PONTIANAK, AKCAYA — Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 dimanfaatkan Pemprov Kalbar mempercepat reformasi sektor pendidikan. Di bawah kepemimpinan Gubernur Ria Norsan, berbagai program strategis digulirkan guna memastikan tidak ada anak usia sekolah yang tertinggal dari akses pendidikan.
Selaras dengan tema nasional “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Ria Norsan menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kedaulatan bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh pemerintah bukanlah pada gedung-gedung beton, melainkan pada otak manusia. Kalau kita ingin Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon, maka kuncinya hanya satu: pendidikan. Kita sedang membangun peradaban, bukan sekadar statistik,” tegasnya, Sabtu (2/5/2026).
IPM Kalbar Naik ke Kategori Tinggi
Pemprov Kalbar mencatat capaian positif pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang kini berada di angka 72,09. Angka tersebut menempatkan Kalbar dalam kategori “tinggi”, meningkat 1,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Ria Norsan, capaian ini menjadi indikator bahwa kebijakan pembangunan yang dijalankan telah berada di jalur yang tepat.
Subsidi Pendidikan untuk 21 Ribu Siswa
Untuk mengatasi kesenjangan akses pendidikan akibat faktor ekonomi, Pemprov Kalbar sejak 2025 mengucurkan subsidi SPP bagi 21.000 siswa SMA, SMK, dan SLB swasta di 274 sekolah.
Langkah ini diambil guna memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.
“Saya tidak mau lagi mendengar ada anak Kalbar yang berhenti sekolah karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya pendidikan. Di tanah ini, pendidikan adalah hak masyarakat, bukan hak istimewa mereka yang mampu saja,” ujarnya.
Dorong Digitalisasi Sekolah
Selain subsidi biaya, Pemprov Kalbar juga mempercepat digitalisasi pendidikan melalui program internet gratis di sekolah. Program yang dimulai dari sembilan sekolah percontohan ini kini tengah diperluas ke ratusan sekolah, termasuk di wilayah terpencil seperti Kapuas Hulu dan Ketapang.
“Internet di sekolah bukan sekadar soal jaringan WiFi. Ini adalah upaya memangkas jarak. Siswa kita di Kapuas Hulu atau Ketapang harus memiliki akses informasi yang sama dengan siswa di Jakarta bahkan London. Kita buka jendela dunia lewat digitalisasi,” kata Ria Norsan.
Inovasi Desa Sakti Tekan Angka Putus Sekolah
Pemerintah juga menghadapi tantangan besar dengan masih adanya lebih dari 114 ribu anak yang belum terserap dalam pendidikan formal. Untuk itu, diluncurkan program “Desa Sakti” yang mendorong kepala daerah aktif memastikan anak usia sekolah kembali masuk sistem pendidikan.
Program ini diperkuat dengan berbagai kolaborasi lintas sektor, termasuk pendidikan kesetaraan bagi pekerja, pengembangan Sekolah Unggul Garuda dan Sekolah Rakyat, serta revitalisasi taman budaya sebagai ruang ekspresi generasi muda.
Target IPM Tembus 75
Ke depan, Pemprov Kalbar menargetkan IPM berada pada kisaran 73,11 hingga 75. Ria Norsan optimistis target tersebut dapat tercapai melalui sinergi berbagai pihak.
“Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan yang merata dan berkelanjutan. Mari kita perkuat partisipasi semesta, karena mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas kita bersama,” pungkasnya. (elp)










