PONTIANAK, AKCAYA – Momentum Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 dimanfaatkan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIA Pontianak untuk mempertegas komitmen menjaga integritas. Di tengah berbagai tantangan, termasuk persoalan over kapasitas, rutan ini memastikan seluruh pelaksanaan tugas tetap berjalan sesuai aturan tanpa kompromi.

Dalam kegiatan tasyakuran yang digelar Senin (27/4/2026), Kepala Rutan Kelas IIA Pontianak, Timbul A. Panjaitan, menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi pelanggaran dalam sistem pemasyarakatan.

Ia menyampaikan, usia pemasyarakatan yang semakin matang harus diiringi dengan sikap yang lebih bijaksana dalam menghadapi berbagai dinamika tugas.

“Dengan usia yang sudah cukup matang ini, kami diharapkan bisa lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai permasalahan serta beban tugas ke depan. Kami juga berharap dapat menjadi insan pemasyarakatan yang lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.

Timbul memastikan, seluruh pelaksanaan tugas di lingkungan Rutan Pontianak hingga saat ini berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Pengawasan internal juga terus diperkuat melalui sosialisasi kepada seluruh petugas.

“Pelaksanaan tugas harus tetap berada dalam koridor aturan. Kami terus mengingatkan seluruh petugas agar tidak menyimpang dari SOP,” tegasnya.

Namun demikian, tantangan besar masih membayangi, terutama terkait kondisi over kapasitas. Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, mengungkapkan bahwa jumlah warga binaan yang saat ini melebihi kapasitas menjadi persoalan serius.

Ia menyebut, kapasitas ideal Rutan Pontianak yang seharusnya hanya menampung sekitar 300 orang, kini telah dihuni lebih dari 1.000 warga binaan.

“Over kapasitas ini menjadi perhatian serius. Ke depan perlu ada pembahasan lebih lanjut dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, apakah melalui penambahan fasilitas atau solusi lainnya,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti kebutuhan dasar seperti ketersediaan air bersih yang harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, koordinasi lintas instansi perlu diperkuat untuk memastikan pelayanan di dalam rutan tetap optimal.

“Kalau ada permasalahan air, kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk PDAM, agar suplai air ke lapas bisa lancar,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Rutan Pontianak tetap berupaya menghadirkan program pembinaan yang produktif bagi warga binaan. Sejumlah kegiatan kemandirian dijalankan, mulai dari produksi tempe, es batu kristal, layanan laundry, hingga barbershop.

Produk hasil pembinaan bahkan mulai dipasarkan ke luar rutan melalui kerja sama dengan pihak kepolisian serta masyarakat sekitar.

Satarudin pun mengapresiasi langkah tersebut. Ia menilai, program pembinaan yang produktif menjadi bukti bahwa rutan tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga pemberdayaan.

“Kami melihat ada komitmen yang baik dari pihak rutan, terutama dalam memberdayakan warga binaan. Ini langkah positif yang harus terus dikembangkan,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *