MEMPAWAH, AKCAYA – Aktivitas kepelabuhanan di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, terus meningkat. Pada triwulan III 2026, kunjungan kapal tercatat mencapai 764 unit, naik 43,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 534 unit.
Peningkatan tersebut mendorong PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Pontianak memperkuat fasilitas dan layanan operasional untuk mengantisipasi pertumbuhan arus barang serta meningkatkan kelancaran logistik.
General Manager PT Pelindo Regional 2 Pontianak, Dewa Cipta Hadi, mengatakan perkembangan Pelabuhan Kijing menunjukkan tren positif seiring meningkatnya aktivitas kepelabuhanan dan kerja sama dengan sejumlah mitra strategis.
“Sejak diresmikan oleh Presiden ke-7, Bapak Joko Widodo, pada 2022, perkembangan Pelabuhan Kijing sangat pesat. Kami terus bekerja sama dengan mitra-mitra strategis untuk mengembangkan pelabuhan ini menjadi pelabuhan berstandar internasional,” ujar Dewa dalam kegiatan media gathering bersama puluhan jurnalis di Kalimantan Barat, Rabu (21/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para jurnalis juga melihat langsung aktivitas bongkar muat dan fasilitas operasional pelabuhan.
Dewa menjelaskan, Pelindo Regional 2 Pontianak mengelola lima pelabuhan, yakni Pontianak (Dwikora), Kijing, Sintete, Pemangkat, dan Ketapang. Khusus di Kijing, pengembangan difokuskan pada peningkatan kapasitas layanan, fasilitas operasional, serta pengelolaan kawasan penunjang kepelabuhanan.
Selain jumlah kunjungan kapal, ukuran kapal yang dilayani juga meningkat. Gross tonnage (GT) kapal pada triwulan III 2026 tercatat mencapai 3.249.210 GT, naik 61,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 2.011.848 GT.
Sementara itu, arus peti kemas di Terminal Kijing mencapai 2.221 TEU selama Juni hingga September 2026.
Pertumbuhan juga terjadi pada sejumlah jenis kargo. Aktivitas bongkar general cargo meningkat 316,2 persen, curah cair naik 72,1 persen, bag cargo tumbuh 13,9 persen, dan curah kering meningkat 100,5 persen dibandingkan periode pembanding.
Untuk mendukung peningkatan aktivitas tersebut, Pelindo menyiapkan dan meningkatkan fasilitas bongkar muat. Peralatan yang digunakan antara lain hopper, crane, dan reach stacker. Pelindo juga menambah fasilitas pendukung, termasuk rubber-tyred gantry (RTG) dan quay container crane (QCC).
Relokasi Jalan Nasional Ditargetkan Tuntas 2028
Di luar pengembangan fasilitas pelabuhan, Pelindo juga mendorong penyelesaian relokasi jalan nasional yang sebelumnya melintasi kawasan Pelabuhan Kijing.
Relokasi ini diharapkan memperlancar pergerakan kendaraan logistik sekaligus mendukung kelancaran operasional pelabuhan dan konektivitas transportasi darat di Mempawah.
Menurut Dewa, proses relokasi masih menunggu penyelesaian tahapan serah terima barang milik negara dari Kementerian Keuangan.
“Rencana relokasi jalan nasional saat ini sedang menunggu proses serah terima barang milik negara dari Kementerian Keuangan. Harapannya, pada akhir 2027 atau awal 2028, relokasi jalan nasional ini sudah bisa diselesaikan secara penuh,” ungkapnya.
Pengembangan Pelabuhan Kijing turut didukung kerja sama dengan sejumlah perusahaan penanaman modal dalam negeri maupun asing, di antaranya PT Pacific Bio Industry, PT Khatulistiwa Cakrawala (Apical Group), PT Energi Unggul Persada, dan PT Riya Pacific Nabati. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit dan produk turunannya.
Pelindo juga berkolaborasi dengan Mind ID Group untuk mendukung kelancaran program hilirisasi alumina. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara infrastruktur pelabuhan dan kebutuhan logistik sektor industri.
Dengan meningkatnya kunjungan kapal dan aktivitas kargo, penguatan fasilitas serta konektivitas darat menjadi bagian penting dalam pengembangan Pelabuhan Kijing. Pelindo diharapkan mampu mengoptimalkan peran pelabuhan tersebut dalam memperlancar distribusi barang dan mendukung kegiatan industri di Kalimantan Barat. (elp)









