PONTIANAK, AKCAYA – Sebanyak 36 siswa kelas XI SMAN 1 Siantan, Kabupaten Mempawah, diajak memahami perubahan garis pantai melalui edukasi interaktif tentang dinamika abrasi dan akresi.
Kegiatan bertajuk “Penguatan Kesadaran Spasial Siswa Melalui Edukasi Interaktif dalam Dinamika Abrasi dan Akresi Pantai Mempawah” tersebut digelar Program Studi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Pontianak sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan dibuka Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Siantan, Poni Susanti. Ia menilai literasi lingkungan penting diberikan kepada generasi muda, terutama siswa yang berada di wilayah pesisir.
“Pantai Mempawah adalah ruang hidup kita. Jika siswa memahami dinamika abrasi dan akresi sejak dini, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang peduli dan mampu menjaga lingkungan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, dosen Prodi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Pontianak, Wiwik Cahyaningrum dan Mustofa, memberikan pemahaman mengenai abrasi sebagai proses pengikisan pantai oleh gelombang serta akresi yang merupakan proses pengendapan sedimen.
Siswa tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis. Mereka juga diajak melihat perubahan garis pantai Kabupaten Mempawah melalui data citra satelit dalam rentang 1972 hingga 2025.
Ketua Prodi Pendidikan Geografi, Norsidi, mengatakan perubahan garis pantai merupakan proses yang dipengaruhi interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia.
“Perubahan bibir pantai bukanlah peristiwa tiba-tiba, melainkan hasil interaksi kompleks antara alam dan aktivitas manusia,” jelasnya.
Menurutnya, pemahaman mengenai dinamika pesisir penting agar siswa mampu mengenali potensi risiko bencana sekaligus berperan dalam upaya mitigasi di lingkungan masing-masing.
Pembelajaran semakin menarik melalui simulasi analisis spasial menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG). Para siswa diperkenalkan dengan pemanfaatan Google Earth untuk mengamati serta mengukur perubahan profil pantai berdasarkan visualisasi data.
Guru Geografi SMAN 1 Siantan, Heni Widya Septiani, mengapresiasi metode pembelajaran yang diterapkan.
“Biasanya siswa hanya belajar konsep abrasi dari buku. Kali ini mereka langsung praktik pakai Google Earth dan data nyata. Ini membuat pembelajaran geografi jadi lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi peserta didik.
Poni Susanti juga berharap kolaborasi dengan Prodi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Pontianak dapat berlanjut pada materi kebencanaan lainnya.
“Siswa tidak hanya belajar konsep, tetapi juga diberi alat untuk menganalisis masalah lingkungan. Harapannya, kerja sama ini berlanjut untuk materi kebencanaan lainnya seperti banjir dan deforestasi,” ujarnya.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Peserta aktif bertanya dan berdiskusi ketika melakukan simulasi perubahan garis pantai.
Salah seorang siswa, Rizki, mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai kondisi pesisir Mempawah.
“Saya baru sadar betapa rawannya pesisir Mempawah akibat abrasi. Ilmu ini akan saya sampaikan ke keluarga dan rekan sejawat,” katanya.
Wiwik Cahyaningrum mengatakan penggunaan citra satelit dan simulasi profil pantai diharapkan dapat melatih siswa menjadi pengamat perubahan lingkungan di wilayahnya.
“Dengan keterampilan ini, mereka bisa memberikan solusi konkret untuk mengurangi risiko bencana di pesisir,” jelasnya.
Sementara itu, Mustofa menilai literasi spasial perlu dibangun sejak usia sekolah. Menurutnya, kemampuan membaca perubahan lingkungan secara spasial dapat membantu siswa memahami persoalan di sekitar mereka sekaligus mencari solusi berdasarkan data.
Norsidi menambahkan, Kabupaten Mempawah memiliki potensi ekonomi dan wisata pesisir yang besar, tetapi kawasan tersebut juga menghadapi kerentanan akibat perubahan lingkungan dan iklim.
Karena itu, edukasi kepada generasi muda dinilai penting agar siswa tidak hanya memahami ancaman abrasi dan akresi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan wilayah pesisir.











