Langit Pontianak pagi itu berwarna susu. Bukan embun, tapi asap. Indeks Standar Pencemar Udara menyentuh angka 227—kategori sangat tidak sehat, dengan partikel PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Di seberang lautan, di tanah kelahiran Sang Nabi, gurun Arabia pernah menyimpan panas serupa. Namun di sanalah lahir cahaya yang mengajarkan manusia untuk tidak merusak muka bumi. Di sinilah, di tengah hutan kita yang terbakar, kita diingatkan kembali: apa esensi sebenarnya dari kelahiran Rasulullah?

Angka-angka Agustus 2026 berbicara dengan bahasa yang tak dapat disangkal. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat luas area kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah mencapai 72.798,73 hektare.

Advertisement

Kalimantan Barat menjadi episentrum duka dengan 38.310 hektare lahan hangus. Sementara titik panas yang terdeteksi satelit VIIRS sepanjang 1-24 Agustus saja mencapai 3.144 titik—terbanyak di Asia Tenggara.

Data Global Nature Watch menegaskan sesuatu yang mengkhawatirkan: sejak 18 Agustus 2025 hingga 24 Agustus 2026, terdeteksi 5.669 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia. Jumlah ini tergolong “sangat tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak 2012”.

Di balik setiap titik panas itu, ada paru-paru bumi yang terbakar. Di setiap hektare yang hangus, ada oksigen yang lenyap. Dan di setiap kepulan asap, ada nafas yang terancam.

Kekeringan tahun ini bukan sekadar musim. BMKG menyebut bahwa fenomena El Nino 2026 “bisa lebih parah dibandingkan 2019”. Indeks suhu muka laut wilayah Nino3.4 mencapai sekitar +2,77 derajat Celsius—masuk kategori sangat kuat. Sebanyak 90,79 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah, dan 87,28 persen wilayah memiliki sifat hujan di bawah normal.

Namun kekeringan dan El Nino hanyalah pemicu. Pelakunya tetap manusia. Kepolisian Republik Indonesia telah menetapkan 72 individu sebagai tersangka dalam 89 kasus kebakaran hutan dan lahan.

Modus operandi yang terungkap sangat klasik dan menyayat hati: membakar lahan untuk membuka kebun dengan biaya murah.

“Sebagian besar modus operandi yang digunakan para suspek adalah membuka tanah dengan cara sengaja membakar supaya kos operasi kegiatan berkebun menjadi murah atau lebih ekonomik,” ungkap Brigjen Mohammad Irhamni.

Abu dari pembakaran dianggap bisa menyuburkan tanah. Namun abu itu kini berubah menjadi racun bagi paru-paru jutaan manusia. Ironi: demi keuntungan sesaat, kita membakar masa depan bersama.

Rabi’ul Awal: Kelahiran yang Mengajarkan Kelestarian

Di tengah kabar duka kebakaran, umat Islam menyambut bulan Rabi’ul Awal—bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Di sanalah letak pertanyaan mendasar: jika Nabi datang sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam, bagaimana seharusnya kita memaknai kelahiran beliau di tengah alam yang sedang meratap?

Kesadaran ini sejatinya telah hidup dalam tradisi Nusantara. Di Tegal, Jawa Tengah, masyarakat Bumi Jawa memperingati Maulid Nabi dengan tradisi Jamasan Bende, yang mengusung konsep “Memayu Ing Buana” —merawat bumi. Tradisi ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjelma menjadi aksi nyata: penjagaan desa, pelestarian alam, dan gerakan ekologi yang menginspirasi.

Lebih dekat lagi, di Yogyakarta, para santri Pondok Pesantren Ulul Albab menyambut Maulid dengan membersihkan Sungai Gajah Wong. Tentu kita semua harus saling mengingatkan: “Jangan hanya mengatakan cinta Rasulullah dengan lisan.

Mari kita buktikan dengan perbuatan. Membersihkan sungai, menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga bumi adalah bagian dari akhlak yang diajarkan Rasulullah.

Inilah esensi Rabi’ul Awal di tengah bencana. Bukan sekadar meriahkan dengan tabuhan rebana dan ceramah panjang. Bukan sekadar memperbanyak selawat tanpa kepedulian pada makhluk di sekitar. Maulid sejati adalah ketika kecintaan pada Nabi diterjemahkan menjadi akhlak ekologis: tidak membakar, tidak merusak, tidak meracuni.

Nabi Muhammad datang dari gurun yang tandus. Namun beliau mengajarkan umatnya untuk menghijaukan bumi, menanam pohon, dan tidak menyia-nyiakan air. Di hadis disebutkan, “Jika seorang muslim menanam pohon, maka apa yang dimakan oleh burung, manusia, dan hewan darinya menjadi sedekah baginya.”

Di tahun 2026 ini, pesan itu terasa lebih mendesak dari sebelumnya. Hingga Agustus, luas hutan dan lahan yang terbakar sudah sangat memperihatinkan. Kawasan konservasi seperti Way Kambas dan Bromo tak luput dari jilatan api. Di Kalimantan Barat, warga mulai kesulitan air bersih; sungai dan sumur banyak yang mengering.

Kita tidak bisa mengubah El Nino. Kita tidak bisa menghentikan musim kemarau. Tetapi kita bisa mengubah cara kita memperlakukan bumi. Kita bisa menghentikan pembakaran yang disengaja. Kita bisa menegakkan hukum terhadap korporasi dan individu yang merusak. Kita bisa menjadikan peringatan Maulid sebagai momentum untuk bertobat—bukan hanya dari dosa pribadi, tetapi dari dosa ekologis kita bersama.

Dari gurun Arabia yang tandus, lahir cahaya yang menerangi dunia. Kini, di hutan kita yang terbakar, di langit yang pekat asap, cahaya yang sama mengajak kita pulang: bahwa mencintai Nabi berarti mencintai alam yang menjadi rumah bagi seluruh ciptaan-Nya.

Mari sambut Rabi’ul Awal tahun ini dengan selawat yang tak sekadar terucap, tetapi terwujud dalam langkah nyata: memadamkan api, memulihkan hutan, dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Karena itulah, pada hakikatnya, esensi kelahiran Sang Kekasih.

Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *