KUBU RAYA, AKCAYA – Temuan ulat di dalam makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa SDN 01 Teluk Pakedai mendapat sorotan dari Sekretaris KNPI Teluk Pakedai, Jamalludin Yunus.
Ia meminta kejadian tersebut segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan yang dikonsumsi para siswa.
Jamalludin menilai temuan tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Terlepas dari dugaan awal mengenai penyebab munculnya ulat, termasuk kemungkinan adanya sabotase, menurutnya pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap perlu mengevaluasi seluruh tahapan penyediaan makanan.
Mulai dari pengadaan dan pemeriksaan bahan baku, proses pencucian dan pengolahan, pemeriksaan akhir, pengemasan hingga distribusi, seluruh tahapan dinilai perlu diperiksa untuk mengetahui titik terjadinya persoalan.
“Berapa banyak petugas pengelolaan makanan di setiap dapur SPPG yang ada? Dengan jumlah petugas yang seharusnya memadai, masih bisa terjadi hal demikian. Apakah ini bukan karena kelalaian petugas terkait? Jangan hanya menyampaikan kemungkinan adanya sabotase sebelum persoalan ini benar-benar diusut,” ujar Jamalludin, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, temuan benda asing di dalam makanan yang diperuntukkan bagi anak sekolah menunjukkan perlunya evaluasi terhadap sistem pengawasan dan pemeriksaan makanan sebelum didistribusikan.
“Ini bukan hal kecil. Kalau sampai ulat bisa lolos ke makanan anak sekolah, berarti ada yang harus diperbaiki dalam sistemnya. SPPG tidak boleh berlindung di balik alasan apa pun tanpa melakukan evaluasi menyeluruh,” tegasnya.
Jamalludin juga mendesak agar seluruh proses penyediaan makanan MBG diperiksa secara objektif. Jika hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan adanya kelalaian, ia meminta pihak yang bertanggung jawab diberikan sanksi sesuai ketentuan.
“Kalau memang terbukti lalai, jangan hanya minta maaf. Harus ada tindakan nyata, termasuk evaluasi total dan sanksi tegas kepada pihak yang bertanggung jawab,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya sistem pemeriksaan berlapis sebelum makanan sampai ke tangan siswa. Setiap makanan, kata dia, seharusnya melalui pengecekan yang memadai untuk meminimalkan risiko kontaminasi maupun masuknya benda asing.
Di sisi lain, Jamalludin meminta dugaan sabotase, jika memang muncul dalam proses pemeriksaan, juga diusut secara tuntas dan dibuktikan berdasarkan fakta.
Namun, selama belum ada bukti yang mengarah pada sabotase, kemungkinan adanya kelalaian dalam proses penyediaan, pengolahan, pemeriksaan, maupun distribusi makanan juga harus tetap menjadi bagian dari evaluasi.
“Jangan sampai dugaan sabotase justru membuat persoalan utama terabaikan. Semua kemungkinan harus diperiksa secara objektif berdasarkan fakta dan hasil pemeriksaan,” katanya.
Jamalludin menegaskan bahwa program MBG berkaitan langsung dengan makanan yang dikonsumsi anak-anak. Karena itu, aspek kebersihan, keamanan pangan, kualitas makanan, serta pengawasan harus menjadi perhatian utama seluruh pihak yang terlibat.
“Yang paling penting, kejadian serupa tidak boleh terulang. Keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi tanggung jawab utama seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program MBG,” pungkasnya. (elp)











