Langit Kalimantan Barat sedang murka. Bukan karena terlalu banyak air yang jatuh, melainkan karena ia terlalu lama menahan tangisnya. Di satu sisi, bumi merekah haus, paru-paru hutan berasap, dan napas panjang kemarau menyelimuti.

Di sisi lain, ketika hujan akhirnya datang, ia tak lagi jadi berkah, melainkan air mata yang tumpah ruah, menggenangi rumah-rumah, melumpuhkan harapan. Ini adalah ironi yang kini membelenggu Bumi Untan: rindu akan hujan, namun takut akan banjir.

Ketika Hujan Menjadi Dongeng dan Ancaman

Advertisement

Menurut data terbaru yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kalbar sedang berada di bawah cengkeraman fenomena El Nino yang diprediksi mencapai level sangat kuat pada periode Agustus hingga Oktober 2026.

Dampaknya terasa nyata. Curah hujan pada Juli 2026 secara umum hanya berkisar antara 0 hingga 200 mm/bulan dengan kategori rendah hingga menengah.

Bahkan, sebagian wilayah seperti Kayong Utara, Ketapang, Kubu Raya, dan Melawi berpotensi mengalami hari tanpa hujan (HTH) dalam kategori sangat panjang, yakni lebih dari 30 hari berturut-turut.

Prediksi ke depan tak kalah mencekam. Memasuki bulan Agustus, kondisi curah hujan masih berada pada kategori rendah (0-50 mm per dasarian) dengan sifat hujan di bawah normal.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, dan kondisi kering ini akan berlanjut hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Kalbar, bahkan hingga Oktober di Kabupaten Ketapang.

Hujan pun seolah menjadi dongeng yang dinanti, sementara ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengintai.

Banjir: Bukan Sekadar Curah Hujan Tinggi

Namun, paradoksnya, ketika hujan deras akhirnya mengguyur, bencana banjir kerap tak terhindarkan. Kasus banjir di Kabupaten Kapuas Hulu dan Ketapang pada awal Agustus 2026 menjadi bukti getir.

Di Kapuas Hulu, banjir merendam 1.110 rumah dan 128 fasilitas umum, berdampak pada 25.263 jiwa yang tersebar di 30 desa. Di Ketapang, genangan air mencapai ketinggian 200 cm di sejumlah kecamatan, mempengaruhi 6.603 warga.

Sebelumnya, pada Januari 2026, banjir di Kabupaten Sanggau akibat luapan Sungai Sekayam merendam hingga 471 rumah di Desa Balai Karangan dengan ketinggian air mencapai 2 meter .

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa banjir di Kalimantan cenderung berdurasi panjang karena karakteristik sungai yang sangat panjang dan berkelok-kelok, namun tanpa perbedaan ketinggian yang signifikan antara hulu dan hilir.

Ketika curah hujan tinggi di hulu dan pasang di hilir terjadi bersamaan, air “tidak bergerak”. Ditambah lagi dengan pendangkalan sungai akibat sedimentasi yang mengurangi daya tampung air.

Hujan hanyalah pemicu, bukan akar masalah. Penyebab utamanya adalah perusakan alam yang telah berlangsung lama: deforestasi, alih fungsi hutan dan pembukaan lahan yang tak terkendali.

Bisakah Rindu Tak Berujung Duka?

Kalimantan Barat kini berada di persimpangan. Rindu akan hujan harus diimbangi dengan kesiapan agar hujan tak berubah menjadi bencana.

Mitigasi struktural seperti normalisasi sungai dan reboisasi perlu dioptimalkan, namun tak kalah penting adalah mitigasi non-struktural: edukasi masyarakat dan penegakan hukum terhadap aktivitas perusak lingkungan.

Penekanan pentingnya kolaborasi dan penegakan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebagai langkah strategis.

Selain itu tentu saja kita berharap agar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera meninjau kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas untuk mencari tahu pemicu banjir dan melakukan pemulihan.

Inilah saatnya Kalbar tak sekadar merindu hujan. Saatnya merindukan pengelolaan alam yang bijak, merindukan sungai yang dalam, dan merindukan hutan yang rimbun. Karena hujan akan selalu menjadi berkah selama manusia menjaga bumi tempatnya berpijak.

Namun, jika alam terus dilukai, maka setiap tetes hujan akan menjadi air mata yang menenggelamkan harapan.

Kalbar rindu hujan, tapi tak ingin banjir. Rindu itu harus dijawab dengan perbuatan nyata, bukan hanya doa di bibir.

Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *