Jumat malam, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB. Di perairan Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau menghembuskan nafas panjangnya—sebuah erupsi menerus dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun.

Dalam satu kali gempa letusan, amplitudo mencapai 70 milimeter, bergemuruh selama 21.600 detik. Dentumannya terdengar hingga ke pesisir Banten dan Lampung—bahkan suara gemuruh merambat sampai ke Jawa Barat.

Material vulkanik melontar, merusak kamera pemantau, membutakan mata yang selama ini mengawasi.

Advertisement

Sejak status Siaga Level III ditetapkan pada 2 Juli 2026, Anak Krakatau telah mengalami lebih dari 240 kali letusan. Erupsi Jumat malam itu adalah yang terkuat. Dan ia masih terus bertumbuh.

Inilah kenyataan pahit yang harus diterima Jakarta: popularitasnya sebagai pusat segalanya—ekonomi, konektivitas, pendidikan, pariwisata—kini dipertaruhkan oleh sebuah gunung yang muncul dari laut, tumbuh 13 cm per pekan atau sekitar 7 meter per tahun sejak dekade 1950-an. Tingginya kini melampaui 300 meter di atas permukaan laut.

Abu vulkanik tidak mengenal batas administratif. Ia terbang, menyebar, dan jatuh di mana angin membawanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dua klaster abu—satu bergerak menuju Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada ketinggian 20.000 kaki. Klaster lain menjulang hingga 50.000 kaki.

Jakarta, yang selama ini sombong dengan gemerlap pencakar langitnya, mendapati langitnya kelabu. Abu vulkanik mencapai ibu kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun bergerak—operasi water mist dan penyiraman dilakukan di berbagai wilayah. Namun abu bukanlah debu jalanan yang bisa disapu begitu saja.

Delapan bandara ditutup. Bandara Internasional Soekarno-Hatta—gerbang utama Indonesia—melumpuh. Penutupan diperpanjang hingga Senin malam, 24.00 WIB. Kementerian Perhubungan mencatat 964 penerbangan terdampak. Di Soekarno-Hatta saja, 963 penerbangan terganggu—453 kedatangan dan 510 keberangkatan.

Bayangkan: 17.000 penumpang terdampar di bandara. Ada yang berasal dari Malaysia, Singapura, dari berbagai penjuru dunia yang singgah di Jakarta—hanya untuk mendapati bahwa kota ini, untuk sementara, terisolasi.

Bandara Soekarno-Hatta bukan sekadar tempat lepas landas dan mendarat. Ia adalah nadi perdagangan. Pada 2025, nilai ekspor nonmigas melalui bandara ini mencapai US$ 9,90 miliar, sementara impor US$ 20,77 miliar—total US$ 30,67 miliar setahun, atau rata-rata US$ 84,03 juta per hari.

Penutupan selama 48 jam berpotensi menahan arus ekspor-impor senilai US$ 168 juta—sekitar Rp2,96 triliun. Belum termasuk pengiriman domestik yang ikut tersendat.

Industri penerbangan, korban paling pertama, berdarah-darah. Indonesia National Air Carrier Association (INACA) memperkirakan kerugian mencapai Rp19 miliar per hari akibat pembatalan tiket, konsumsi bahan bakar ekstra untuk rute memutar, hingga kompensasi penumpang. Jika berlanjut sepekan, kerugian bisa menembus Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.

Maskapai Garuda Indonesia dan AirAsia Indonesia terkena pukulan langsung—AirAsia, yang sepanjang 2025 masih mencatatkan kerugian meski pendapatan mencapai Rp7,87 triliun, kini harus menanggung beban tambahan.

Sektor pariwisata ikut merana. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia memproyeksikan penurunan okupansi hotel di Jakarta dan sekitarnya.

Para wisatawan Malaysia yang terjebak harus membayar tiket pesawat pulang hingga tiga kali lipat dari harga normal—sekali jalan mencapai RM1.071 atau sekitar Rp3,8 juta.

Jakarta, yang selama ini menjadi simpul utama aktivitas ekonomi dan pariwisata nasional bersama Bali, kehilangan konektivitasnya. Rantai pasok terputus. Agenda bisnis dibatalkan. Pertemuan-pertemuan penting—bahkan yang melibatkan kerajaan asing—tertunda.

Abu vulkanik bukan hanya tentang ekonomi. Ia adalah ancaman bagi paru-paru.

Menteri Kesehatan mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah dan memakai masker jika terpaksa keluar.

Pemerintah Provinsi Banten bergerak cepat, mendistribusikan 5.000 dus masker ke kabupaten dan kota. LKBN ANTARA pun menyalurkan 1.200 masker ke warga pesisir Serang.

Warga mengeluhkan gangguan pernapasan. Anak-anak usia di atas tiga tahun disarankan memakai masker KN95 atau N95 jika terpaksa keluar. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan—ini adalah krisis kesehatan publik yang bisu.

Dunia pendidikan pun lumpuh. Dinas Pendidikan DKI Jakarta menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh untuk seluruh satuan pendidikan.

Sekolah-sekolah di Jakarta tutup; kegiatan belajar mengajar berpindah ke layar gadget. Plan Indonesia menyoroti bahwa tanpa dukungan memadai, PJJ berisiko memperlebar kesenjangan akses pendidikan.

Siswa-siswi Jakarta, yang seharusnya duduk di bangku sekolah, kini belajar dari rumah—bukan karena kebijakan, tetapi karena abu yang turun dari langit.

Inilah yang paling mencemaskan: Anak Krakatau tidak akan berhenti.

Sejak 2019 hingga 2025, gunung ini mengalami erupsi berskala rendah dan memasuki fase pertumbuhan kembali. Ia tumbuh. Ia menggemuk. Badan Geologi mencatat kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih tinggi. Aktivitas kegempaan masih terekam dinamis. Status Siaga Level III belum dicabut.

Para ahli memperkirakan, jika pertumbuhan berlangsung cepat seperti periode 2019-2023, Anak Krakatau secara teoritis dapat mencapai ketinggian yang signifikan sekitar 2036. Namun angka itu bukanlah prediksi—itu adalah peringatan. Gunung ini tidak kenal kompromi. Ia erupsi kapan pun ia mau.

Dan setiap kali ia erupsi, abu akan kembali menutupi langit Jakarta. Penerbangan akan kembali berhenti. Ekonomi akan kembali tersendat. Sekolah akan kembali sepi. Paru-paru warga akan kembali terengah.

Jakarta telah lama memposisikan diri sebagai pusat segalanya—pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat pendidikan, pusat budaya. Namun di hadapan alam, semua konstruksi kehebatan itu rapuh. Sebuah gunung di Selat Sunda, yang muncul dari laut dan tumbuh perlahan, cukup untuk menghancurkan popularitas Jakarta dalam hitungan jam.

Bukan karena Jakarta tidak penting. Justru karena Jakarta terlalu penting—sehingga ketika ia lumpuh, seluruh negeri merasakan dampaknya. 964 penerbangan batal. Rp2,96 triliun ekspor-impor tertahan. Rp130 miliar kerugian maskapai. Puluhan ribu penumpang terdampar. Jutaan siswa belajar dari rumah. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah potret sebuah kota yang mendapati dirinya tidak sekuat yang ia kira.

Krakatau pernah mengubah dunia pada 1883—letusannya terdengar hingga Australia, abunya menurunkan suhu global. Kini Anak Krakatau, yang lahir dari reruntuhan itu, kembali mengingatkan: bahwa popularitas adalah ilusi, bahwa kemegahan kota hanyalah fatamorgana di hadapan kekuatan geologi yang tak terbendung.

Dan Jakarta, dengan segala hiruk-pikuknya, hanya bisa menunggu—menunggu abu menjauh, menunggu angin berbalik, menunggu gunung itu kembali tidur.

Tapi, Anak Krakatau tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menunggu. Dan ketika ia bangun, Jakarta kembali harus menerima kenyataan pahit: popularitasnya, untuk sementara, hancur oleh debu dari Selat Sunda.

Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *