pusat peradaban semakin menguat di berbagai lapisan. Dari mimbar-mimbar kebijakan hingga lingkaran-lingkaran pengajian, dari kantor-kantor pemerintah hingga ruang-ruang diskusi komunitas, gaung revitalisasi masjid bergema semakin nyaring.
Lembaga Takmir Masjid PBNU menegaskan bahwa fungsi masjid hari ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban yang berperan strategis sebagai pusat dakwah dan literasi, kaderisasi, pemberdayaan ekonomi umat, pelestarian tradisi budaya, hingga resolusi konflik dan harmoni sosial. Ketua MUI Bidang Dakwah, K.H. Abdul Manan Ghani, menegaskan bahwa masjid harus dikembalikan pada fungsi utamanya sebagai pusat dakwah sekaligus kebangkitan ekonomi umat — “tempat lahirnya ilmu, ukhuwah, dan kemandirian ekonomi”.
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, M. Jusuf Kalla, menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat persatuan, dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Sementara Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong masjid menjadi pusat peradaban yang inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan umat: “Masjid harus tampil sebagai pusat peradaban yang ramah, terbuka, dan membangun. Dari masjid inilah nilai-nilai keimanan, kemanusiaan, dan kebangsaan ditumbuhkan secara bersamaan.”
Suara dari Kalimantan Barat: Visi H. Irsan tentang Masjid Berdaya
Di ujung barat Borneo, sebuah gerakan senyap namun menggema tengah bertumbuh. H. Irsan, Ketua Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kalimantan Barat, berdiri di garis terdepan gerakan ini. Dengan keyakinan yang mengakar, ia menegaskan bahwa masjid tidak boleh berhenti sebagai tempat ibadah ritual semata, melainkan harus menjelma menjadi pusat pemberdayaan umat yang holistik — sebuah visi yang ia terjemahkan ke dalam program-program nyata yang menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat.
Salah satu penekanan terkuat H. Irsan adalah pemberdayaan ekonomi pemuda dan remaja masjid. Ia secara spesifik mendorong pengembangan sektor pangan dan pertanian dengan memanfaatkan program kerja sama dari kementerian dan instansi terkait. Ini sejalan dengan program nasional BKPRMI, GERBANG EMAS (Gerakan Bangun Ekonomi Masjid), yang menjadikan masjid sebagai episentrum perubahan ekonomi umat. Visi ini bukan sekadar wacana — ia adalah panggilan untuk mengembalikan masjid pada fungsi sosial-ekonominya sebagaimana yang pernah dipraktikkan Rasulullah ﷺ ketika masjid menjadi pusat distribusi zakat, tempat penyelesaian utang, dan ruang pemberdayaan kaum dhuafa.
Penguatan Kapasitas Sumber Daya Manusia
H. Irsan menekankan pentingnya penguatan kemampuan keagamaan di tingkat masyarakat. Melalui BKPRMI, ia mendorong pelatihan untuk mencetak imam, khatib, dan tenaga fardhu kifayah dari tingkat desa, agar pelayanan keagamaan tidak hanya bergantung pada tokoh yang sudah ada. Ia juga fokus pada regenerasi di tengah tantangan era digital. Dalam sebuah pernyataannya, ia menegaskan:
“Pelatihan seperti ini sangat penting karena kita ingin memastikan masyarakat memiliki generasi yang siap mengambil peran dalam pelayanan keagamaan. Imam, khatib, dan fardhu kifayah merupakan kebutuhan yang selalu ada di tengah masyarakat.”
Pernyataan ini mencerminkan kesadaran mendalam bahwa masjid yang hidup adalah masjid yang mampu melahirkan kader-kader baru — generasi yang tidak hanya fasih dalam ilmu agama, tetapi juga cakap dalam menghadapi dinamika zaman.
H. Irsan menyatakan komitmen untuk melanjutkan program yang sudah berjalan seperti Festival Anak Saleh Indonesia (FASI), sambil menghidupkan kembali Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan TPA yang selama ini belum optimal. Ia menegaskan:
“Program-program yang sudah berjalan selama ini tentunya akan kita lanjutkan. Yang belum berjalan secara optimal akan kita hidupkan kembali.”
Ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya masjid sebagai pusat pendidikan dasar Al-Qur’an — fondasi pertama bagi lahirnya generasi yang mencintai kitab sucinya dan memahami ajaran agamanya secara benar.
H. Irsan membangun kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah. BKPRMI Kalbar di bawah kepemimpinannya akan aktif berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Kolaborasi ini mencerminkan model pentahelix yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan media — sebuah pendekatan yang semakin diakui sebagai kunci keberhasilan pemberdayaan masjid di era modern.
Visi H. Irsan ini adalah pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil di tingkat akar rumput. Dari Kalimantan Barat, sebuah gerakan tengah bertumbuh — gerakan yang mengembalikan masjid pada marwahnya sebagai pusat peradaban, tempat umat tidak hanya bersujud, tetapi juga bangkit.
Yang membedakan gelombang revitalisasi kali ini adalah keberadaan program-program konkret yang menyentuh langsung kebutuhan umat.
Program ini diarahkan untuk menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan sosial-ekonomi berbasis jamaah.
Di berbagai daerah, transformasi masjid telah menunjukkan hasil nyata. Pemerintah Provinsi Lampung mendukung konsep masjid sebagai pusat pemberdayaan umat dengan program-program yang meliputi penyaluran zakat, layanan kesehatan, pinjaman bergulir tanpa bunga bagi pelaku UMKM, pelatihan keterampilan, serta pengelolaan unit usaha produktif berbasis masjid.
Di Kalimantan Barat, gerakan yang digagas H. Irsan melalui BKPRMI menunjukkan bahwa semangat revitalisasi masjid tidak hanya bergema di pusat-pusat kekuasaan, tetapi juga di daerah-daerah. Dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi pemuda, penguatan kapasitas keagamaan, dan revitalisasi TPQ/TPA, H. Irsan membuktikan bahwa masjid dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial-ekonomi di tingkat akar rumput.
Menuju Kebangkitan Peradaban
Menteri Agama Nasaruddin Umar memiliki visi besar: menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat peradaban Islam dunia yang baru. Dalam forum MABIMS, ia berbagi praktik baik tentang pemberdayaan masjid dan menegaskan pentingnya menyatukan strategi keagamaan negara-negara kawasan untuk membangun solidaritas Islam Asia Tenggara.
Visi ini bukanlah mimpi di siang bolong. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dengan lebih dari 800.000 masjid yang tersebar dari perkotaan hingga pelosok desa, Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Yang diperlukan adalah kemauan kolektif untuk mengubah cara kita memandang dan mengelola masjid — dari sekadar bangunan fisik menjadi institusi peradaban.
KH Cholil Nafis dari MUI mengingatkan bahwa masjid yang makmur bukan hanya ramai oleh jamaah, tetapi juga menghidupkan masyarakat di sekitarnya dengan keberkahan. Ia mengusulkan arah strategis gerakan ini: penguatan manajemen masjid profesional dan transparan, sinergi dengan lembaga zakat, koperasi, dan pemerintah daerah, peningkatan kapasitas takmir dan dai, digitalisasi program dakwah dan pemberdayaan, serta evaluasi berkala berbasis pengukuran dampak sosial.
Bayangkan jika setiap masjid di negeri ini — dari Masjid Istiqlal yang megah hingga surau kecil di pelosok desa — kembali menyala sebagai pusat peradaban. Bayangkan jika gerbangnya tak pernah terkunci bagi mereka yang mencari ilmu, mencari keadilan, mencari penghidupan, mencari kedamaian. Bayangkan jika dari setiap mihrab mengalir bukan hanya doa, tetapi juga solusi bagi kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.
Masjid bukanlah monumen masa lalu. Ia adalah titik nol peradaban — tempat segala sesuatu dimulai, tempat segala sesuatu dikembalikan. Sebagaimana Rasulullah membangun Madinah dari Masjid Nabawi, kita pun dapat membangun kembali peradaban dari masjid-masjid kita. Yang diperlukan bukanlah dana yang besar, bukan pula bangunan yang lebih megah, melainkan kesadaran bahwa masjid adalah milik umat, dikelola oleh umat, dan untuk kemaslahatan umat.
KH. Ma’ruf Amin pernah berpesan bahwa masjid berfungsi tidak saja sebagai institusi spiritual, tetapi jauh lebih daripada itu — institusi pendidikan, sosial, pemerintahan, dan bahkan administrasi. “Dengan peran yang sentral tersebut, peradaban umat Islam dibangun dari masjid dan pada akhirnya kemajuan peradaban berkembang mewarnai kehidupan masyarakat.”
Dari Kalimantan Barat, H. Irsan menambahkan satu dimensi penting: bahwa masjid harus menjadi rumah bagi generasi muda, tempat mereka menemukan identitas, keterampilan, dan harapan. Melalui GERBANG EMAS, melalui pelatihan imam dan khatib, melalui revitalisasi TPQ dan TPA, ia membuktikan bahwa masjid dapat menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan — pemimpin yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga cakap secara sosial dan ekonomi. Selain itu, seperti kegiatan Jambore BKPRMI II di Kabupaten Sambas yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 – 15 November 2026 mendatang, InsyaAllah sangat memberikan arti penting bagi pemuda dan remaja masjid dalam meningkatkan kemandirian, menguatkan karakter yang pada gilirannya tentu diharapkan dapat ikut membangun peradaban yang gemilang.
Maka mari kita bertanya pada diri sendiri: masjid seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi mendatang? Masjid yang hanya hidup saat salat, atau masjid yang menghidupkan seluruh denyut kehidupan umat? Masjid yang menjulang tinggi namun sepi makna, atau masjid yang sederhana namun menjadi tiang cahaya peradaban?
Marilah kita kembalikan marwah masjid. Bukan dengan retorika, melainkan dengan langkah nyata. Sebab dari masjid, peradaban itu pernah lahir. Dan dari masjid pula, peradaban itu akan kembali bangkit. Wallahu a’lam bish-shawab.
Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media











