PONTIANAK, AKCAYA – Ekonomi Provinsi Kalimantan Barat pada Triwulan I 2026 tumbuh 6,14 persen (year-on-year/yoy), tertinggi di Pulau Kalimantan dan di atas rata-rata nasional. Pertumbuhan ini menunjukkan penguatan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global dan nasional.

Gubernur Ria Norsan menyebut capaian tersebut merupakan hasil sinergi pemerintah, pelaku usaha, investor, dan masyarakat.

“Alhamdulillah, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai 6,14 persen dan menjadi yang tertinggi di Pulau Kalimantan. Ini merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen daerah dalam mendorong pembangunan, investasi, hilirisasi industri, dan penguatan ekonomi masyarakat,” ujarnya, Sabtu (9/7/2026).

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, dan investasi. Konsumsi rumah tangga berkontribusi 49,22 persen terhadap struktur ekonomi daerah. Momentum Ramadhan, Idul Fitri, dan Imlek turut meningkatkan aktivitas perdagangan, transportasi, jasa, dan UMKM.

“Kita bersyukur daya beli masyarakat tetap kuat. Ini menunjukkan ekonomi masyarakat bergerak, aktivitas perdagangan hidup, UMKM tumbuh, dan perputaran ekonomi di daerah berjalan semakin baik,” kata Ria Norsan.

Dari sisi produksi, sektor pertambangan, perdagangan, konstruksi, dan industri pengolahan menjadi penopang utama. Sektor pertambangan tumbuh signifikan sebesar 34,14 persen. Hilirisasi bauksit dan alumina di kawasan Mempawah juga dinilai memberi kontribusi besar.

“Kita ingin Kalbar tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. Hilirisasi harus terus diperkuat agar nilai tambah ekonomi tetap berada di daerah,” tegasnya.

Ria Norsan menilai optimalisasi Pelabuhan Internasional Kijing akan menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi melalui efisiensi logistik, peningkatan ekspor, dan perluasan investasi.

“Pelabuhan Kijing bukan hanya pelabuhan biasa, tetapi pintu masa depan ekonomi Kalbar,” ujarnya.

Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan mengatakan selama ini banyak ekspor komoditas Kalbar tercatat melalui provinsi lain sehingga berdampak pada fiskal dan pencatatan ekonomi daerah.

“Pelabuhan Kijing harus menjadi tulang punggung industrialisasi Kalbar. Kalau konektivitas logistik kuat, biaya distribusi turun, investasi masuk, maka kawasan industri akan tumbuh dan lapangan pekerjaan semakin terbuka,” katanya.

Kontribusi ekonomi Kalbar terhadap ekonomi regional Kalimantan mencapai 17,61 persen. Pertumbuhan ini juga meningkat dibanding Triwulan I 2025 sebesar 5,00 persen dan Triwulan IV 2025 sebesar 5,62 persen.

Bank Indonesia memproyeksikan prospek ekonomi Kalbar tetap positif, didukung konsumsi masyarakat, ekspor, dan kinerja sektor usaha utama yang tetap kuat. Pemerintah Provinsi Kalbar bersama Bank Indonesia juga terus menjaga inflasi pada kisaran 2,5±1 persen (yoy).

Menutup keterangannya, Ria Norsan mengajak seluruh masyarakat menjaga optimisme dan mendukung pembangunan daerah.

“Ini momentum yang sangat baik bagi Kalimantan Barat. Kita harus terus bekerja keras, menjaga stabilitas daerah, memperkuat investasi, meningkatkan kualitas SDM, dan memastikan pertumbuhan ekonomi ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kalbar,” pungkasnya. (elp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *