PONTIANAK, AKCAYA – Proses pemulangan Jemaah Haji Kalimantan Barat Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi resmi tuntas. Dengan kedatangan Kloter 18 beberapa waktu lalu, seluruh jemaah asal Kalbar yang berjumlah 1.857 orang telah kembali ke Indonesia setelah menunaikan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.

Berakhirnya proses pemulangan tersebut tidak hanya menandai selesainya perjalanan para jemaah dari Arab Saudi menuju tanah air, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 yang melibatkan kolaborasi berbagai pihak sejak masa keberangkatan hingga kepulangan.

Meski demikian, pelaksanaan haji tahun ini juga menyisakan duka. Dari total 1.857 jemaah asal Kalbar, tercatat tiga orang meninggal dunia selama proses penyelenggaraan ibadah. Sementara satu jemaah lainnya masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Madinah dan dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 30 Juni 2026 bersama Kloter BTH 25.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Kalimantan Barat, Kamaludin, mengatakan hingga saat ini belum ada hasil survei resmi mengenai tingkat kepuasan jemaah secara nasional. Namun, berdasarkan berbagai masukan yang diterima, kualitas pelayanan haji tahun ini dinilai mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

“Dari informasi yang kami terima langsung dari para jemaah, pelayanan haji tahun ini dinilai jauh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Kamaludin, peningkatan tersebut dirasakan pada berbagai aspek layanan, mulai dari transportasi, konsumsi, akomodasi hotel hingga fasilitas tenda selama pelaksanaan puncak ibadah haji.

Ia menyebut, selama penyelenggaraan haji tahun ini pihaknya tidak menerima laporan terkait tidak terpenuhinya layanan dasar yang menjadi hak jemaah.

“Tidak ada laporan seperti tidak mendapatkan makan, tidak mendapatkan hotel, atau tidak mendapatkan tenda. Baik dari petugas maupun jemaah Kalimantan Barat sendiri, kami tidak menerima laporan terkait masalah-masalah tersebut,” katanya.

Meski pelayanan dinilai semakin baik, pihaknya tetap akan melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek penyelenggaraan sebagai upaya peningkatan kualitas layanan pada musim haji mendatang.

Terkait jemaah yang wafat, Kamaludin menjelaskan bahwa satu orang meninggal dunia di Arab Saudi, satu orang saat proses kepulangan di Jeddah, dan satu orang lainnya meninggal di Debarkasi Batam.

“Satu orang meninggal di Arab Saudi, satu orang meninggal saat proses kepulangan di Jeddah, dan satu orang meninggal di Debarkasi Batam. Jadi total ada tiga jemaah yang meninggal dunia,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Rombongan Kloter BTH 15, H Muhammad Habibi Sarabiti, mengaku merasakan peningkatan kualitas pelayanan selama menjalankan ibadah haji tahun ini.

Menurutnya, sistem pelayanan yang diterapkan sejak keberangkatan hingga kepulangan membuat jemaah merasa lebih aman dan nyaman dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah.

“Alhamdulillah, sejak berangkat dari tanah air hingga kembali lagi, kami merasakan pelayanan yang sangat baik. Pemeriksaan dilakukan secara berulang dan semuanya sudah berbasis sistem. Tidak ada kekhawatiran terkait tenda, tempat tidur maupun konsumsi karena seluruh data jemaah sudah terdeteksi dengan baik,” ungkapnya.

Habibi menilai digitalisasi dan integrasi sistem pelayanan yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi turut membantu meminimalkan berbagai kendala yang selama ini kerap menjadi kekhawatiran jemaah.

Selain itu, ia juga mengapresiasi dedikasi para petugas kesehatan yang mendampingi jemaah selama berada di Tanah Suci.

“Para dokter dan seluruh petugas kesehatan telah memberikan pelayanan yang luar biasa. Mereka sangat sigap membantu jemaah sehingga kondisi kesehatan para jemaah dapat terjaga dengan baik,” sebutnya.

Di tengah pelayanan yang semakin baik, tantangan cuaca ekstrem tetap menjadi ujian tersendiri bagi para jemaah. Suhu udara yang tinggi di Makkah dan Madinah menyebabkan sebagian jemaah mengalami gangguan kesehatan ringan seperti batuk dan pilek.

“Cuaca di sana memang sangat panas. Namun Alhamdulillah semuanya dapat terkondisikan dengan baik. Walaupun ada jemaah yang mengalami batuk dan pilek, secara umum seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar,” tuturnya.

Bagi Habibi, perjalanan haji tidak hanya menjadi momentum menjalankan ibadah, tetapi juga menghadirkan banyak pelajaran hidup tentang kebersamaan, kepedulian, dan semangat saling membantu.

Menurutnya, nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan layak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah kembali ke tanah air.

“Hidup tidak bisa dijalani sendiri. Ketika kita membantu sesama hamba Allah, pertolongan juga akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Itu menjadi pelajaran yang sangat berkesan bagi saya selama berhaji,” pungkasnya.

Tuntasnya proses pemulangan jemaah haji Kalimantan Barat tahun 2026 menjadi akhir dari perjalanan fisik yang panjang sekaligus awal perjalanan baru dalam mengamalkan nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama berada di Tanah Suci. Harapannya, seluruh jemaah dapat membawa semangat haji mabrur dan menjadi teladan di tengah keluarga maupun masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *