PONTIANAK, AKCAYA Universitas PGRI Pontianak (UPGRI Pontianak) bersama Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Pemerintah Kota Pontianak menggelar Seminar Nasional bertajuk “Penguatan Moderasi Beragama dan Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal”.

Seminar berlangsung di Aula Sultan Syarif Abdurrahman, Kantor Wali Kota Pontianak, kemarin. Kegiatan tersebut menjadi ruang dialektika akademik sekaligus wadah untuk memperkuat kebijakan dan memberikan pembekalan praktis bagi pendidik serta pimpinan lembaga keagamaan dan kemasyarakatan.

Sejumlah unsur pendidikan, pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Wali Kota Pontianak, jajaran rektor perguruan tinggi se-Pontianak dan Kubu Raya, Kepala Kanwil Kemenag Kalbar, Kepala Kanwil Haji, pengurus PGRI, badan otonom Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, organisasi kepemudaan, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Pontianak dan Kubu Raya, serta mahasiswa.

Advertisement

Dalam forum tersebut, pendidikan multikultural yang terintegrasi dengan kearifan lokal dinilai dapat menjadi salah satu fondasi dalam merawat harmoni sosial di tengah masyarakat yang beragam.

Nilai-nilai keberagaman dapat disampaikan secara lebih kontekstual dengan mengakar pada budaya setempat. Pendekatan tersebut diharapkan membuat prinsip inklusivitas lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber utama yang membahas moderasi beragama dari perspektif ekonomi, pembangunan karakter hingga budaya lokal Kalimantan Barat.

Prof. H. M. Mas’ud Said dari UNISMA Malang menyoroti pentingnya penguatan sektor ekonomi dan budaya di tengah masyarakat. Menurutnya, kedua aspek tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis dalam lingkungan multikultural.

Sementara Prof. Dr. H. Imam Suprayogo dari UNISMA Malang menekankan bahwa moderasi beragama perlu diawali dengan penguatan kualitas diri manusia.

Menurutnya, penguatan tersebut mencakup aspek fisik sekaligus pembentukan batin dan pembersihan hati. Dari proses tersebut diharapkan lahir sikap hidup yang mampu menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Rektor IAIN Pontianak Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi mengangkat kekayaan tradisi masyarakat Kalimantan Barat sebagai bagian dari praktik moderasi beragama yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan, sejumlah tradisi lokal seperti budaya gotong royong dan saprahan mencerminkan nilai kebersamaan, saling menghargai dan hidup berdampingan di tengah perbedaan.

Nilai-nilai tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan dapat menjadi bagian dari materi pendidikan multikultural yang dekat dengan kehidupan peserta didik maupun masyarakat.

Melalui seminar nasional ini, sinergi perguruan tinggi dan pemerintah daerah diharapkan dapat terus diperkuat. Tidak hanya dalam pengembangan kajian akademik, tetapi juga dalam merumuskan pemikiran dan pendekatan yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Penguatan moderasi beragama dan pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal diharapkan turut memperkokoh toleransi, merawat kebinekaan dan menjaga harmoni sosial di Kalimantan Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *