PONTIANAK, AKCAYA – RSUD dr. Soedarso memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan penyakit pernapasan, khususnya pneumonia, di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar).
Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak, drg. Hary Agung Tjahyadi mengatakan, meski kasus ISPA di rumah sakit relatif stabil dalam lima minggu terakhir, tren pneumonia mulai menunjukkan peningkatan.
Hingga minggu epidemiologi (ME) 31, kasus pneumonia di RSUD dr. Soedarso meningkat dari 16 kasus pada ME 27 menjadi 29 kasus.
“Kasus ISPA cukup stabil di RSUD dr. Soedarso dalam lima minggu terakhir, tidak ada peningkatan kasus. Meski secara umum di Kalbar tercatat peningkatan kasus ISPA dalam dua minggu terakhir, kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.
Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi kelas A di Kalbar, RSUD dr. Soedarso umumnya menangani pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan. Sementara kasus ISPA ringan lebih banyak ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit kelas C dan D.
Namun, kondisi kualitas udara akibat asap karhutla menjadi perhatian karena dapat memperburuk gangguan saluran pernapasan.
Partikel halus dalam asap, terutama PM2.5, dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi. Paparan asap juga dapat mengganggu mekanisme pertahanan saluran napas sehingga meningkatkan kerentanan terhadap gangguan maupun infeksi pernapasan.
Meski demikian, Hary menegaskan bahwa paparan asap tidak secara langsung dapat disebut sebagai penyebab pneumonia.
Karena itu, rumah sakit memperkuat surveilans epidemiologi klinis untuk mengetahui berbagai faktor yang berperan dalam peningkatan kasus.
“Tim surveilans perlu melakukan analisis secara berkesinambungan dan lebih mendalam untuk memastikan apakah pneumonia berkaitan dengan ISPA sebelumnya, eksaserbasi asma, paparan asap, komorbid, atau etiologi infeksi lain,” ungkapnya.
Mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien dengan gangguan pernapasan, RSUD dr. Soedarso memastikan kesiapan oksigen, obat-obatan, peralatan medis hingga kapasitas ruang perawatan.
Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), pasien dengan keluhan pernapasan akan menjalani triase untuk mengidentifikasi gangguan oksigenasi sekaligus menentukan kebutuhan penanganan.
Stabilisasi oksigenasi, terapi inhalasi maupun nebulisasi diberikan sesuai indikasi dan kondisi klinis pasien.
Selain oksigen medis dan obat-obatan esensial untuk pneumonia, rumah sakit juga memastikan ketersediaan bronkodilator, nebulizer hingga alat bantu napas.
Kesiapan peralatan dipantau mulai dari kanul oksigen hingga ventilator untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat.
Kapasitas ruang perawatan paru dan ruang isolasi respirasi juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan rumah sakit.
Hary mengatakan, hingga ME 31 belum diperlukan penambahan tempat tidur karena jumlah pasien masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia.
“Belum diperlukan penambahan tempat tidur karena kasus masih dapat tertangani dengan baik. Namun, kapasitas perlu dievaluasi secara berkala apabila terjadi peningkatan kasus lebih lanjut,” katanya.
Peningkatan kasus tidak hanya terlihat di RSUD dr. Soedarso. Data Kalbar hingga ME 31 menunjukkan kasus ISPA meningkat dari 5.269 menjadi 5.837 kasus.
Sementara kasus pneumonia meningkat dari 202 menjadi 250 kasus.
Kondisi tersebut menjadi perhatian rumah sakit, terutama dengan meningkatnya paparan asap karhutla di sejumlah wilayah Kalbar.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penderita asma, pasien dengan penyakit paru maupun penyakit kronis lainnya menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Hary memastikan pihaknya tidak menunggu sampai terjadi lonjakan pasien untuk melakukan persiapan.
“Yang kami lakukan adalah meningkatkan kewaspadaan melalui monitoring surveilans epidemiologi klinis RS dan kesiapan terkait ketersediaan oksigen dan obat-obatan apabila terjadi rujukan terhadap infeksi pernapasan yang berlanjut dan pneumonia,” jelasnya.
Pemantauan tren penyakit, kesiapan tenaga medis, oksigen, obat-obatan, alat bantu napas, ruang perawatan hingga IGD akan terus dilakukan.
Langkah tersebut diharapkan membuat RSUD dr. Soedarso mampu memberikan respons cepat apabila terjadi peningkatan pneumonia maupun penyakit pernapasan lainnya seiring memburuknya kualitas udara akibat karhutla.











