PONTIANAK, AKCAYA – Suasana belajar di SD Negeri 05 Pontianak Timur kini jauh berbeda. Gedung yang telah direvitalisasi menghadirkan ruang belajar yang lebih nyaman, bersih, dan representatif. Perubahan itu bukan hanya terlihat dari bangunan fisik, tetapi juga dari semangat para siswa yang datang ke sekolah dengan wajah ceria dan rasa bangga terhadap tempat mereka menimba ilmu.

Para guru pun kini dapat mengajar dengan lebih tenang sehingga bisa lebih fokus membangun karakter dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Bagi Kepala SDN 05 Pontianak Timur, Bona Ventura, revitalisasi sekolah menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah dalam memperhatikan dunia pendidikan hingga ke tingkat paling dasar.

“Bagi masyarakat di sekitar, sekolah kami tidak hanya berdiri tegak, tapi sebagai bukti nyata bahwa pemerintah hadir dalam membangun pendidikan hingga ke ruang yang paling kecil,” ujarnya saat menyampaikan testimoni pada peresmian revitalisasi gedung sekolah se-Kota Pontianak di SDN 05 Pontianak Timur, kemarin.

Bona mengenang kondisi sekolah sebelum direvitalisasi. Menurutnya, tata ruang yang tersedia kala itu belum mampu mendukung penerapan Kurikulum Merdeka secara optimal, padahal pendekatan pembelajaran saat ini menuntut siswa lebih aktif bergerak, berdiskusi, dan mengeksplorasi berbagai metode belajar.

Meski demikian, keterbatasan fasilitas tidak pernah mengurangi semangat para siswa maupun guru untuk terus belajar dan mengajar.

“Saya merasa ada harapan besar yang belum pernah bisa dimunculkan karena keterbatasan kondisi lingkungan belajar. Namun, harapan itu berubah menjadi kenyataan ketika sekolah saya ditetapkan sebagai salah satu sekolah penerima program revitalisasi tahun 2025,” katanya.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyatakan revitalisasi sekolah merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Pontianak dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui penyediaan sarana dan prasarana yang lebih baik.

Menurutnya, setiap tahun Pemkot Pontianak mengalokasikan anggaran lebih dari Rp100 miliar untuk rehabilitasi sekolah maupun pembangunan gedung baru.

Langkah tersebut dilakukan karena sebagian besar sekolah dasar di Pontianak merupakan bangunan peninggalan program Sekolah Inpres yang kini memerlukan penanganan bertahap melalui rehabilitasi, regrouping, maupun pembangunan baru.

“Target kita tahun 2029, 95 persen sarana prasarana sekolah negeri di Kota Pontianak dalam kondisi baik dan representatif, termasuk sarana penunjang seperti olahraga, halaman, pagar, toilet, dan kantin sekolah,” ungkapnya.

Edi juga mengapresiasi dukungan pemerintah pusat melalui program revitalisasi satuan pendidikan yang dinilai mempercepat peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan di Kota Pontianak.

Pada 2025, sebanyak 15 satuan pendidikan berhasil direvitalisasi, terdiri atas satu taman kanak-kanak, empat sekolah dasar, delapan sekolah menengah pertama, dan dua sekolah menengah atas.

Program tersebut berlanjut pada 2026 dengan menyasar 12 satuan pendidikan lainnya yang terdiri atas dua TK, empat SD, satu SMP, satu SPNF SKB, satu PKBM, dan tiga SMA.

“Jadi totalnya 27 satuan pendidikan,” kata Edi.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat penting untuk mempercepat pemerataan kualitas sarana pendidikan. Selain rehabilitasi gedung, Pemkot Pontianak juga berharap dukungan pemerintah pusat terus berlanjut untuk penyediaan mebeler, perangkat pembelajaran digital, hingga berbagai fasilitas penunjang lainnya.

“Tentunya kita masih berharap ke depan adanya sinergisitas untuk peningkatan kualitas sarana prasarana, termasuk sarana pendukung seperti mebeler, digital, dan sarana lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain, Edi mengungkapkan bahwa tantangan pendidikan di Pontianak tidak hanya berkaitan dengan kondisi bangunan sekolah, tetapi juga daya tampung peserta didik.

Pada jenjang sekolah dasar, jumlah siswa saat ini mencapai 12.071 orang, sementara kapasitas yang tersedia hanya 11.779 kursi sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 292 kursi. Adapun pada jenjang SMP, jumlah siswa sekitar 12.062 orang dengan kapasitas 12.437 kursi sehingga daya tampung masih mencukupi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Pontianak terus memberikan dukungan kepada sekolah swasta maupun madrasah melalui hibah APBD. Nilai bantuan yang disalurkan setiap tahun berkisar antara Rp2 miliar hingga Rp5 miliar sesuai proposal yang diajukan.

Selain itu, pemerintah kota juga menyiapkan lahan untuk pembangunan fasilitas pendidikan baru, termasuk madrasah aliyah. Dalam skema tersebut, pemerintah daerah menyediakan lahan, sedangkan pembangunan fisik, tenaga pendidik, serta operasional menjadi tanggung jawab Kementerian Agama.

Edi menegaskan seluruh upaya tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung program wajib belajar 13 tahun.

“Ini bentuk upaya kita untuk meningkatkan sumber daya manusia ke depan,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa revitalisasi sekolah merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam membangun ekosistem pendidikan nasional yang lebih aman, nyaman, dan berkualitas.

Menurutnya, pembangunan fisik sekolah bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Revitalisasi ini bukan tujuan, tetapi bagian dari usaha, bagian dari kebijakan yang muaranya pada peningkatan mutu pendidikan, yang diharapkan meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 pemerintah telah menyelesaikan revitalisasi terhadap 16.167 satuan pendidikan di berbagai daerah.

Program tersebut berlanjut pada 2026 dengan target awal sebanyak 11.744 satuan pendidikan. Bahkan pemerintah kembali menambah target revitalisasi sebanyak 6.000 sekolah atas arahan Presiden sehingga total sekolah yang akan direvitalisasi pada tahun ini mencapai 17.744 satuan pendidikan.

“Dan insya Allah akan ada tambahan dari Bapak Presiden 6.000 satuan pendidikan sehingga tahun ini pemerintah akan melakukan revitalisasi untuk 17.744 satuan pendidikan di semua daerah,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *