Di tengah kepulan uap panas bumi yang menyembur dari geiser Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, air mendidih pada suhu 100 derajat Celsius menjadi lazim.

Namun, di lingkungan yang tampaknya tak ramah bagi kehidupan ini, tim peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) justru menemukan sebuah keajaiban mikroskopis: Thermus javaensis, spesies baru bakteri super kuat yang mampu bertahan dalam suhu ekstrem.

Namanya Terukir dari Pulau Jawa

Nama “javaensis” secara harfiah berarti “berasal dari Jawa”. Penamaan ini bukan sekadar label geografis, melainkan penghormatan terhadap tanah tempat ia pertama kali diidentifikasi.

Penemuan ini menjadikan Thermus javaensis sebagai spesies pertama dari genus Thermus yang berhasil dideskripsikan dari kawasan geotermal Indonesia.

Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Wellyzar Sjamsuridzal, Guru Besar Ilmu Sistematika dan Prospeksi Mikroorganisme FMIPA UI, bersama tim yang terdiri dari Dr. Fitria Ningsih, Dr. Mazytha K. Rachmania, dan Dhian Chitra Ayu Fitria Sari, telah melalui perjalanan ilmiah yang panjang.

Eksplorasi di kawasan geiser Cisolok dimulai sejak 2012, pengambilan sampel dilakukan pada 2015, dan hasilnya baru dipublikasikan pada 2026 dalam jurnal bergengsi International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology.

Rahasia Kehidupan di Titik Didih

Apa yang membuat Thermus javaensis begitu istimewa? Bakteri ini termasuk dalam kelompok termofilik sejati—organisme yang “mencintai panas.” Ia ditemukan hidup di serasah daun di sekitar semburan geiser yang suhunya mencapai titik didih air.

Meskipun lingkungan sekitarnya dapat mencapai 100°C, hasil penelitian menunjukkan bahwa Thermus javaensis memiliki rentang pertumbuhan yang terukur secara ilmiah.

Data ini bersumber dari jurnal publikasi resmi dan telah melalui verifikasi ilmiah.

Secara visual, Thermus javaensis tampil memesona dengan pigmen kuning khas yang menghiasi koloninya.

Bentuknya menyerupai batang ramping, namun yang paling menarik perhatian para ilmuwan adalah keberadaan struktur unik bernama rotund bodies—bentuk bulat misterius yang jarang ditemukan pada anggota genus Thermus lainnya.

Warisan dari Taq Polymerase

Keberadaan rotund bodies ini bukan sekadar keanehan morfologis. Struktur serupa sebelumnya hanya ditemukan pada Thermus aquaticus, bakteri legendaris yang menjadi sumber enzim Taq polymerase—komponèn kunci di balik teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction) yang revolusioner.

PCR adalah metode yang memungkinkan penggandaan DNA jutaan kali lipat, menjadi tulang punggung diagnosis penyakit modern, tes COVID-19, hingga analisis forensik.

Dengan analogi sederhana: jika Thermus aquaticus adalah “nenek moyang” yang mengubah dunia biologi molekuler, maka Thermus javaensis adalah “kerabat dekat” di Nusantara yang menyimpan potensi serupa, bahkan mungkin lebih besar.

Lebih dari Sekadar Bakteri Tahan Panas

Tim peneliti tidak berhenti pada identifikasi. Melalui pendekatan studi polifasik yang menggabungkan analisis genetik, fisiologi, biokimia, hingga kemotaksonomi, mereka membuka tabir potensi tersembunyi dari Thermus javaensis.

Hasil whole genome sequencing mengungkapkan bahwa bakteri ini memiliki ukuran genom 2,41 Mbp dengan kandungan G+C sebesar 66,8 mol%.

Yang lebih menggembirakan, analisis awal menunjukkan bahwa Thermus javaensis berpotensi menghasilkan:

1. Enzim termostabil—protein tahan panas yang dapat digunakan dalam proses industri bersuhu tinggi, seperti produksi biofuel, pengolahan makanan, dan deterjen.

2. Metabolit sekunder baru dari kelompok terpen—senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi antibakteri, antijamur, hingga antiinflamasi.

Biodiversitas Tersembunyi di Bumi Nusantara

Penemuan Thermus javaensis adalah secercah cahaya yang menerangi kegelapan biodiversitas mikroba Indonesia.

Seperti yang disampaikan Prof. Wellyzar: “Penemuan Thermus javaensis menunjukkan bahwa ekosistem geotermal Indonesia merupakan biodiversity hotspot yang menyimpan keanekaragaman mikroorganisme yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap secara ilmiah”.

Dengan spesies ini, jumlah anggota genus Thermus yang diketahui dunia kini bertambah menjadi 26 spesies sejak genus tersebut pertama kali diperkenalkan pada tahun 1969 oleh Brock dan Freeze.

Namun, tim FMIPA UI bahkan telah mengonfirmasi dua kandidat spesies bakteri baru lainnya dari kawasan yang sama yang sedang dipersiapkan untuk publikasi.

Dari Jawa untuk Dunia

Thermus javaensis bukan sekadar bakteri. Ia adalah warisan alam Indonesia yang kini diakui dunia ilmiah internasional.

Kolaborasi penelitian ini melibatkan institusi bergengsi seperti RIKEN (Jepang) dan Korea Research Institute of Bioscience and Biotechnology (KRIBB), membuktikan bahwa kualitas riset Indonesia mampu bersaing di kancah global.

Di tengah gemerlap penemuan teknologi modern, masih ada keajaiban kecil yang menunggu untuk ditemukan di ujung-ujung negeri.

Di balik kepulan uap panas bumi Cisolok, dalam setetes air mendidih yang tampaknya hampa, hidup Thermus javaensis—bakteri super kuat dari Jawa yang mengajarkan kita bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya, bahkan di tempat yang paling ekstrem sekalipun.

Sharing ide: Hery Arianto

(Pemerhati Sosial & Media)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *