PONTIANAK, AKCAYA – Biro Bantuan Hukum dan Perlindungan Profesi Pengurus Provinsi (PP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kalimantan Barat kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kesejahteraan pendidik melalui webinar bertajuk “Guru Sehat Mental, Pendidikan Berkualitas”.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring tersebut diikuti sebanyak 198 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Antusiasme peserta menjadi gambaran bahwa isu kesehatan mental guru kini semakin mendapat perhatian di kalangan pendidik maupun pemangku kepentingan pendidikan.
Webinar dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua V PP PGRI Kalimantan Barat, Masturah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kesehatan mental guru bukan lagi persoalan pribadi semata, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan dan perlindungan profesi guru.
Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikan, termasuk kasus hukum yang melibatkan guru dan peserta didik, sering kali memiliki keterkaitan dengan kondisi psikologis guru yang sedang menghadapi tekanan berat.
“Guru menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari tuntutan administrasi yang padat, beban mengajar, ekspektasi orang tua, hingga tanggung jawab memberikan perhatian penuh kepada peserta didik. Ketika kondisi mental melemah dan emosi tidak terkelola dengan baik, risiko munculnya persoalan hukum juga semakin besar,” ujar Masturah.
Ia menjelaskan, webinar tersebut dirancang untuk mencapai empat tujuan utama. Pertama, meningkatkan pemahaman guru mengenai pentingnya kesehatan mental dalam menjalankan profesi. Kedua, membekali guru dengan strategi praktis dalam mengelola stres dan menjaga kesejahteraan psikologis. Ketiga, mendorong terciptanya lingkungan kerja dan pembelajaran yang sehat serta suportif. Keempat, mendukung terwujudnya pendidikan berkualitas melalui guru yang sehat secara fisik maupun mental.
Pada kesempatan itu, peserta mendapatkan materi dari psikolog Citra Amelia yang memaparkan berbagai strategi praktis dalam mengelola tekanan kerja, menjaga keseimbangan emosi, serta membangun ketahanan mental di tengah dinamika profesi guru yang semakin kompleks.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para peserta yang terdiri dari guru dan dosen aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait tantangan yang mereka hadapi dalam keseharian, mulai dari tekanan pekerjaan hingga cara menjaga kesehatan mental saat menghadapi berbagai tuntutan profesi.
Kegiatan ini juga menunjukkan tingginya perhatian terhadap isu kesehatan mental guru di berbagai daerah. Peserta berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Barat seperti Pontianak, Kubu Raya, Singkawang, Bengkayang, Sanggau, Sambas, Ketapang, Sintang, Kapuas Hulu, Sekadau, dan Mempawah.
Tidak hanya dari Kalimantan Barat, webinar juga diikuti peserta dari berbagai provinsi lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jambi, Bangka Belitung, Pangandaran, Maluku, hingga Nusa Tenggara Timur.
Kalangan akademisi turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Beberapa dosen dari Universitas Tanjungpura, Universitas PGRI Pontianak, Universitas Muhammadiyah Pontianak, Universitas Bengkulu, dan Institut Agama Islam Nurul Jadid tercatat mengikuti webinar. Perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Pontianak juga hadir dalam forum tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi kepada peserta, panitia yang dipimpin Lili Pulungan menutup kegiatan dengan pengundian hadiah berupa uang pengganti kuota internet bagi lima peserta beruntung.
Keberhasilan webinar ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk semakin serius memperhatikan kesehatan mental para guru. Sebab, guru yang sehat secara mental diyakini menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas.
Selain itu, kesehatan mental yang terjaga juga dinilai mampu meminimalkan risiko terjadinya tindakan yang tidak diinginkan di lingkungan sekolah, termasuk potensi kekerasan terhadap peserta didik.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental guru, PGRI Kalimantan Barat berharap dunia pendidikan dapat tumbuh lebih sehat dan mampu melahirkan generasi yang berkualitas melalui para pendidik yang sejahtera secara psikologis.










