MEMPAWAH, AKCAYA – Kualitas udara di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar), tercatat berada pada kategori berbahaya akibat tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5.

Berdasarkan data Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio yang dirilis BMKG Kalimantan Barat per 9 Agustus 2026 konsentrasi maksimum harian PM2.5 di Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, mencapai 377,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 07.00 WIB.

Angka tersebut masuk dalam kategori berbahaya, menjadi salah satu catatan kualitas udara terburuk yang terpantau pada pengukuran di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Advertisement

Tak hanya nilai maksimum, rata-rata harian PM2.5 di Jongkat juga mencapai 125,2 µg/m³ dan berada pada kategori tidak sehat.

Data tersebut menunjukkan kondisi udara di Mempawah perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Konsentrasi PM2.5 yang tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila paparan berlangsung terus-menerus.

Dalam grafik pemantauan BMKG, konsentrasi PM2.5 di Mempawah mulai mengalami peningkatan signifikan sejak pagi. Konsentrasi tercatat terus naik hingga mencapai puncak 377,2 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB, sebelum kemudian mengalami penurunan secara bertahap.

Meski demikian, konsentrasi PM2.5 masih berada pada level tinggi beberapa jam setelah mencapai puncak. Kondisi tersebut menandakan kualitas udara belum sepenuhnya kembali normal.

Selain Mempawah, kualitas udara di sejumlah wilayah lainnya juga menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai.

Di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, konsentrasi maksimum harian PM2.5 tercatat 287,3 µg/m³ pada pukul 10.00 WIB dan masuk kategori berbahaya. Rata-rata hariannya mencapai 155,7 µg/m³ dengan kategori sangat tidak sehat.

Sementara itu, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, mencatat konsentrasi maksimum PM2.5 sebesar 57,3 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB. Nilai rata-ratanya berada di angka 30,0 µg/m³ dengan kategori sedang.

Tingginya konsentrasi PM2.5 di Mempawah dan Kubu Raya menjadi perhatian di tengah kondisi musim kemarau yang berlangsung di Kalimantan Barat. Asap dan partikulat halus di udara dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan maupun sumber pencemar lainnya.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat juga perlu mempertimbangkan untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai ketika harus beraktivitas di area yang terpapar asap.

Data BMKG ini menjadi pengingat bahwa kondisi kualitas udara di Kalimantan Barat perlu terus dipantau seiring meningkatnya potensi kebakaran lahan pada musim kemarau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *