PONTIANAK, AKCAYA – Zulfydar Zaidar Mochtar kembali dipercaya memimpin Pengurus Besar (PB) Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) periode 2026–2030. Ia terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) PB ABTI yang digelar di Grand Mahkota Hotel, Pontianak.
Kepercayaan tersebut menjadi periode kedua bagi Zulfydar setelah memimpin organisasi bola tangan nasional pada periode 2022–2026. Terpilihnya kembali Zulfydar dinilai sebagai bentuk apresiasi atas capaian prestasi yang berhasil ditorehkan bola tangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, baik di tingkat Asia Tenggara maupun Asia.
Munas dihadiri pengurus ABTI dari berbagai provinsi di Indonesia. Hadir pula Pelaksana Tugas Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Usman Ali Mustofa, Ketua Bidang Pembinaan Hukum KONI Pusat Widodo Sigit Pudjianto, Komite Eksekutif Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Harry Warga Negara, unsur Forkopimda Kalimantan Barat, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya usai terpilih, Zulfydar menegaskan kepengurusan periode kedua akan difokuskan pada peningkatan prestasi bola tangan Indonesia di level Asia. Menurutnya, capaian di kawasan Asia Tenggara sudah menunjukkan perkembangan positif sehingga kini saatnya membidik target yang lebih tinggi.
“Salah satu target saya di periode kedua ini adalah membawa ABTI menembus prestasi di Asia. Kalau di Asia Tenggara saya kira sudah cukup baik. Sekarang target kita bukan hanya SEA Games, tetapi bagaimana mencapai prestasi di Asian Games,” ujarnya.
Selain fokus pada prestasi, Zulfydar mengungkapkan dirinya mendapat dukungan dari sejumlah negara Asia Tenggara untuk memimpin organisasi bola tangan kawasan. Ia mengaku telah menerima aspirasi dari pengurus federasi bola tangan negara-negara Asia Tenggara agar bersedia maju sebagai Presiden Bola Tangan Asia Tenggara.
Menurutnya, dalam waktu dekat ABTI akan memfasilitasi pertemuan negara-negara anggota untuk membahas kepemimpinan organisasi tersebut mengingat masa jabatan presiden sebelumnya telah berakhir lebih dari satu dekade.
“Kami juga sudah berbicara di tingkat Asia Tenggara. Saya mendapat pesan dari teman-teman Asia Tenggara agar menjadi Presiden Bola Tangan Asia Tenggara. Dalam waktu dekat kami akan menyurati dan memfasilitasi pertemuan karena masa jabatan presiden sebelumnya sudah berakhir lebih dari 10 tahun,” katanya.
Zulfydar menilai keterlibatan Indonesia dalam kepemimpinan organisasi regional akan semakin memperkuat posisi bola tangan nasional sekaligus membuka peluang lebih besar bagi peningkatan prestasi atlet di tingkat internasional.
Di sisi lain, PB ABTI juga akan memperkuat sistem pembinaan atlet sejak usia dini. Salah satu target strategis yang akan diperjuangkan adalah memasukkan cabang olahraga bola tangan ke dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) agar memperoleh dukungan pembinaan yang lebih kuat dari pemerintah.
Tak hanya itu, PB ABTI juga akan mendorong pengembangan kurikulum bola tangan di tingkat SD, SMP, dan SMA, memperbanyak pelatihan pelatih, serta memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
“Kami juga menargetkan bola tangan masuk DBON. Kemudian kami ingin ada kurikulum bola tangan di SD, SMP, dan SMA, pembinaan pelatih, serta matrikulasi di kampus-kampus melalui kerja sama atau MoU antara PB ABTI dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Menurut Zulfydar, sinergi dengan dunia pendidikan menjadi langkah penting dalam memperluas basis pembinaan atlet sekaligus meningkatkan popularitas bola tangan di kalangan generasi muda.
Ia optimistis, dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan serta program pembinaan yang berkelanjutan, bola tangan Indonesia akan mampu meningkatkan daya saing di tingkat internasional dan menjadi salah satu cabang olahraga yang diperhitungkan dalam pembinaan olahraga nasional.







