Ada kepergian yang datang seperti fajar yang terlalu cepat menyingsing: tanpa memberi waktu bagi sahabat untuk berpamitan, tanpa memberi ruang bagi kader untuk sekadar menatap wajahnya sekali lagi. Pada Ahad, 25 Oktober 2026, kabar duka itu merambat dari Rusia ke seluruh penjuru Nusantara: H. Fathan Subchi telah berpulang. Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan RI itu wafat karena sakit, meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan Ikatan Keluarga Alumni PMII.
Fathan bukan sekadar nama yang tercatat dalam struktur organisasi. Ia adalah pengayom. Dalam dirinya, jabatan “Ketua Umum PB IKA PMII” bukanlah mahkota yang dipamerkan, melainkan payung yang dibentangkan untuk melindungi dan menaungi. Ia terpilih memimpin periode 2025–2030 melalui Musyawarah Nasional VII IKA PMII di Jakarta pada 21–23 Februari 2025, dengan 188 suara—sebuah mandat yang nyaris bulat, cermin kepercayaan yang luar biasa dari alumni di seluruh Indonesia. Dalam pidato kemenangannya, ia tidak berbicara tentang kekuasaan, melainkan tentang kepercayaan: “Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dari para alumni PMII di seluruh Indonesia. Ini adalah kepercayaan besar untuk dijaga dan dilaksanakan selama lima tahun ke depan”.
Namun waktu itu seperti tak mendengar janji lima tahun. Ia memanggil Fathan lebih cepat. Dan yang tersisa bukanlah masa jabatan yang belum tuntas, melainkan jejak hangat yang justru terasa semakin nyata ketika ia telah tiada.
Pengayom yang Tumbuh dari Akar Pergerakan
Jejak Fathan di PMII bukan jejak yang tiba-tiba. Ia lahir di Demak, Jawa Tengah, pada 11 Februari 1970, dan tumbuh besar di lingkungan pesantren serta pendidikan agama yang membentuk wataknya. Perjalanan organisasinya dimulai dari bawah: ia pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Cabang PMII DKI Jakarta pada 1995–1996, lalu Ketua Pengurus Besar PMII pada 1997–1998, dan Ketua PW IKA PMII DKI Jakarta pada 2019–2024. Dari akar pergerakan itulah ia belajar satu hal yang kemudian menjadi ciri kepemimpinannya: bahwa organisasi bukanlah menara gading, melainkan rumah bersama tempat setiap kader dan alumni pulang.
Sebelum dipercaya memimpin IKA PMII, Fathan telah lama berkiprah di ruang publik. Ia adalah politikus Partai Kebangkitan Bangsa yang dua kali terpilih sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah II—meliputi Kudus, Jepara, dan Demak—untuk periode 2014–2019 dan 2019–2024. Di Senayan, ia pernah duduk sebagai anggota Komisi XI, Wakil Ketua Komisi XI, serta Sekretaris Fraksi PKB. Pada 17 Oktober 2024, ia dilantik sebagai Anggota BPK RI untuk periode 2024–2029, dengan tanggung jawab pemeriksaan keuangan negara di sektor kesehatan, pendidikan, BPJS Kesehatan, BPOM, serta keuangan daerah di Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Di puncak karier kenegaraan itu, Fathan tidak menjauh dari akar pergerakannya. Justru dari kursi BPK, ia kembali ke rumah lama: IKA PMII. Dan di rumah itulah, pengayomannya terasa paling hangat.
Payung yang Terbentang untuk Semua
Ketika Fathan terpilih, ia melihat realitas yang tidak selalu indah: banyak alumni PMII yang berkiprah di berbagai bidang—birokrat, legislator, pengusaha, pendidik, hingga tokoh agama—tetapi potensi besar itu belum terkonsolidasikan dengan baik. Ia tidak menutup mata pada kenyataan bahwa di antara alumni ada yang masih menganggur, belum terserap dalam ruang ekonomi dan politik, atau merasa jauh dari rumah organisasi yang pernah membesarkan mereka. Dari kepedulian itulah lahir komitmennya: menjadikan IKA PMII sebagai payung yang benar-benar mengayomi, bukan sekadar wadah formal yang jauh dari denyut kehidupan anggotanya.
Dalam visinya, kontribusi alumni PMII harus dikonsolidasikan agar memberikan kemanfaatan yang lebih besar bagi bangsa dan negara. Ia percaya bahwa alumni PMII bukanlah kumpulan orang yang telah selesai berjuang, melainkan energi yang harus terus dirawat dan diarahkan. Dan ia memilih untuk merawat energi itu dengan cara yang paling sederhana namun paling jarang dilakukan: hadir. Mendengar. Menyapa. Mengayomi.
Pengayoman Fathan tidak berhenti pada pidato atau dokumen program. Ia turun ke daerah, menyapa pengurus wilayah, mengukuhkan kepengurusan, dan memastikan bahwa ikatan alumni bukanlah ikatan di atas kertas. Pada awal Maret 2026, ia masih berdiri di Bandara Supadio, Pontianak, untuk melakukan kunjungan kerja, namun diselah waktu beliau tetap menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan PW IKA PMII Kalimantan Barat. Baginya, setiap daerah adalah rumah, dan setiap alumni adalah keluarga.
Waktu yang Terlalu Cepat, Rindu yang Terlalu Panjang
Ada ironi yang menusuk dalam kepergian Fathan. Ia dipilih untuk memimpin selama lima tahun, tetapi waktu hanya memberinya sekitar delapan bulan untuk benar-benar menjalankan pengayomannya. Namun justru di situlah keajaiban seorang pengayom diuji: ia tidak diukur dari berapa lama ia menjabat, melainkan dari seberapa dalam ia meninggalkan jejak di hati orang-orang yang pernah ia naungi.
Kabar wafatnya Fathan disampaikan dengan duka yang tulus oleh Partai Kebangkitan Bangsa melalui akun resmi mereka: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Keluarga besar Partai Kebangkitan Bangsa turut berduka cita atas wafatnya Fathan Subchi, Anggota BPK RI, mantan Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI periode 2014–2024, sekaligus Ketua Umum PB IKA-PMII periode 2025–2030”. Doa pun mengalir: semoga husnul khatimah, diampuni segala dosanya, diterima seluruh amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Di grup-grup IKA PMII, pesan duka berantai: “Turut berduka yang mendalam atas wafatnya Ketua Umum PB IKA PMII Sahabat Fathan Subchi. Insyaallah husnul khatimah”. Kata “sahabat” itu bukanlah kata yang dipilih tanpa alasan. Fathan memang sahabat bagi siapa saja yang pernah bersentuhan dengannya.
Dan di sinilah nestapa itu terasa paling dalam: waktu begitu cepat memisahkan sahabat dari para alumni dan kader PMII seluruh Indonesia. Rasanya baru kemarin ia berdiri di mimbar Munas, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Rasanya baru kemarin ia berbicara tentang potensi alumni yang harus dikonsolidasikan. Rasanya baru kemarin ia mengukuhkan pengurus-pengurus wilayah, menyapa satu per satu, tersenyum pada kader-kader muda yang memandangnya dengan harapan. Kini, semua itu menjadi kenangan yang harus dirawat tanpa kehadiran fisiknya.
Namun pengayom sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam cara-cara kecil yang ia tanamkan: dalam kepedulian pada alumni yang belum mendapat tempat, dalam keyakinan bahwa organisasi harus berdiri di sisi anggotanya, dalam hangatnya sapaan yang tidak membedakan antara pejabat dan kader biasa. Fathan telah pergi, tetapi payung yang ia bentangkan masih terbuka. Jejak hangatnya tidak padam; ia justru menyala dalam ingatan kolektif alumni PMII dari Aceh hingga Papua, dari kota-kota besar hingga desa-desa tempat kader-kader muda PMII tumbuh dan bermimpi.
Selamat jalan, Sahabat Fathan. Pengayommu terlalu singkat untuk waktu, tetapi terlalu dalam untuk dilupakan. Di setiap alumni yang merasa pernah dinaungi, di setiap kader yang pernah disapa, engkau tetap hadir—bukan sebagai nama yang tertulis di batu, melainkan sebagai hangat yang tinggal di hati.
Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media











