KUBU RAYA, AKCAYA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalbar tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mendorong ekonomi kerakyatan hingga ke desa.
Program ini diperkirakan menciptakan perputaran uang lebih dari Rp16,8 miliar per hari, dengan sekitar Rp9,37 miliar dialokasikan untuk menyerap komoditas pangan lokal seperti beras, sayuran, ikan, telur, dan susu dari petani serta pelaku usaha daerah.
Ria Norsan menegaskan bahwa MBG merupakan langkah strategis menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 melalui pemenuhan gizi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Di Kalbar, program ini telah menyasar sekitar 997.745 penerima manfaat di 14 kabupaten/kota.
“Program MBG yang dicetuskan oleh Bapak Presiden RI, Prabowo Subianto, ini sangat baik untuk masyarakat Indonesia, khususnya Kalbar. Tujuannya jelas, bagaimana gizi masyarakat kita terpenuhi, mulai dari anak sekolah hingga balita, dari pelosok desa sampai kota, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang kompetitif menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Norsan saat membuka Rapat Koordinasi Sinergi Ekonomi Kerakyatan melalui Pemberdayaan BUMDes dan Koperasi dalam Penguatan Keamanan Pangan dan Cold Chain Program MBG di Aula Kantor Bupati Kubu Raya, Selasa (12/5/2026).
Norsan menekankan pentingnya penguatan rantai pasok pangan lokal melalui BUMDes dan koperasi agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat desa.
“Kita harus memperhatikan rantai pasoknya. Jangan sampai bahan pangannya berasal dari luar, padahal petani kita mampu menyediakannya. Saya meminta BUMDes dan koperasi menjadi garda terdepan dalam menyuplai kebutuhan pangan ke unit-unit pelayanan MBG,” tegasnya.
Selain rantai pasok, rapat koordinasi juga membahas penguatan infrastruktur cold chain guna menjaga kualitas dan keamanan pangan bagi para penerima manfaat.
“Kalau ada yang mengatakan MBG ini tidak baik, itu sangat keliru. Mari kita sukseskan bersama demi masa depan anak-anak kita,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nyoman Suryadnya yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa keberhasilan MBG diukur dari manfaat nyata bagi kelompok rentan dan dampaknya terhadap ekonomi desa.
“Sesuai arahan Bapak Presiden, kita harus mengutamakan kelompok rentan; mulai dari balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga peserta didik. Semua harus terlayani tanpa terkecuali,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya standar keamanan pangan dalam operasional MBG.
“Dalam operasionalnya, kita utamakan SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi), kemudian HACCP, baru setelah itu Halal. Kita ingin memastikan makanan yang dikonsumsi generasi kita benar-benar aman dan berkualitas,” tegasnya.
Nyoman turut mendorong desa-desa memetakan komoditas unggulan untuk mendukung rantai pasok MBG serta mengembangkan ekonomi sirkular melalui pengelolaan limbah produksi.
“Pengelolaan limbah yang baik dapat dimanfaatkan untuk pakan lele, pakan bebek, bahkan budidaya maggot. Jika dikelola dengan baik, ini bukan lagi menjadi masalah sampah, melainkan sumber pendapatan baru bagi masyarakat,” pungkasnya. (elp)










