Di tepian Sungai Kapuas yang mengalir tenang, sebuah cagar ilmu tengah berdenyut menuju babak baru. Institut Agama Islam Negeri Pontianak, yang telah melewati perjalanan panjang sejak 1969, kini berdiri di ambang transformasi besar: menjadi Universitas Islam Negeri.

Harapan itu terukir pada naskah yang telah 100 persen diajukan ke Kementerian Agama, menunggu legitimasi yang akan mengubah wajah pendidikan tinggi Islam di Kalimantan Barat.

Di tengah denyut sejarah itu, figur Prof. Dr. KH. Wajidi Sayadi, M.Ag. muncul bukan sekadar sebagai kandidat, melainkan sebagai representasi dari akar keilmuan yang kokoh dan visi peradaban yang jauh ke depan.

Advertisement

Guru besar Ilmu Hadis ini membawa tongkat estafet kepemimpinan dengan bekal yang tak ringan—dan harapan yang menggantung di pundaknya begitu besar.

Setiap peradaban besar lahir dari tradisi intelektual yang mengakar. Prof. Wajidi memahami itu.

Riwayat pendidikannya adalah peta perjalanan seorang santri yang menapaki jenjang keilmuan klasik hingga modern.

Ia memulai dari dua pesantren di Sulawesi Selatan—Pesantren Salafiyah Parappe dan Pesantren Syekh Hasan Yamani—sebelum menjejakkan kaki di IAIN Alauddin Makassar, kemudian melanjutkan studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga meraih gelar doktor pada 2006.

Karya disertasinya tentang Asbab an-Nuzul dalam tafsir Al-Maragi dengan pendekatan kritik hadis menjadi pintu gerbang pengakuannya sebagai pakar di bidangnya.

Namun, keilmuan baginya bukanlah menara gading. Ia pernah menjadi bagian dari Tim Pakar Pembahas Revisi Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama RI, sebuah amanah yang ia emban sejak 2007 hingga 2025.

Lebih dari itu, Prof. Wajidi adalah seorang penulis. Lebih dari 20 buku ilmiah telah ia lahirkan, membuktikan bahwa tradisi menulis—yang ia gaungkan sebagai “Nun wal Qalam”—bukan sekadar seruan, melainkan praksis hidup. “Tulis apa yang bisa kita tulis tanpa membandingkan kemampuan dengan orang lain.

Kalau hanya bisa menulis dua atau tiga paragraf, tulis saja,” pesannya kepada para dai dan ulama. Di era post-truth, ketika fakta dan opini kerap kabur, tekad untuk mendokumentasikan ilmu adalah benteng peradaban.

Di sinilah letak keistimewaan periode ini. Transformasi bukan lagi mimpi di ufuk, melainkan pintu yang sudah terbuka.

Tugas pemimpin selanjutnya bukan lagi memenuhi syarat, melainkan mengisi substansi. Prof. Wajidi dihadapkan pada tanggung jawab untuk mengelola momentum ini: bagaimana menjadikan peralihan status bukan sekadar pergantian nama, tetapi lompatan kualitas yang terasa.

Moderasi: Merawat Harmoni dalam Keberagaman

Salah satu pilar yang menjadi sorotan dalam visi Prof. Wajidi adalah moderasi beragama. Bukanlah kebetulan bahwa ia pernah menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Barat periode 2012–2017.

Pada masa itu, ia menginisiasi deklarasi damai yang melibatkan lebih dari 20 organisasi kemasyarakatan lintas agama, suku, dan etnis—sebuah langkah konkret yang tak lekang oleh waktu.

Perjalanannya ke Amerika Serikat melalui International Visitor Leadership Program pada 2019 dengan tema Promoting Tolerant Messaging memperluas wawasan tentang bagaimana membangun narasi toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.

Kepemimpinan sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Kalbar selama tiga periode menegaskan komitmennya terhadap Islam wasathiyah—jalan tengah yang menolak ekstremisme di kedua kutub.

Tantangan di Kalimantan Barat adalah mozaik keberagaman yang indah sekaligus rapuh. Membangun tradisi seperti ini ke dalam kurikulum dan kehidupan kampus UIN Pontianak adalah salah satu pekerjaan rumah besar. Bagaimana menjadikan kampus sebagai laboratorium toleransi, bukan sekadar menara gading yang terasing dari realitas sosial?

Integrasi Keilmuan: Menjembatani Tradisi dan Modernitas

Dalam berbagai kesempatan, Prof. Wajidi menekankan pentingnya integrasi ilmu—memadukan kajian keislaman dengan ilmu pengetahuan umum, serta mengaitkannya dengan kearifan lokal Borneo.

Gagasan ini bukanlah isapan jempol belaka. Pengalamannya sebagai Ketua Jurusan Dakwah di STAIN Pontianak membuktikan kapasitas manajerialnya: ia berhasil membuka tiga program studi baru—Manajemen Dakwah, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, serta Studi Agama-Agama—yang memperkaya peta keilmuan kampus.

Kini, di tingkat yang lebih luas, tantangannya adalah merancang UIN Pontianak sebagai kampus yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan abad ke-21—tanpa kehilangan akar spiritual.

Beberapa calon rektor lain mengusung visi digitalisasi dan smart campus. Bagaimana Prof. Wajidi merespons kebutuhan zaman itu dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman yang ia yakini?

Di sinilah letak seni kepemimpinan: tidak terjebak dalam oposisi biner antara tradisi dan modernitas, melainkan menemukan sintesis yang kreatif. Tradisi menulis yang ia gaungkan, misalnya, harus berhadapan dengan realitas bahwa Generasi Z dan Alpha kini lebih akrab dengan konten digital instan.

Dakwah di era post-truth menuntut strategi baru—podcast, TikTok, Instagram—tanpa kehilangan substansi. Ini adalah medan yang harus ia taklukkan.

Ada pesan yang kerap disampaikan Prof. Wajidi saat memberikan tausiyah: “Sekarang ini kita sudah di era post-truth. Bukan fakta dan bukti yang menentukan, tapi pluralitas, emosi, dan opini publik yang kemudian menjadi kenyataan di media”.

Kata-kata ini adalah cermin tantangan yang dihadapinya. Kepemimpinan di tengah gempuran informasi dan pergeseran otoritas keagamaan menuntut keberanian untuk tetap berpegang pada fakta, sekaligus kelincahan beradaptasi.

Setiap zaman memiliki tonggaknya. Momen ketika Prof. Dr. KH. Wajidi Sayadi, M.Ag. dipercaya memimpin IAIN Pontianak adalah salah satu titik yang akan dikenang. Bukan semata karena status institusi yang bertransformasi, tetapi karena harapan yang ia bawa: Pendidikan tinggi Islam di Kalimantan Barat tidak hanya unggul dalam kualitas akademik, tetapi juga bermartabat dalam sikap, dan relevan dalam menghadapi zaman.

Sharing Ide: Hery Arianto
Pemerhati Sosial & Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *