Di tepian muara Sungai Mempawah, di mana air tawar bertemu asin dan sejarah berbisik di antara riak gelombang, sebuah tradisi telah berdenyut selama hampir tiga abad. Robo-robo, yang lahir dari napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon pada tahun 1737 Masehi, bukan lagi sekadar ritual tolak bala yang khusyuk.
Ia telah bertransformasi, menari di antara nilai-nilai sakral dan geliat ekonomi modern, menjadi ikon wisata andalan Kalimantan Barat yang menghidupkan denyut nadi masyarakatnya.
Akar Sakral yang Tak Tergoyahkan
Nama Robo-robo sendiri berasal dari kata “Rabu”, merujuk pada hari pelaksanaannya di pekan terakhir bulan Safar menurut penanggalan Hijriah.
Tradisi ini berawal dari momen haru ketika Opu Daeng Manambon, yang berlayar dengan sekitar 40 perahu dari Kerajaan Matan, disambut meriah oleh rakyat Mempawah.
Tergerak oleh sambutan hangat tersebut, sang raja membagikan bekal makanannya dan memimpin doa keselamatan bersama warga. Makan bersama di alam terbuka itulah yang kemudian diwariskan turun-temurun dan menjadi inti dari tradisi Robo-robo.
Hingga kini, esensi spiritual tetap menjadi roh utama. Masyarakat Melayu percaya bulan Safar sebagai masa penuh ujian, sehingga momentum ini dimanfaatkan untuk memohon keselamatan, kedamaian, dan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan.
Rangkaian prosesi seperti ritual buang-buang di laut, tepung tawar untuk kapal nelayan, ziarah makam raja-raja, dan pembacaan doa yang dipimpin oleh Raja Mempawah dari atas kapal, tetap dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan kekuasaan Yang Maha Kuasa.
Pengakuan resmi pun telah diraih: sejak 27 Oktober 2016, Robo-robo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Menuju Panggung Wisata: Festival yang Mendiniz
Namun, denyut Robo-robo tak berhenti di altar ritual. Ia merambat ke panggung yang lebih luas: pariwisata. Pemerintah Kabupaten Mempawah dan Provinsi Kalimantan Barat secara konsisten menjadikan Robo-robo sebagai agenda unggulan dalam Calender of Event (CoE) Kalbar.
Harapan besar pun menggantung: agar festival ini masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), ajang budaya berskala nasional.
Festival Robo-robo kini berlangsung hampir sebulan penuh, jauh melampaui satu hari puncak ritual. Ribuan masyarakat memadati kawasan Pelabuhan Kuala Mempawah untuk menyaksikan kemeriahan yang menggabungkan atraksi budaya, seni, olahraga, kuliner, hingga permainan anak-anak.
Tak hanya warga lokal, festival ini juga menarik perhatian wisatawan mancanegara yang datang untuk menyaksikan keunikan tradisi ini. Transformasi ini menunjukkan bahwa Robo-robo telah menjadi ruang publik di mana legitimasi sakral, kohesi sosial, dan atraksi wisata berkelanjutan.
Ekonomi Kreatif Bergeliat: Pasar Rakyat sebagai Denyut Nadi
Dampak paling nyata dari transformasi ini adalah geliat ekonomi kreatif yang mengalir deras. Salah satu wujudnya adalah Pasar Rakyat Festival Robo-Robo 2026 yang digelar di Area Pelabuhan Kuala, Kelurahan Pasir Wan Salim.
Pasar rakyat ini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang strategis yang mempertemukan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Di sinilah pelaku UMKM dan pengrajin lokal dapat memperkenalkan dan memasarkan produk unggulan mereka, mulai dari kuliner khas daerah hingga kerajinan tangan.
Kehadiran pengunjung yang memadati lokasi festival memberikan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian sekitar.
Robo-robo adalah bukti hidup bahwa tradisi bukanlah artefak beku yang rapuh tergilas zaman. Ia adalah institusi sosial yang dinamis, mampu memfungsikan ulang praktik ritual menjadi ruang publik serbaguna.
Di dalamnya, kesakralan, kebersamaan, dan produktivitas ekonomi berpadu harmoni. Dengan tegas mengingatkan agar nilai adat dan budaya tetap menjadi roh utama festival.
Namun, justru dengan tetap berpegang pada akar spiritualnya, Robo-robo mampu melangkah lebih jauh, menggerakkan ekonomi, dan mengharumkan nama Kalbar di kancah wisata nasional bahkan internasional.
Transformasi Robo-robo adalah cermin bagi kita semua: bahwa untuk melangkah ke masa depan, kita tak perlu meninggalkan masa lalu. Cukup dengan memberinya panggung baru, agar warisan leluhur tetap bernyanyi, dan ekonominya pun turut menari.
Sharing Ide: Mulyadi Tawik, SE., ME
Alumnus Universitas Tanjungpura Pontianak/ Ketua DPW PKB Kalbar











