Tepat di tanggal 14 September 2026. Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam sebuah seremoni yang sederhana namun sarat makna.

Sebuah estafet telah berpindah tangan. Bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan sebuah babak baru dalam perjalanan fiskal bangsa ini—sebuah momen untuk merenung, menimbang, dan menanti.

Di balik nama Suahasil Nazara, tersimpan jejak panjang seorang akademisi yang memilih meninggalkan kenyamanan kampus untuk mengabdi pada negara.

Advertisement

Lahir di Jakarta pada 23 November 1970, ia menyelesaikan sarjana ekonomi di Universitas Indonesia pada 1994, lalu mengejar master di Cornell University dan doktor di University of Illinois at Urbana-Champaign.

Sejak 1999 ia mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, meraih gelar guru besar pada 2009, dan kemudian dipercaya memimpin Badan Kebijakan Fiskal sebelum menjadi Wakil Menteri Keuangan. Ini bukan sosok yang baru kemarin belajar tentang uang negara.

Ini adalah seorang teknokrat yang telah bertahun-tahun mengunyah angka, membaca data, dan memahami denyut nadi APBN dari dalam.

Namun, warisan yang ia terima tidak ringan. Ekonomi Indonesia berdiri di atas fondasi yang kokoh, tetapi juga dihadapkan pada angin yang tidak selalu bersahabat.

Pertumbuhan ekonomi masih terjaga di atas 5 persen, inflasi berada di kisaran 3 persen, dan neraca perdagangan mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut—sebuah prestasi yang, dalam kata-kata Suahasil sendiri, membuat banyak negara lain iri.

Fundamental ini adalah modal berharga. Tetapi ada pula bayang-bayang yang perlu diwaspadai.

Rasio utang pemerintah mencapai 41,26 persen terhadap PDB pada kuartal II 2026, tertinggi sepanjang sejarah, dengan outstanding utang menyentuh Rp10.293 triliun.

Angka ini memang masih jauh di bawah batas 60 persen yang diatur undang-undang. Namun, trennya patut dicermati. Inflasi juga menunjukkan gejala kenaikan, dari 2,8 persen menjadi 3,19 persen secara tahunan, didorong oleh harga pangan dan musim ajaran baru.

Defisit APBN 2026 sempat diproyeksikan melebar menjadi Rp734 triliun oleh Menteri Keuangan sebelumnya. Dan arah kebijakan fiskal untuk 2027 telah dirancang dengan target pertumbuhan 6 persen serta defisit 2,4 persen terhadap PDB.

Di tengah lanskap inilah Suahasil mengambil kemudi. Arahan Presiden Prabowo kepadanya sangat jelas: jaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara. Dalam bahasa yang lebih dalam, ini bukan hanya soal angka. Ini soal kepercayaan.

APBN harus sehat, tetapi lebih dari itu, APBN harus dapat dipercaya. Suahasil menegaskan komitmennya: defisit akan tetap di bawah 3 persen, dan efisiensi anggaran tidak boleh dimaknai semata-mata sebagai pemangkasan belanja, melainkan sebagai upaya menghasilkan output maksimal yang bermanfaat bagi masyarakat.

Filosofi ini penting untuk dicatat. Dalam banyak diskursus publik, efisiensi sering kali direduksi menjadi penghematan, seolah-olah semakin sedikit yang dibelanjakan, semakin baik.

Suahasil menawarkan perspektif yang lebih matang: efisiensi adalah tentang kualitas belanja, bukan sekadar kuantitasnya. Ini adalah cara berpikir seorang akademisi yang memahami bahwa uang negara bukan sekadar angka di kertas, melainkan amanah yang harus menghasilkan kebaikan nyata.

Lima agenda strategis yang pernah ia paparkan—peningkatan produktivitas tenaga kerja, pembangunan infrastruktur, reformasi kelembagaan, penguatan kebijakan makro, dan stabilitas politik—menjadi peta jalan yang ia bawa ke kursi menteri. Agenda-agenda ini bukanlah hal baru, tetapi konsistensi dalam menjalankannya adalah kunci.

“Konsisten aja pada lima ini,” ujarnya suatu ketika, dengan nada seorang guru besar yang tahu bahwa perubahan besar tidak lahir dari lompatan dramatis, melainkan dari langkah-langkah kecil yang tekun.

Tentu, harapan publik tidak bisa hanya digantungkan pada sosok satu orang. Kementerian Keuangan memiliki sekitar 77 ribu pegawai yang bekerja di seluruh Indonesia, sebuah mesin birokrasi raksasa yang harus bergerak seirama.

Transisi kepemimpinan dari Purbaya ke Suahasil—yang notabene adalah atasannya sendiri sebagai Wamenkeu—diharapkan berjalan mulus tanpa gejolak berarti. Kesinambungan adalah kata kunci. Sebagaimana disampaikan Suahasil, ini bukan perubahan haluan, melainkan kelanjutan dari apa yang telah dirintis.

Namun, publik berhak bertanya: apa yang akan berbeda? Setiap menteri membawa gaya dan prioritasnya sendiri. Purbaya dikenal dengan pendekatan yang berani dan ekspansif, sementara Suahasil lebih dikenal sebagai teknokrat yang metodis dan berbasis data.

Kombinasi keduanya—keberanian dalam mengambil keputusan dan ketelitian dalam perencanaan—adalah yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Purbaya telah meletakkan fondasi kebijakan yang berani; Suahasil kini bertugas memastikan fondasi itu kokoh dan bangunannya berdiri tegak.

Yang paling ditunggu tentu bukan sekadar pernyataan-pernyataan di atas podium, melainkan hasil nyata di lapangan.

Apakah defisit benar-benar bisa ditekan di bawah 3 persen? Apakah rasio utang bisa dikendalikan tanpa mengorbankan belanja produktif? Apakah inflasi bisa tetap stabil di tengah tekanan global? Apakah pertumbuhan 6 persen pada 2027 bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan kenyataan yang dirasakan oleh rakyat kecil di pasar, di ladang, dan di pabrik?

Suahasil Nazara bukanlah orang yang suka menjanjikan bulan dan bintang. Gaya bicaranya tenang, datar, tetapi berbobot. Ia lebih suka berbicara tentang “kredibilitas” daripada “keajaiban”.

Ia percaya bahwa APBN yang dipercaya akan menarik investasi, menstabilkan pasar, dan pada akhirnya menyejahterakan rakyat. Ini adalah pendekatan yang tidak glamor, tetapi mungkin justru itulah yang dibutuhkan setelah sekian lama ekonomi kita diwarnai oleh retorika yang besar.

Maka, mari kita menanti. Bukan dengan skeptisisme yang sinis, melainkan dengan harapan yang kritis. Mari kita awasi setiap kebijakan, setiap angka, setiap janji.

Karena pada akhirnya, yang menentukan bukanlah siapa yang duduk di kursi menteri, melainkan apakah uang rakyat dikelola dengan amanah, dan apakah pembangunan benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan. Suahasil telah menerima estafet ini. Kini saatnya ia berlari—dan kita semua menantikan hasilnya.

Sharing Ide: Mulyadi Tawik, SE., ME
Pemerhati Ekonomi/Alumni Universitas Tanjungpura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *