Di tengah perhelatan Muktamar ke-35 NU di Jombang, wacana kepemimpinan memasuki babak baru.
NU, sebagai organisasi keagamaan terbesar di dunia, tidak sekadar membutuhkan pengurus, melainkan sosok nakhoda yang sanggup membawa kapal besar ini melintasi samudra zaman yang kian kompleks.
Sosok tersebut idealnya adalah figur yang memadukan tiga kekuatan utama: Faqih (kedalaman ilmu), Munadzdzim (kecakapan mengorganisir), dan Muharriq (kekuatan membangkitkan semangat).
Kepemimpinan yang Diperlukan di Abad Kedua
Abad kedua NU bukanlah sekadar pergantian angka tahun, melainkan pergantian paradigma. Jika di masa lalu kepemimpinan bertumpu pada kharisma personal, kini legitimasi pemimpin juga diukur dari kapasitas intelektual, integritas moral, dan tata kelola organisasi yang profesional. NU, sebagai entitas kultural dan strategis, dituntut untuk berbicara tentang geopolitik, ekonomi digital, hingga keadilan sosial tanpa kehilangan akar tradisi Aswaja.
Di sinilah urgensi figur yang tak hanya alim, tetapi juga visioner dan solutif.
Jika kita kaji secara seksama tampak nyata ketiga kategori kepemimpinan NU tersebut menyatu dalam Figur KH. Yusuf Chudlori.
Dalam diri KH. Yusuf Chudlori, atau yang akrab disapa Gus Yusuf, ketiga kualitas itu terpadu secara nyata dan organik. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, sebuah lembaga yang tak asing bagi kader NU, bahkan menjadi tempat menimba ilmu bagi almarhum Gus Dur.
Sebagai figur Faqih, kedalaman ilmu Gus Yusuf terpatri dari proses panjang menimba ilmu di pesantren besar seperti Lirboyo, Kediri, serta pesantren salaf di Purwokerto dan Kebumen.
Beliau tidak hanya menguasai kitab kuning secara mendalam, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Karya-karyanya, seperti “Menapak Hidup Baru: Doa-doa Keseharian” dan “Fiqih Interaktif”, menjadi bukti bahwa ilmu yang dimilikinya dibumikan untuk menjawab problem nyata umat.
Kualitas sebagai Munadzdzim terlihat jelas dari rekam jejaknya yang membangun berbagai institusi modern. Gus Yusuf tidak hanya fokus mengurus santri di dalam pesantren.
Beliau mendirikan Pesantren Entrepreneur di Tempuran, Magelang, untuk mencetak santri mandiri secara ekonomi—sebuah model pendidikan yang bahkan menjadi bahan disertasi S3 di UIN Walisongo.
Di bidang kesehatan, komitmennya diwujudkan dengan mendirikan Rumah Sakit di Magelang sebagai bentuk khidmah nyata bagi masyarakat. Ini adalah bukti bagaimana seorang ulama mampu merancang program kerja yang terstruktur dan berdampak luas, persis seperti tata kelola modern yang dibutuhkan NU ke depan.
Sementara itu, peran sebagai Muharriq, pembangkit semangat, diwujudkan Gus Yusuf melalui kedekatannya yang luar biasa dengan umat. Berbeda dengan tokoh yang hanya berada di balik meja, beliau adalah mubaligh keliling yang rutin menyapa warga di berbagai pelosok desa.
Beliau merangkul seniman melalui Komunitas Lima Gunung, membangun stasiun radio Fast FM untuk dakwah, dan menjadi tokoh yang diidolakan generasi milenial NU. Api semangat yang dinyalakannya bukan hanya untuk seremonial, tetapi untuk membangkitkan kesadaran dan peran aktif warga dalam membangun peradaban.
Dukungan terhadap Gus Yusuf mengalir deras, terutama dari kalangan PCNU di Jawa Tengah dan diberbagai daerah di Indonesia, dengan didukung para kiai sepuh yang menilai beliau sebagai figur santun, perangkul, dan berpengalaman. Dukungan ini juga datang dari tokoh nasional, menunjukkan bahwa kiprahnya telah diakui di tingkat tertinggi.
Memasuki abad kedua, NU membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin yang alim atau populer. Organisasi ini memerlukan ulama-negarawan yang mampu memadukan kedalaman spiritual dengan kecakapan manajerial dan semangat membangkitkan.
KH. Yusuf Chudlori telah menunjukkan bukti-bukti nyata dari tiga kualitas itu. Beliau adalah santri tulen yang memahami kitab kuning, sekaligus manajer ulung yang membangun pesantren, rumah sakit, dan perguruan tinggi, serta seorang pembakar semangat yang merangkul semua kalangan.
Dengan demikian, sangat tepat jika para Muktamirin menjatuhkan hati dan pilihannya pada sosok Gus Yusuf.
Beliau adalah representasi dari kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa NU melangkah di abad keduanya dengan penuh optimisme, memperkokoh tradisi, meneguhkan kemandirian, dan menyongsong masa depan yang gemilang.
Sharing Ide: H. Mulyadi Tawik, SE., ME
Ketua PW IKA PMII Kalbar










