PONTIANAK, AKCAYA – Pemerintah Kota Pontianak mengapresiasi penyelenggaraan Festival Mattompang sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus memperkuat identitas etnis Bugis di tengah masyarakat multikultural.

Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, mengatakan tradisi Mattompang Benda Pusaka bukan sekadar ritual, tetapi juga simbol penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi Mattompang sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2018 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

“Ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan identitas budaya,” ujarnya usai membuka Festival Mattompang di Taman Alun Kapuas.

Menurut Bahasan, keberadaan tradisi tersebut menunjukkan kuatnya ketahanan budaya masyarakat Indonesia di tengah keberagaman.

Ia juga menekankan pentingnya peran komunitas etnis dalam menjaga kerukunan di Kota Pontianak yang dikenal sebagai kota multikultural.

“Kota Pontianak tidak terlepas dari peran berbagai etnis, termasuk Bugis, yang telah mewarnai sejarah dan pembangunan kota ini,” katanya.

Bahasan menjelaskan, dengan luas wilayah sekitar 118,40 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 692 ribu jiwa, Pontianak menjadi rumah bagi beragam suku bangsa.

Saat ini, terdapat sekitar 28 paguyuban etnis yang tergabung dalam Paguyuban Merah Putih. Keberadaan paguyuban tersebut dinilai berperan penting dalam menjaga komunikasi dan keharmonisan antaretnis.

Pemerintah Kota Pontianak, lanjutnya, secara rutin memfasilitasi pertemuan melalui kegiatan coffee morning guna mempererat silaturahmi dan membahas berbagai isu sosial.

“Ini dilakukan untuk memastikan seluruh komunitas tetap berada dalam bingkai kerukunan dan persatuan,” jelasnya.

Selain itu, Bahasan mengungkapkan bahwa Kota Pontianak juga baru saja menerima penghargaan sebagai salah satu kota toleran di Indonesia, meskipun masih dalam tahap konsolidasi.

Ia mengakui, tantangan tetap ada, terutama dalam menyikapi perbedaan pandangan di tengah masyarakat.

“Kita berharap setiap perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog dan diskusi, bukan dengan penolakan,” tegasnya.

Di akhir, Bahasan mengingatkan pentingnya menjaga warisan sejarah, termasuk kontribusi tokoh Bugis di masa lalu dalam perjalanan sejarah daerah.

“Sejarah ini harus kita rawat bersama sebagai bagian dari identitas dan persatuan kita,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *