Setiap tahun, ketika musim kemarau tiba, Kalimantan Barat menghadapi ancaman yang sama: kabut asap. Ia datang tanpa diundang, menyelimuti langit dengan kelabu pekat, membuat paru-paru warga sesak, dan menghentikan roda kehidupan.
Namun di balik bencana tahunan ini, tersimpan sebuah ironi yang memilukan: di saat asap mencekik, wilayah ini justru kekurangan listrik. Bahkan, untuk menerangi sebagian wilayahnya, Kalbar masih mengimpor listrik dari negara tetangga, Malaysia.
Pertanyaannya menggelitik: mengapa kita selama ini bodoh? Mengapa kita terus memandang asap sebagai musuh yang hanya layak ditangisi, padahal para ilmuwan telah menemukan kunci untuk mengubahnya menjadi energi?. Saatnya kita mengubah paradigma. Saatnya asap bukan lagi bencana, melainkan tegangan listrik yang siap mengalir.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan di Kalbar telah menghanguskan 38.310,86 hektare. Angka ini bukan sekadar statistik dingin—ia adalah gambaran nyata dari hutan yang terbakar, satwa yang kehilangan rumah, dan asap yang mengancam jutaan jiwa.
Kabupaten Ketapang menjadi wilayah paling parah dengan 12.443 hektare lahan terbakar, disusul Kubu Raya (8.614 hektare), Mempawah (6.144 hektare), dan Sambas (2.318 hektare). Karakteristik lahan gambut di daerah-daerah ini membuat api sulit dipadamkan dan asap terus membubung.
Dampaknya luar biasa. Sembilan kabupaten di Kalbar telah menetapkan status siaga darurat bencana asap. Sekolah diliburkan, aktivitas ekonomi terganggu, dan krisis pernapasan melanda. Ini adalah bencana tahunan yang seharusnya bisa kita ubah menjadi peluang.
Di tengah keputusasaan asap, dunia sains memberi secercah harapan. Para peneliti dari Sungkyunkwan University (SKKU) di Korea Selatan, bekerja sama dengan Ajou University dan Chungbuk National University, telah mengembangkan sebuah perangkat revolusioner yang disebut Gas Capture and Electricity Generator (GCEG).
Inovasi ini bekerja dengan prinsip sederhana namun cerdas: ketika gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) atau nitrogen oksida (NOx) diserap oleh permukaan elektroda berbasis karbon yang dikombinasikan dengan bahan hidrogel, terjadi redistribusi muatan dan migrasi ion di dalam perangkat.
Hasilnya? Arus listrik arus searah (DC) yang mengalir terus-menerus—tanpa memerlukan sumber daya eksternal apa pun.
Profesor Ji-Soo Jang, pemimpin riset ini, menegaskan, “Penelitian ini menunjukkan bahwa gas rumah kaca bukan sekadar polutan yang harus dikelola, tetapi dapat menjadi sumber energi baru. Kami bertujuan mengembangkan teknologi ini menjadi platform lingkungan yang tidak hanya mencapai netralitas karbon tetapi juga menghasilkan energi.”
Bayangkan jika teknologi GCEG diterapkan di Kalbar. Cerobong-cerobong pabrik kelapa sawit, titik api di lahan gambut, dan kepulan asap dari kebakaran hutan—semua polusi itu bisa menjadi “bahan bakar” yang menghasilkan tegangan listrik. Asap yang dulu membuat gelap dan sesak, kini menerangi rumah-rumah warga.
Kalbar memiliki lebih dari 100 perkebunan kelapa sawit skala besar. Setiap tahun, limbah biomassa dari industri sawit—termasuk tandan kosong sawit—menumpuk dalam jumlah luar biasa. Selama ini, limbah ini sering dibakar, justru menambah parahnya bencana asap.
Padahal, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengubah limbah biomassa, termasuk tandan kosong sawit, menjadi minyak biomassa yang dapat mendukung diversifikasi bahan bakar di Indonesia.
Proses pirolisis menghasilkan tiga produk utama: biochar (arang kaya karbon), bio-oil, dan gas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Tanjung Pura bahkan menemukan bahwa potensi energi biomassa di Kabupaten Sambas saja mencapai 93,8 megawatt (MW).
Jika dikombinasikan dengan energi surya dan air, total potensi listrik di Sambas mencapai 466 MW—cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat setempat sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor listrik dari Malaysia.
Hilirisasi: Mengubah Bencana Menjadi Tegangan
Selama ini, kita memperlakukan asap sebagai masalah yang hanya bisa diatasi dengan cara-cara konvensional: water bombing, operasi modifikasi cuaca, dan patroli darat. Semua itu penting, tetapi belum menyentuh akar masalah: kita belum melihat nilai ekonomi dari polusi itu sendiri.
Hilirisasi tegangan listrik dari asap dan karbon adalah solusi yang menawarkan dua keuntungan sekaligus: mengurangi emisi dan menghasilkan energi. Teknologi seperti GCEG dan pirolisis biomassa adalah jembatan menuju masa depan itu.
Bayangkan skenario ini: setiap ton biomassa yang diproses melalui pirolisis tidak hanya mengurangi volume limbah yang berpotensi terbakar, tetapi juga menghasilkan listrik yang dapat dialirkan ke jaringan PLN. Setiap kepulan asap yang ditangkap oleh perangkat GCEG tidak hanya membersihkan udara, tetapi juga menyala menjadi lampu di rumah-rumah warga.
Kalbar, dengan hutan seluas 5,5 juta hektare yang menyimpan lebih dari 6 persen stok karbon hutan tropis Indonesia, memiliki tanggung jawab moral dan ekologis untuk memimpin perubahan ini. Bukan hanya sebagai daerah yang terkena dampak, tetapi sebagai pionir yang mengubah bencana menjadi berkah.
“Bencana” adalah kata yang kita gunakan ketika kita tidak memiliki kendali. Tapi ketika ilmu pengetahuan telah memberikan alat, ketika teknologi telah tersedia, dan ketika potensi ada di depan mata, maka ketidakmampuan untuk berubah adalah kebodohan yang tak termaafkan.
Sudah saatnya Kalbar tidak lagi mengimpor listrik dari negeri jiran sementara asap membubung dari lahannya sendiri. Sudah saatnya kita melihat setiap kepulan asap sebagai tegangan yang menunggu untuk mengalir. Sudah saatnya bencana asap berubah menjadi hilirisasi tegangan listrik.
Karena di ujung asap, ada cahaya. Dan cahaya itu adalah milik kita untuk diambil.
Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media











