KETAPANG, AKCAYA – Seekor orangutan yang meresahkan warga di area perkebunan di Dusun Pemangkat Jaya, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara ditranslokasikan ke habitat alaminya di Taman Nasional Gunung Palung, sebagai langkah mitigasi konflik sekaligus penyelamatan satwa dilindungi.

Translokasi ini dilakukan setelah adanya laporan warga terkait kemunculan orangutan di area perkebunan kelapa dan karet. Sejak akhir tahun lalu, satwa tersebut kerap melintasi kebun warga. Namun dalam sepekan terakhir, orangutan mulai menetap di kebun kelapa sehingga menimbulkan kerugian ekonomi dan kekhawatiran, terutama karena ukuran tubuhnya yang besar.

Asisten Manager Orangutan Protection Unit YIARI, Muhadi menegaskan bahwa translokasi merupakan opsi terakhir.

“Langkah ini dilakukan untuk menjamin keselamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia,” katanya, Minggu (26/4).

Menurut Muhadi, berdasarkan hasil asesmen serta melihat kondisi lanskap yang ada, keberadaan orangutan tersebut berisiko menimbulkan kerugian ekonomi serta rasa takut.

“Pada akhirnya akan berujung pada tindakan yang membahayakan baik bagi satwa maupun manusia,” jelas Muhadi.

Proses penanganan menggunakan senapan bius oleh tim YIARI untuk meminimalkan risiko. Dosis anestesi dihitung secara cermat oleh dokter hewan sesuai estimasi berat badan satwa dan hanya dilakukan oleh petugas berizin.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya luka alami di bagian wajah dan lengan kiri serta fraktur pada gigi.

“Luka tersebut kemungkinan disebabkan oleh lingkungan sekitar, seperti semak bambu, mengingat orangutan ini banyak beraktivitas di kebun dan hutan bambu,” ujar dokter hewan YIARI, Rachel.

“Luka ini sudah sembuh dan secara umum, kondisi satwa dinyatakan sehat dan layak untuk ditranslokasikan,” sambungnya.

Setelah pemeriksaan, orangutan dipindahkan ke Taman Nasional Gunung Palung yang merupakan habitat alaminya. Kawasan ini dinilai memiliki perlindungan kuat dan ketersediaan pakan yang cukup.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran memakan waktu sekitar dua jam dengan kombinasi transportasi darat dan air. Proses pelepasliaran juga melibatkan masyarakat setempat yang membantu membawa satwa lebih jauh ke dalam hutan.

Saat dilepasliarkan, orangutan menunjukkan respons baik dengan segera menjauh dan memperlihatkan perilaku liar, yang menandakan kesiapan hidup mandiri di alam.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.

“Translokasi ini merupakan salah satu langkah dalam upaya penyelamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik antara satwa liar dengan manusia. Kami mengapresiasi peran serta masyarakat dan seluruh pihak yang telah mendukung proses ini sehingga dapat berjalan dengan baik. Ke depan, sinergi dan kesadaran bersama sangat penting agar upaya pelestarian orangutan dapat berjalan seiring dengan aktivitas masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, menegaskan komitmennya menjaga kawasan konservasi. “Tugas kami selalu menjaga Taman Nasional Gunung Palung agar tetap menjadi rumah yang nyaman dan aman bagi orangutan dan satwa liar lainnya. Bersama jaga alam, jaga TaNaGuPa untuk kehidupan yang berkelanjutan,” katanya.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyoroti tantangan perubahan tata guna lahan. Perubahan yang berlangsung cepat dan tidak terencana menyulitkan orangutan untuk beradaptasi, sekaligus menghambat penyusunan strategi mitigasi yang efektif.

“Kami berharap para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah dan sektor swasta, dapat mendorong perencanaan tata guna lahan yang lebih pasti dan terintegrasi. Hal ini sangat krusial, mengingat sebagian besar populasi orangutan berada di luar kawasan konservasi,” harapnya.

Ia juga menambahkan pentingnya hidup berdampingan dengan satwa liar. “Orangutan bukanlah pendatang di areal ini. Mereka sudah berada di sini jauh sebelum konversi lahan terjadi. Kini, orangutan semakin sulit menemukan ruang hidupnya. Kita perlu belajar untuk hidup berdampingan dengan mereka, karena sesungguhnya kitalah yang menempati rumah mereka,” pungkasnya. (elp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *