PONTIANAK, AKCAYA – Universitas PGRI Pontianak terus memperkuat kerja sama internasional melalui kegiatan akademik bersama perguruan tinggi luar negeri. Kali ini, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas PGRI Pontianak mengambil bagian dalam kegiatan visiting lecturer di Fakulti Sains Sukan dan Rekreasi, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Sarawak, Malaysia.

Dalam kegiatan yang berlangsung Jumat (23/10/2026), Dekan FPOK Universitas PGRI Pontianak, Rusdi, hadir sebagai dosen tamu dengan membawakan materi bertajuk Inclusive Sports in Indonesia: Policies, Programs, Practices and the Development of Disability Sports.

Kuliah tamu tersebut diikuti mahasiswa Fakulti Sains Sukan dan Rekreasi UiTM Sarawak. Kegiatan juga melibatkan sejumlah akademisi, di antaranya Mohd Asmadzy Ahmad Basra dari UiTM Malaysia Sarawak serta Nevi Hardika, Ketua Program Studi Magister Olahraga Universitas PGRI Pontianak. Pertemuan akademik ini dilaksanakan melalui Zoom Meeting.

Advertisement

Rektor Universitas PGRI Pontianak, Muhamad Firdaus menyambut baik keberlanjutan kerja sama internasional yang dilakukan kampus. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri merupakan bagian dari upaya memperluas wawasan akademik dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Ia menegaskan, Universitas PGRI Pontianak terus berkomitmen mencetak lulusan yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global. Kerja sama internasional diharapkan dapat membuka lebih banyak ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi, memperluas jejaring, serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional.

Keterlibatan Rusdi sebagai dosen tamu di UiTM Sarawak menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi Universitas PGRI Pontianak dalam pertukaran pengetahuan lintas negara. Selain memperkenalkan perspektif Indonesia mengenai olahraga inklusif, kegiatan ini juga memperkuat hubungan akademik antara kedua institusi.

Dalam pemaparannya, Rusdi membahas kebijakan, regulasi, serta praktik penyelenggaraan olahraga inklusif di Indonesia. Ia menjelaskan landasan hukum yang menjadi acuan dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas, termasuk Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.

Regulasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong penyelenggaraan olahraga yang memberikan ruang partisipasi bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Melalui kebijakan yang tepat, olahraga diharapkan dapat berkembang sebagai sarana pembinaan prestasi sekaligus memperluas kesempatan berpartisipasi secara setara.

Selain membahas regulasi, Rusdi turut menguraikan sejumlah tantangan yang masih dihadapi dalam pengembangan olahraga disabilitas di Indonesia. Tantangan itu meliputi keterbatasan fasilitas yang aksesibel, pendanaan, stigma di masyarakat, serta kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk terlibat dalam berbagai aktivitas dan kompetisi olahraga.

Pembahasan tersebut menjadi bagian dari pertukaran wawasan akademik antara Universitas PGRI Pontianak dan UiTM Sarawak mengenai pengembangan olahraga inklusif. Melalui kegiatan kuliah tamu, kedua perguruan tinggi berkesempatan berbagi perspektif mengenai kebijakan, program, dan praktik olahraga disabilitas di masing-masing lingkungan pendidikan.

Universitas PGRI Pontianak berharap kerja sama internasional dapat terus berkembang melalui berbagai kegiatan pendidikan, penelitian, dan pertukaran akademik. Dengan demikian, kolaborasi lintas negara tidak hanya memperkuat hubungan antarkampus, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan olahraga yang inklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *